Islam Global Politics

Perbincangan mengenai Islam dan Politik dalam tataran global menjadi sangat menarik. Sejumlah tulisan dapat disimak di halaman ini mengenai berbagai kerangka dan analisa mengenai kiprah umat Islam dalam percaturan global.

Berikut ini beberapa pendapat pakar dan ulama mengenai demokrasi yang menarik untuk didiskusikan.  Sumbernya Syariah Online.

Prinsip Demokrasi

Menurut Sadek, J. Sulaymân, dalam demokrasi terdapat sejumlah prinsip yang menjadi standar baku. Di antaranya:
• Kebebasan berbicara setiap warga negara.
• Pelaksanaan pemilu untuk menilai apakah pemerintah yang berkuasa layak didukung kembali atau harus diganti.
• Kekuasaan dipegang oleh suara mayoritas tanpa mengabaikan kontrol minoritas
• Peranan partai politik yang sangat penting sebagai wadah aspirasi politik rakyat.
• Pemisahan kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
• Supremasi hukum (semua harus tunduk pada hukum).
• Semua individu bebas melakukan apa saja tanpa boleh dibelenggu.

Pandangan Ulama tentang Demokrasi
Al-Maududi

Dalam hal ini al-Maududi secara tegas menolak demokrasi. Menurutnya, Islam tidak mengenal paham demokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. Demokrasi adalah buatan manusia sekaligus produk dari pertentangan Barat terhadap agama sehingga cenderung sekuler. Karenanya, al-Maududi menganggap demokrasi modern (Barat) merupakan sesuatu yang berssifat syirik. Menurutnya, Islam menganut paham teokrasi (berdasarkan hukum Tuhan). Tentu saja bukan teokrasi yang diterapkan di Barat pada abad pertengahan yang telah memberikan kekuasaan tak terbatas pada para pendeta.

Mohammad Iqbal
Kritikan terhadap demokrasi yang berkembang juga dikatakan oleh intelektual Pakistan ternama M. Iqbal. Menurut Iqbal, sejalan dengan kemenangan sekularisme atas agama, demokrasi modern menjadi kehilangan sisi spiritualnya sehingga jauh dari etika. Demokrasi yang merupakan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat telah mengabaikan keberadaan agama. Parlemen sebagai salah satu pilar demokrasi dapat saja menetapkan hukum yang bertentangan dengan nilai agama kalau anggotanya menghendaki. Karenanya, menurut Iqbal Islam tidak dapat menerima model demokrasi Barat yang telah kehilangan basis moral dan spiritual. Atas dasar itu, Iqbal menawarkan sebuah konsep demokrasi spiritual yang dilandasi oleh etik dan moral ketuhanan. Jadi yang ditolak oleh Iqbal bukan demokrasi an sich. Melainkan, prakteknya yang berkembang di Barat. Lalu, Iqbal menawarkan sebuah model demokrasi sebagai berikut:
– Tauhid sebagai landasan asasi.
– Kepatuhan pada hukum.
– Toleransi sesama warga.
– Tidak dibatasi wilayah, ras, dan warna kulit.
– Penafsiran hukum Tuhan melalui ijtihad.

Muhammad Imarah
Menurut beliau Islam tidak menerima demokrasi secara mutlak dan juga tidak menolaknya secara mutlak. Dalam demokrasi, kekuasaan legislatif (membuat dan menetapkan hukum) secara mutlak berada di tangan rakyat. Sementara, dalam sistem syura (Islam) kekuasaan tersebut merupakan wewenang Allah. Dialah pemegang kekuasaan hukum tertinggi. Wewenang manusia hanyalah menjabarkan dan merumuskan hukum sesuai dengan prinsip yang digariskan Tuhan serta berijtihad untuk sesuatu yang tidak diatur oleh ketentuan Allah.  Jadi, Allah berposisi sebagai al-Syâri’ (legislator) sementara manusia berposisi sebagai faqîh (yang memahami dan menjabarkan) hukum-Nya. Demokrasi Barat berpulang pada pandangan mereka tentang batas kewenangan Tuhan. Menurut Aristoteles, setelah Tuhan menciptakan alam, Diia membiarkannya. Dalam filsafat Barat, manusia memiliki kewenangan legislatif dan eksekutif. Sementara, dalam pandangan Islam, Allah-lah pemegang otoritas tersebut. Allah befirman
Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (al-A’râf: 54).

Inilah batas yang membedakan antara sistem syariah Islam dan Demokrasi Barat. Adapun hal lainnya seperti membangun hukum atas persetujuan umat, pandangan mayoritas, serta orientasi pandangan umum, dan sebagainya adalah sejalan dengan Islam.

