Myanmar, negeri dengan dua mata uang

SEORANG turis yang baru masuk Myanmar diharuskan menukar 300
dollar AS dengan Foreign Exchange Certificate (FEC). Di mata uang
kertas ini tertulis: satu dollar sama dengan satu FEC. Jadi nilainya
tidak bergantung pada fluktuasi kurs dollar. Selain itu jangan lupa,
FEC ini tak bisa dikembalikan. Belanjakan semuanya atau rugi sama
sekali.

FEC memang tidak berlaku di luar Myanmar. Mata uang ini hanya
berlaku untuk turis dan orang asing. Lagi pula FEC tidak bisa
dipakai untuk membeli makanan di toko-toko biasa, kecuali di toko
besar khusus untuk turis. Bayar hotel boleh dengan FEC, tapi naik
taksi harus menggunakan mata uang lain, bernama Kyat.

Kyat (baca: cat) adalah mata uang resmi bagi penduduk Myanmar.
Jika FEC nilainya stabil, maka Kyat punya dua nilai: resmi dan
gelap. Menurut informasi, satu dollar AS resminya bernilai 6 Kyat.
Tapi jika Anda menukar dollar di pasar gelap nilainya bisa mencapai
80 sampai 100 Kyat!

Lalu pemerintah menggunakan nilai yang mana? “Kalau untuk data
resmi pakai nilai formal, tapi harga-harga di pasaran menggunakan
nilai pasar gelap,” komentar Thein Win, seorang warga Yangoon.
Nilai uang yang ganda serta berlakunya dua mata uang memang
bisa membuat pusing, tidak hanya orang asing tapi juga penduduk
setempat. Akhirnya, seperti diamati Thein Win, semua orang baik
pejabat maupun penduduk berlomba-lomba mencari dollar AS. “Saya
menyimpan dollar untuk berjaga-jaga dan membeli barang dari luar,”
kata Thein Win, direktur Topaz International Ltd.

Tambahan lain, dikabarkan ada FEC palsu beredar di masyarakat,
entah dari mana asalnya. “Yang penting pemerintah mendapatkan
dollar, tidak peduli berapa banyak FEC beredar,” ujar seorang
penduduk Yangoon. Situasi ini menambah rumit kondisi moneter yang
tampak membutuhkan suntikan lembaga keuangan internasional untuk
menjaga stabilitas harga.

    ***

BUKAN hanya mata uang yang memusingkan rakyat Myanmar. Soal
bahan bakar pun juga memberatkan. Setiap kendaraan di Myanmar hanya
mendapat jatah delapan liter seminggu.

“Mana cukup?” ujar seorang sopir taksi. Solusinya adalah
membeli bahan bakar di pasar gelap. Konon bensin yang beredar di
pasar gelap ini berasal dari para pejabat yang menjual diam-diam ke
tempat-tempat penampungan ilegal. Sejumlah pejabat ini kabarnya
sering mengambil bahan bakar dari pompa bensin resmi sebanyak-
banyaknya.

Jatah bahan bakar ini memperlihatkan dimensi lain, betapa
Myanmar masih harus bekerja keras dalam membangun ekonomi pasar ala
mereka. Tidak adanya konstitusi semakin mempersulit perkembangan
bisnis. Meskipun demikian diakui pula bahwa dalam beberapa tahun
terakhir SLORC mampu membawa perubahan fisik yang mencolok.

Jumlah kendaraan dan gedung-gedung baru di Yangoon merupakan
indikator bangkitnya kegiatan ekonomi Myanmar. Gedung baru berupa
hotel atau pusat pertokoan tampak sedang dibangun di sejumlah sudut
Yangoon. Singapura adalah salah satu negara yang aktif menanam modal
di pasar yang potensial ini.

Namun keberhasilan pembangunan fisik saat ini di Myanmar
membawa konsekuensi lain bagi rakyat. Seperti diakui Thein Win dan
banyak diplomat di Yangoon, pembangunan fisik berjalan pesat.
Namun, katanya, harga sandang dan pangan semakin tidak terjangkau.
Pesatnya harga-harga tidak berimbang dengan kenaikan pendapatan
masyarakat. Seperti diamati Suu Kyi, tingkat inflasi di Myanmar
memang sangat membahayakan.

Untuk menggambarkan betapa sulitnya ekonomi rakyat, salah satu
indikatornya adalah harga makanan. Menurut Thein yang juga diakui
Patrick Khan (penduduk muslim Myanmar), antara tahun 1987-1988,
untuk sekali makan diperlukan 10 Kyat. Pada saat itu pendapatan
normal penduduk sekitar 500 Kyat.