Yusuf al-Qardhawi
Menurut beliau, substasi demokrasi sejalan dengan Islam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal. Misalnya:
– Dalam demokrasi proses pemilihan melibatkkan banyak orang untuk mengangkat seorang kandidat yang berhak memimpin dan mengurus keadaan mereka. Tentu saja, mereka tidak boleh akan memilih sesuatu yang tidak mereka sukai. Demikian juga dengan Islam. Islam menolak seseorang menjadi imam shalat yang tidak disukai oleh makmum di belakangnya.
– Usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam. Bahkan amar makruf dan nahi mungkar serta memberikan nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari ajaran Islam.
– Pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi. Karena itu, barangsiapa yang tidak menggunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak dipilih menjadi kalah dan suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang sebenarnya tidak layak, berarti ia telah menyalahi perintah Allah untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan.
– Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Contohnya dalam sikap Umar yang tergabung dalam syura. Mereka ditunjuk Umar sebagai kandidat khalifah dan sekaligus memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah berdasarkan suara terbanyak. Sementara, lainnya yang tidak terpilih harus tunduk dan patuh. Jika suara yang keluar tiga lawan tiga, mereka harus memilih seseorang yang diunggulkan dari luar mereka. Yaitu Abdullah ibn Umar. Contoh lain adalah penggunaan pendapat jumhur ulama dalam masalah khilafiyah. Tentu saja, suara mayoritas yang diambil ini adalah selama tidak bertentangan dengan nash syariat secara tegas.
– Juga kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas pengadilan merupakan sejumlah hal dalam demokrasi yang sejalan dengan Islam.

Salim Ali al-Bahnasawi
Menurutnya, demokrasi mengandung sisi yang baik yang tidak bertentangan dengan islam dan memuat sisi negatif yang bertentangan dengan Islam.
Sisi baik demokrasi adalah adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam. Sementara, sisi buruknya adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan yang haram dan menghalalkan yang haram. Karena itu, ia menawarkan adanya islamisasi demokrasi sebagai berikut:
– menetapkan tanggung jawab setiap individu di hadapan Allah.
– Wakil rakyat harus berakhlak Islam dalam musyawarah dan tugas-tugas lainnya.
– Mayoritas bukan ukuran mutlak dalam kasus yang hukumnya tidak ditemukan dalam Alquran dan Sunnah (al-Nisa 59) dan (al-Ahzab: 36).
– Komitmen terhadap islam terkait dengan persyaratan jabatan sehingga hanya yang bermoral yang duduk di parlemen. 

20 Balasan ke Islam Global Politics

  1. Adhi berkata:

    Bung Asep, anda belum memberi catatan dari Prof Tariq Ramadan, nih. Apakah dia bicara juga tentang demokrasi khususnya di Eropa, dan problematikanya dengan Islam. Jangan lupa Majalah Time menobatkan beliau sebagai salah seorang yang akan mempengaruhi dunia di abad 21 ini. Saya tunggu catatannya.

  2. Editor berkata:

    Terima kasih Mas Adi, coba nanti saya tambahkan pemikiran beliau. Namun intinya beliau menginginkan umat Islam di Eropa bukan berpikir lagi sebagai imigran tetapi terintegrasi kedalam masyarakat. Dia bukan pendatang namun seperti imigran lainnya adalah komponen masyarakat dan harus menjadi bagian didalamnya.

  3. fadly berkata:

    aSlkm,mas…
    saya rencana mau meneliti tentang “Propaganda Politik Anti Teroris AS terhadap Islam”, untuk tugas akhir saya. Saya minta tolong masukan dan saran dari mas..
    Apakah judul tersebut layak untuk diteliti? Kesediaan bahan/data-data dsb
    Lalu, mas ada bahan/literatur/referensi/tulisan gak, untuk bisa saya jadikan tambahan.. terima kasih sebelumnya ya mas.. WsLkm.. :)

  4. Editor berkata:

    Mas Fadly, topik ini sangat menarik dan banyak literatur mengenai ini. Misalnya Anda bisa cek data-data di bbc.com mengenai pernyataan Bush dan Amerika. Paper dari jurnal juga banyak sekali.
    Di Situs Foreign Policy atau World Politics, bisa didapatkan referensinya.

  5. Mulyana berkata:

    dalam wacana ini, menurut saya penting juga untuk mengutip pendapat dari Hizbut Tahrir. karena menurut saya HT sangat konsern dalam masalah ini. ditunggu!

  6. Prince berkata:

    Ass.wr.wb.
    saya rencana mau menyusun skripsi yang temanya tentang “Terorisme”. Saya minta tolong masukan dan saran dari mas..
    Apakah judul yang menarik yang layak untuk dijadikan skripsi. dan klo mas gak keberatan bisa bantu bahan/literatur/referensi/tulisan dll, untuk bisa saya jadikan tambahan… Terima kasih banyak. wassalam…..!

  7. marwan berkata:

    Salam kenal kang Asep.

    http://emarwanta.multiply.com/journal/item/11/Demokrasi_memang_kenapa

    Saya diskusi dengan teman-teman yg mencaci demokrasi, mempertentangkan demokrasi dg Islam, atau mengadu argumentasi antara demokrasi dengan khilafah. Demokrasi itu haram dan najis, sistem kufur, katanya.

    Mereka berpendapat, karena demokrasi itu filosofinya kedaulatan di tangan rakyat, bukan di tangan Allah. Kemudian juga mencela orang-orang yang terlibat dalam demokrasi (pemilu dalam sistem kenegaraan saat ini).

    Saya bertanya,”Antum percaya surga? Ingin masuk surga?” (Loh apa hubungannya surga dengan demokrasi?)

    Ketahuilah, lanjut saya, terminologi ”surga” itu dari konsep Hindu, yaitu swarga. Kalau merujuk filosofi kata surga ini, tentu sebagaimana konsep Hindu. Ini masalah aqidah, masalah akhirat. Kenapa kita enjoy saja menyebut surga utk jannah? Kenapa tidak dikatakan surga itu kufur?

    Kata surga telah menjadi terminologi umum. Orang Hindu menyebut surga dg perspektifnya. Orang Kristen juga demikian. Pun kita orang Islam, menyebut surga dg konsep dan perspektif Islam, sebagaimana jannah dalam Al Qur’an.

    Nah, kembali ke masalah demokrasi. Demokrasi itu telah menjadi terminologi umum. Demokrasi merangkum kebebasan berbicara termasuk kebebasan dalam dakwah, keadilan dsb. Ketika kita menuntut demokrasi, bukan hendak menolak kedaulatan Allah. Orang Barat berbicara demokrasi dg konteks nilai yg dianut. Kita bicara demokrasi dalam konteks nilai kita juga. Demokrasi dalam masyarakat yg sholih akankah membuat kesepakatan bathil? Jawabnya jelas: tidak akan.

    Saya bukan pengusung demokrasi, juga bukan pengecam demokrasi. Tetapi memadang bahwa demokrasi itu kontekstual, ada bingkai nilai. Demokrasi tdk dibenturkan vis a vis thd Islam.

    Kemudian yang juga menarik adalah masalah negara bangsa dan khilafah. Adakah kontradiksi negara bangsa dg Islam? Juga tentang banyaknya persepsi tentang khilafah. Insya Allah di seri selanjutnya.

  8. Samuel F. Silaen berkata:

    Nasionalisme Indonesia Yang Anti-Demokrasi: Sebuah Catatan Mengenai Mohammad Hatta Dan Pandangannya Tentang Masa Depan Papua

    Banyak kalangan di Indonesia dan juga Papua yang hanya mengenal Mohammad Hatta sebagai tokoh nasional, wakil presiden dan sekaligus proklamator kemerdekaan Indonesia. Bersama Soekarno, ia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi tidak banyak yang mengetahui sikap Hatta mengenai masa depan Papua yang bertolak belakang dengan pandangan Soekarno.

    Tokoh nasional Indonesia yang lahir di Bukit Tinggi pada tanggal 12 Agustus 1902 dengan nama Muhammad Athar ini adalah seorang tokoh nasionalis Indonesia jujur, tegas dan sederhana. Ia memang seorang nasionalis, tetapi ia tidak memandang tema besar nasionalisme dalam pandangan sempit nasionalisme yang bersifat chauvinis.

    Sebagai founding father, ia bersama Soekarno dan Syahrir menjadi tiga serangkai terkemuka yang memimpin jalannya pergerakan Indonesia sampai kemerdekaan tercapai. Bahkan sejak usia 15 tahun, ia telah aktif sebagai bendahara pada Sumatranen Bond Cabang Padang dan keterlibatannya dalam perjuangan Indonesia diteruskan ketika ia melanjutkan studinya di Belanda.

    Selama 11 tahun studi dan tinggal di Belanda, Hatta menjadi tokoh sentral dalam Perhimpunan Indonesia, keterlibatan politiknya yang aktif dalam kampanye pembebasan nasional Indonesia di Belanda, menyebabkan ia harus banyak berurusan dengan pihak kolonial Belanda.

    Pada tahun 1927, Hatta bergabung dengan sebuah organisasi yang disebut Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda. Keterlibatan Hatta dalam organisasi ini mempererat hubungannya dengan tokoh-tokoh gerakan pembebasan nasional dari wilayah jajahan lain, sebagai contoh Jawaharlal Nehru, seorang tokoh nasionalis India, yang dikemudian hari menjadi sahabat dekatnya. Aktivitasnya dalam organisasi ini menyebabkan Hatta ditangkap pemerintah Belanda namun akhirnya dibebaskan, setelah melakukan pidato pembelaannya yang terkenal: Indonesia Free didepan sidang pengadilan kolonial Belanda.