“Sekarang untuk sekali makan setiap orang sedikitnya
mengeluarkan 100 Kyat. Padahal gaji seorang pegawai kecil sekitar
1.000 Kyat per bulannya,” tutur Thein. Sedangkan gaji kalangan
profesional seperti dokter, insinyur, atau pengacara berkisar 5.000
Kyat lebih. Jika kurs satu dollar adalah 80 Kyat, artinya kaum
profesional cuma menerima sekitar 63 dollar sebulan.

***

SITUASI ekonomi riil kehidupan rakyat menunjukkan betapa
Myanmar masih menghadapi soal berat di bidang ekonomi. Berbagai
berita lokal yang memperlihatkan pembangunan gencar di seluruh
pelosok Myanmar belum bisa menyelesaikan soal standar hidup yang
makin menurun.

Bagi kalangan tertentu, terutama mereka yang dekat dengan
militer dan mendapat gaji dollar AS, Myanmar memang surga. Segala
kemudahan terbentang luas. Sebaliknya, dari pengamatan di jalan
menuju Bagu, misalnya, kemiskinan dan kesulitan rakyat pinggiran
sangat terasa. Sawah yang membentang luas (Myanmar terkenal sebagai
gudang padi) bahkan sekarang harus berjuang keras untuk memberi
makan rakyat.

Indikator ekonomi resmi pemerintah tidak selamanya bisa
mengukur tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi. Dengan GNP
per kapita sekitar 220 dollar AS, Myanmar tergolong negara miskin.
Lebih dari itu, pendapatan negara masih bergantung pada pertanian
dengan angka 38,3 persen. Seperti dikutip dalam Myanmar Business &
Economic Review (1994), pemasukan dari manufaktur baru 9,2 persen.
Walaupun demikian industri batu permata, turisme, dan pertanian
masih belum tergali maksimal. Indonesia sebenarnya memiliki peluang
besar masuk pasar Myanmar, tetapi saat ini pengusaha Singapura
melangkah lebih agresif.

Selain potensi alam, semangat nasionalisme di Myanmar juga
merupakan potensi besar bagi pengembangan sumber daya manusia.
“Saking tingginya nasionalisme ini, maka dulu diperintahkan semua
rakyat memakai sarung sebagai pakaian nasionalnya,” komentar Atase
Pertahanan RI Kolonel YA Hascaryo. Tak heran, bila kita melihat,
pegawai kantor, pedagang, bahkan sopir taksi sekalipun mengenakan
sarung.

Kesulitan-kesulitan ekonomi ini juga menimbulkan berbagai
persoalan bagi Myanmar untuk bergabung dengan ASEAN. Dari segi
ekonomi, penggabungan itu memerlukan perbaikan sistem perekonomian
dan dukungan keuangan internasional. Celakanya, dunia internasional
akan mendukung secara finansial bila ada perbaikan hak asasi manusia
dan demokratisasi, termasuk pembebasan tahanan politik.
Oleh sebab itulah, kemajuan ekonomi sangat bergantung pada
rekonsiliasi politik. Lebih baik lagi jika pemilu yang demokratis
sudah berlangsung, walaupun mungkin sekali dimenangkan kelompok
politik pro rezim militer. *** (Asep Setiawan)

Tulisan ini dibuat tahun 1995.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Asia Tenggara. Tandai permalink.

5 Balasan ke Myanmar, negeri dengan dua mata uang

  1. nosmokingarea berkata:

    aya aya wae… Eh iya, kalo tulisan ini dibuat tahun 1995, berarti saya belum lahir waktu itu. Kalo boleh nanya, masih punya artikel2 bagus lagi gak tentang Myanmar? Saya dikasih tugas ama guru geografi saya u/ cari info Myanmar, dan artikel ini adalah salah satu artikel terbaik yang saya temukan… Thanks before..

  2. SAMANTHA berkata:

    MSH ADKH YG PLG LNGKAP TTG PROVIL KEADAAN ALAM MYANMAR

  3. evi berkata:

    kenaph informasi keadaan ekonomi myanmar gx ada..
    tolong donk tampilkan..
    saya dapat tgs dari guru ips..
    please……….

  4. Choxi berkata:

    I have kyat and i don.t change to rupiah n0w? Have u a article about that?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s