    Nasionalisme Dalam Pandangan Hatta
    Tidak dapat dipungkiri bahwa Hatta adalah salah seorang tokoh yang dengan gigih memperjuangkan Indonesia Merdeka, sejarah Indonesia membuktikan hal ini. Tetapi dalam membangun semangat nasionalisme Indonesia, Hatta tetap berprinsip pada sikap-sikap nasionalisme yang plural dan egaliter.

    Penolakan Hatta yang tegas terhadap usaha dimasukannya ‘Syariat Islam’ dalam mukadimah dan batang tubuh UUD 45 yang didorong oleh golongan Islam, menunjukkan sikap tegas Hatta akan pandangannya mengenai nasionalisme yang egaliter dan plural. Hatta adalah seorang muslim yang taat, tetapi ia tidak hendak mengorbankan nilai-nilai agama yang lebih berifat personal kedalam bangunan kesadaran nasionalime Indonesia, yang tentunya akan memancing perpecahan didalam kesadaran nasional baru akan dibangun. Oleh karenanya kompromi yang, dalam pandangan Hatta, paling mungkin diterima oleh berbagai berbagai golongan di Indonesia dalam membangun nasionalisme bersama adalah nasionalisme yang egaliter dan plura tanpa prasangka agama didalamnya.

    Sejak awal Hatta telah berpandangan bahwa basis dasar bagunan nasionalisme Indonesia haruslah egaliter dan plural. Sikap egalitarian dan plural itu pula yang ditunjukan Hatta mengenai pandangannya tentang Papua, yang menurutnya, juga punya kesempatan yang sama dengan Indonesia dalam hal membangun masa depannya sendiri.

    Sejak awal Bung Karno sudah memiliki pandangan yang chauvinis dalam membangun kesadaran nasional Indonesia, sifat chauvinis Soekarno semakin mengental ketika diterapkannya sistem demokrasi terpimpin, setelah mundurnya Hatta dalam jabatannya sebagai wakil presiden Indonesia pada tahun 1956.

    Bolehlah dikatakan, dalam hal nasionalisme, Soekarno mampu mengatasi Hatta dalam hal sifat-sifat chauvinistiknya, tetapi perlu dicatat bahwa dalam hal demokrasi, Hatta mampu mengatasi Soekarno.

    Demokrasi Dalam Pandangan Hatta
    Pada sebuah artikel yang ditulis oleh seseorang dengan nama samaran “Si Rakyat” dalam majalah Persatoean Indonesia mengenai demokrasi menghasilkan sebuah polemik hangat dengan Hatta. Si Rakyat, dalam tulisannya, mengkritik penggunaan nama Volkssouvereiniteit sebagai bahasa Belanda dan mengatakan bahwa demokrasi Indonesia adalah barang impor. Sebagai balasannya, Hatta kemudian menulis: “…perkataan ‘demokrasi’ yang dipakai oleh Si Rakyat tidak asli. Perkataan itu juga import!… Partai-partai Indonesia disuruh memakai semboyan ‘Demokrasi Indonesia’…” Sebagai contoh disebutnya pengertian demokrasi di Minangkabau: Sepakat, ia mengutip suatu pepatah Minangkabau, yaitu: ‘Kemenakan beraja (tunduk seperti diperintah raja-Pen) ke mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke mufakat’. Mufakat siapa? Bukan mufakat rakyat, melainkan mufakat penghulu saja. … sudah banyak benar sekarang jumlah kemenakan yang tiada mau lagi ‘beraja’ ke mamak dan penghulu….” (Mohammad Hatta, Kumpulan Karangan).

    Bandingkan penggunaan istilah musyawarah – mufakat, yang oleh Soekarno diklaim sebagai demokrasinya Indonesia, yang dalam prakteknya, sudah dikritik oleh Hatta karena tidak melibatkan partisipasi rakyat secara umum. Musyawarah-Mufakat adalah demokrasinya para pemimpin dan bukan dilahirkan oleh rakyat. Demokrasi feodal seperti inilah, yang ditentang oleh Hatta.

    Dalam kasus Papua, bisa dibandingkan pula dengan proses penentuan pendapat rakyat (Pepera 1969) yang berpangkal pada apa yang disebut musyawarah-mufakat. Dalam peristiwa tersebut, asas-asas demokrasi universal dilikuidasi dan digantikan dengan pola musyawarah mufakat. Pernyataan bebas memilih bagi rakyat Papua yang diatur dalam New York Agreement untuk menentukan masa depannya dengan prinsip “one man, one vote” seperti layaknya asas-asas demokrasi yang berlaku universal tidak dipakai. Yang terjadi adalah mobilisasi terhadap segelintir orang Papua untuk dilibatkan dalam proses politik yang maha penting ini. Pepera 1969 hanya melibatkan 1025 orang Papua untuk mewakili 800.000 jiwa penduduk Papua saat itu untuk menentukan pendapat apakah bergabung dengan NKRI atau lepas dari NKRI sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka.

    Dalam hal menegakkan prinsip-pinsip demokrasi, Hatta bersikap tegas. Ketika demokrasi sudah tidak lagi diindahkan oleh Soekarno dalam menjalankan pemerintahan di Indonesia, Hatta tidak lagi bersimpati dan mengundurkan diri pada tahun 1956 dalam posisinya sebagai wakil presiden. Soekarno kemudian menganjurkan apa yang disebutnya “demokrasi terpimpin” dalam praktek politik pemerintahannya di Indonesia.

    Mengenai ini, Hatta mengatakan: “Apa yang terjadi sekarang ialah krisis daripada demokrasi. Atau demokrasi dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaannya, lupa syarat-syarat hidupnya dan melulu menjadi anarki, (yang) lambat laun digantikan oleh diktator. Ini adalah hukum besi dari sejarah dunia!” (Sri Edi Swasono dan Fauzie Ridjal (penyunting), Mohammad Hatta: Beberapa Pokok Pikiran)

    Deliar Noer dalam bukunya Mohammad Hatta: Biografi Politik menulis pada tanggal 11 Juni 1957 Hatta menegaskan, “Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita sosialnya…. Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara pimpinan yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya. Korupsi harus diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. Jika tiba di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Demoralisasi yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya berangsur-angsur dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada perbaikan nasib.”

    Krisis multi dimensi yang lahir belakangan ini adalah sebuah produk dari kurang cermatnya pemimpin politik Indonesia menata negara ini berlandaskan sistem demokrasi yang benar. Anarki social, seperti yang dibayangkan Hatta, memang telah terjadi. Pada masa Soekarno dengan “demokrasi terpimpin” yang dianutnya menyebabkan Indonesia pada akhirnya terjerumus dalam anarki social dengan pecahnya huru-hara politik paling mengerikan pada tahun 1965, suatu masa dimana Soekarno, yang telah 20 tahun menjabat sebagai presiden, harus meletakkan jabatannya dan menjalani hidup sebagai tahanan politik yang dilakukan regime baru terhadap dirinya sampai akhir hayatnya.

    Hal sama terjadi pada pemerintahan dictator militer Soeharto, yang berhasil menguasai kendali pemerintahan selama 30 tahun setelah tumbangnya Soekarno. Demokrasi Pancasila, seperti yang dijalankan oleh pemerintahan Soeharto, adalah merupakan demokrasi semu, yang tidak mencerdaskan kehidupan berdemokrasi rakyat dan dijalankan dengan menggunakan pendekatan militeristik. Kombinasi antara demokrasi Pancasila yang semu dan penggunaan kekuatan militer dalam menjalankan kekuasaan telah melahirkan begitu banyak masalah. Lawan-lawan politik diteror, diintimidasi dan bahkan dibunuh. Banyak daerah yang melimpah sumber daya alamnya dikuras oleh Soeharto dan kroni-kroninya yang korup serta diamankan oleh militer Indonesia yang menjadi tulang punggung pemerintahannya.

    Hal tersebut mengakibatkan banyak daerah melakukan perlawanan karena sentralisasi kekuasaan ekonomi dan politik yang tidak adil. Sebuah praktek dimana demokrasi tidak bermakna. Papua bergolak! Hasilnya operasi militer terjadi dan terpampanglah reklame buruk pelanggaran HAM yang diciptakan militer Indonesia sepanjang masa pemerintahan Soeharto. Hal sama terjadi pada rakyat Acheh, perlawanan para petani di Badega (Garut, Jabar), peristiwa Kedungombo di Solo (Jawa Tengah), peristiwa Warsidi di Lampung, peristiwa Tanjung Priok di Jakarta dan terakhir peristiwa penculikan dan pembunuhan aktivis-aktivis mahasiswa, buruh dan tani sepanjang tahun 1996 hingga munculnya proses reformasi pada tahun 1998. Anarki social kembali muncul, kelompok etnis tertentu menjadi incaran pembantaian dan perkosaan massal oleh kelompok-kelompok sempalan politik tertentu yang masih tetap menginginkan status quo dan berhasil memprovokasi rakyat yang lapar dan marah. Akhir dari kisah reformasi adalah tumbangnya Soeharto. Semua hal diatas terjadi, sekali lagi, hanya karena tidak becusnya penerapan demokrasi yang merakyat. Sampai disini Hatta, sebagai seorang negarawan yang bijak, telah memberikan arti sesungguhnya dalam pemaknaan dan pelaksanaan sebuah demokrasi yang benar.

    Masalah Papua Dalam Pandangan Hatta
    Dalam sidang-sidang Badan Persiapan Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI yang berlangsung pada tanggal 10 – 11 Juli 1945 terdapat silang pendapat antara tokoh-tokoh nasional Indonesia. Soekarno dan Moh. Yamin berpendapat Papua adalah bagian integral Indonesia berdasarkan klaim sejarah Majapahit dan Tidore, sehingga mutlak dimasukan sebagai bagian dari Indonesia, sementara tokoh-tokoh politik seperti Moh. Hatta dan Sutan Syahrir lebih menekankan sisi kemanusiaan dengan menggunakan nilai-nilai demokrasi dalam penyelesaian masalah Papua.

    Hatta berpendapat Papua merupakan sebuah entitas bangsa dengan kebudayaan Melanesia yang dominan dan tidak seharusnya menjadikan Indonesia mengabaikan begitu saja fakta sosiologis ini. Sebagai sebuah entitas bangsa, rakyat Papua juga punya hak untuk menentukan masa depannya sendiri sama seperti Indonesia.

    Dalam perdebatan-perdebatan BPUPKI itu Hatta berkata: “Saya sendiri ingin menyatakan bahwa Papua sama sekali tidak usah dipusingkan, bisa diserahkan kepada Bangsa Papua sendiri. Saya mengakui bahwa Bangsa Papua juga berhak menjadi bangsa yang merdeka, akan tetapi Bangsa Indonesia untuk sementara waktu, yaitu dalam beberapa puluh tahun, belum sanggup, belum mempunyai tenaga yang cukup untuk mendidik bangsa Papua, sehingga menjadi bangsa yang merdeka.”

    Silang pendapat mengenai Papua antara Hatta disatu pihak dan Soekarno – Yamin dipihak lain tidak terkompromi, sehingga dalam sidang BPUPKI dimunculkan beberapa opsi mengenai wilayah kedaulatan Indonesia, beberapa opsi yang ditawarkan untuk divoting adalah sebagai berikut; Pertama, yang disebut Indonesia adalah bekas jajahan Hindia Belanda dahulu; Kedua, yang disebut Indonesia adalah Hindia Belanda, Malaka (Malaysia), Borneo Utara (Brunei dan Sabah), Papua, Timor-Portugis (sekarang Republik Demokratik Timor) dan kepulauan sekitarnya; Ketiga, yang disebut Indonesia adalah Hindia Belanda Dahulu ditambah Malaka tanpa memasukkan Papua.

    Dari ketiga opsi tersebut, dihasilkan voting dari 66 anggota BPUPKI sebagai berikut; 16 suara mendukung opsi nomor satu, 39 suara mendukung opsi nomor dua, dan 6 suara mendukung opsi nomor 3, dengan demikian, sejak awal, tidak saja Papua tetapi juga Timor – Portugis, yang sekarang sudah merdeka, Malaysia dan Brunai Darussalam juga dimasukan dalam imajinasi teritorial nasional yang hendak dibangun oleh nasionalis Indonesia.

    Tidak hanya disitu, sikap Hatta yang tegas ditunjukkannya saat terjadinya pertemuan antara pemimpin Indonesia Merdeka, yaitu Soekarno dan Hatta, dengan pimpinan militer Jepang di Saigon, Vietnam, pada tanggal 12 Agustus 1945.

    Dalam kesempatan ini, Mohammad Hatta masih memegang teguh prinsipnya mengenai masa depan bangsa Papua. Hatta menyatakan “…bangsa Papua merupakan ras Negroid, bangsa Melanesia, maka biarlah bangsa Papua menentukan masa depannya sendiri…”

    Pandangan Hatta mengenai Papua didepan pimpinan militer Jepang di Saigon waktu itu bertolak belakang dengan pandangan Soekarno yang mengatakan bahwa bangsa Papua masih primitif sehingga tidak perlu dikaitkan sama sekali dengan usaha-usaha persiapan kemerdekaan yang sedang dilakukan tokoh-tokoh nasional Indonesia.

    Pada awal tahun 1960-an gagasan Soekarno untuk mengganyang Malaysia disambut dengan mobilisasi militer Indonesia secara besar-besaran. Lahirlah gerakan Dwikora yang membenarkan mobilisasi rakyat untuk kepentingan politik Soekarno yang agresif itu. Hal sama terjadi dalam kasus Papua. Pada tanggal 19 Desember 1961 Soekarno menggelar rapat akbar di Alun-alun Utara Yogyakarta yang melahirkan gerakan Trikora dalam rangka pendudukan Papua. Dwikora tidak berhasil secara politik, tetapi gerakan Trikora yang dilancarkan Soekarno pada akhirnya berhasil. Unjuk kekuatan milter dan diplomasi politik dalam gerakan Trikora menjadi dua kunci sukses yang berhasil dikombinasikan oleh Soekarno dalam rangka pendudukan dan penguasaan Papua.

    Barangkali dalam konteks ini Soekarno hendak menjabarkan dan mempraksiskan hasil-hasil sidang BPUPKI pada tanggal 10 dan 11 Juli 1945, dimana dalam sidang BPUPKI itu, mayoritas anggota menyetujui sebuah usulan mengenai blue print imaginasi batas-batas teritori nasional Indonesia merdeka yang harus meliputi daerah-daerah bekas jajahan Hindia Belanda termasuk Malaka (sekarang Kerajaan Malaysia), Borneo Utara (sekarang Kesultanan Brunai Darussalam), Papua, Timor Portugis (sekarang Republik Demokratik Timor) dan pulau-palau sekitarnya.

    Pada masa pemerintahan Soekarno, Indonesia berhasil menguasai Papua secara de facto melalui proses integrasi yang terjadi pada tanggal 1 Mei 1963 dan secara de jure dimasa pemerintahan Soeharto melalui proses Pepera 1969. Dua peristiwa politik penting yang masih digugat oleh rakyat Papua sampai saat ini. Lahirnya perlawanan rakyat Papua melalui Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam menentang proses pendudukan Indonesia atas Papua adalah merupakan refleksi kekecewaan politik atas berbagai ketidakadilan yang terjadi.

    Barangkali, pada masa-masa dimana dua peristiwa politik penting yang dikemudian hari telah merubah nasib dan keadaan politik sesungguhnya di Papua itu, Hatta melihat dari jauh tanpa bisa berbuat lebih banyak seperti yang pernah ia lakukan pada masa-masa awal persiapan kemerdekaan Indonesia. Barangkali juga pada saat itu, Hatta dengan kesederhanaan jiwanya itu sedang menerawang kegelisahan jiwa rakyat Papua yang gundah gulana akibat konflik politik antara Indonesia dan Belanda yang pada akhirnya telah menjadikan rakyat Papua sebagai korban dari kemunafikan dan arogansi kekuasaan yang sewenang-wenang. Rakyat Papua tentu masih menanti orang seperti Hatta yang mampu menyelami jiwa dan pikiran mereka, tidak saja dalam pemikiran dan perkataan, tetapi juga dalam tindakan nyata.
    (cut off from Mambri Batoga)

  9. Editor berkata:

    Terima kasih atas sumbangan artikelnya. Mengenai terorisme memang banyak sekali bukunya. Dalam salah satu buku teks disebutkan bahwa teroris merupakan aktor non negara (non state actors) dalam hubungan internasional. Jadi dalam kerangka teoritis aksi non negara ini seperti halnya LSM bisa ditempatkan secara tepat dan dari situ mulai pembahasannya kemudian baru beranjak ke paparan empiris.

  10. Samuel F. Silaen berkata:

    indonesia adalah negara kepulauan dan sangat indah, subur serta penuh dengan kekayaan alam terkandung didalamnya. indonesia yang kaya tapi miskin mengapa dmikian? mari kita carikan jawaban dan solusi alternatif atas smua permasalahan tsb. indonesia ini hanya perlu dipegang dan dipimpin oleh orang2 yg bertanggung-jawab dan mempunyai wawasan kebangsaan yang tinggi, penuh rasa memiliki bahwa indonesia ini adalah milik seluruh anak bangsa hari, esok dan yang akan lahir nantinya. indonesia akan tetap ada apabila ada rasa aman, kebersamaan dan tdk ada rasa saling curiga satu dgn yang lain. indonesia hrs dibangun dgn kemajemukan, artinya indonesia ini penuh dgn warna-warni suku, etnis, ras dan agama.

    agama seharusnya memberikan panduan rohani dan jasmaniah kepada kebaikan dan kesalehan hidup yg pluralis. bahwa indonesia tdk akan pernah ktika waktu pembentukan bangsa saling memaksakan kehendak.

    kita patut bersyukur dan skaligus belajar serta mengikuti teladan hidup para pemimpin yg juga skaligus pendiri bangsa ini. mengapa indonesia hari-hari bgitu menderita? krn adanya perlakuan dan sikap dualisme seorang pemimpin, yg hanya memikirkan kelompok dan golongannya. kalau saja indonesia dibangun atas kompetensi dan kualitas diri pribadi yg sdh matang dan berpengalaman, maka niscaya percepatan pembangunan bangsa akan sgera menemui titik terang. bahwa ktika kita memimpin hendaknya hrs berada dismua pihak, golongan dan etnis serta agama. adanya perlakuan yg diskriminatif itu akan melahirkan luka bathin dan perasaan tertolak, coba bayangkan apabila ada anak yg hidupnya tertolak dari keluarganya, maka apa yang terjadi? mari kita renungkan dan jawab didalam hati kita masing2 spy itu menjadi panduan yang menuntun hidup kita kepada hidup yang berkualitas pribadi yg sempurna, meskipun memang tdk ada pribadi yg sempurna.. ya minimal menjadi pemimpin baik buat smua yg dipimpin2nya.

  11. primapunya berkata:

    salam kenal pak, bolehkah saya memasang banner untuk saya pasang di web saya ?

    mohon tanggapannya yah :D

  12. primapunya berkata:

    salam kenal pak, bolehkah saya memasang banner untuk saya pasang di web saya ? terima kasih sebelumnya pak

    mohon tanggapannya yah :D

  13. putra lampa berkata:

    assalamu’alaikum wr wb…..
    semoga makalah ini menjadi perhatian bagi anda sekalian..
    بسم الله الرحمن الر حيم

    إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ
    فَلاَ هَادِيَ لَهُ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ

    يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

    يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا , يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
    أَمَّا بَعْدُ
    خَيْرُ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرُ الْهُدىِ
    هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهاَ، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    HAKEKAT DEMOKRASI PANCASILA

    Wahai saudara-saudariku sesama muslim yang menginginkan keselamatan bagi diri dan keluarganya ….… kami bermaksud mengajak kalian untuk sama-sama saling mengingatkan kepada kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw dengan menyandarkan penjelasan dari para ulama yang diantaranya sudah sangat terkenal dikalangan ahli serta penuntut ilmu tentang keshahihan aqidah dan keilmuannya dan begitu pula keshalehan serta perjuangannya, yangmana para ulama tersebut mendasarkan kesimpulan-kesimpulan mereka dengan mengacu pada dalil-dalil yang muhkamat tentang bagaimana caranya agar supaya orang-orang yang beriman dapat menyelamatkan diri dan keluarganya dari ancaman serta azab Allah Ta’aalaa, yang ternyata setiap orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir harus mengawali langkah perjalanan agama Allah Ta’aalaa ini dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk memahami awal dan sekaligus merupakan inti dakwah para rasul ‘alaihimussalaam, yangmana jika awal dan sekaligus inti dakwah para rasul tersebut belum atau bahkan sama sekali tidak difahami dengan benar, maka ketidak fahaman tersebut akan menjadi faktor penyebab utama yang sangat mengerikan akibatnya bagi diri beserta keluarga yang bersangkutan.

    Berdasarkan penjelasan para ulama yang mengacu kepada dalil-dalil muhkamat yang insyaAllah sebagiannya akan kita temukan dalam paparan berikut ini, telah memberikan kesimpulan bahwasanya awal dan sekaligus inti dakwah para rasul, sejak nabi Nuh as hingga Muhammad Rasulullah saw adalah mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan pada saat yang sama mengingkari dan berlepas diri dari seluruh peribadahan atau penuhanan kepada selain Allah dengan segala macam bentuk dan tata-caranya. Para rasul ‘alaihimussalam tersebut mengajak untuk menghambakan diri dengan tunduk patuh berserah diri hanya kepada Allah dan pada saat yang sama menjauhi seluruh thaghut. Sedangkan thaghut adalah apa saja yang disembah atau dipertuhankan selain Allah Ta’aalaa dengan segala macam bentuk dan tata-caranya.

    Di dalam kitab-kitab tauhid kita temukan keterangan para ulama yang sebagian dari mereka menamakan inti dakwah para rasul tersebut dengan sebutan Tauhid Uluhiyah yang merupakan sebagai batas pemisah yang paling fundamental atau yang paling mendasar serta paling jelas antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir & musyrik. Batas pemisah antara orang-orang yang benar keimanannya dengan orang-orang munafik dan batas pemisah antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang dihukumi (berdasarkan dalil-dalil yang muhkamat) sebagai orang murtad, walaupun yang bersangkutan masih mengaku beriman atau beragama Islam dan tetap melakukan berbagai ibadah wajib secara konsisten.

    Ulama juga mengatakan bahwa pokok dan landasan agama Islam, tiang dan inti keimanan adalah Tauhidullah Ta’aalaa yang dengannya Allah mengutus para rasul, dan dengannya Allah menurunkan kitab-kitab yang merupakan penerangan serta petunjuk kepada jalan keselamatan, kitab-kitab yang penuh dengan kebijaksanaan serta keadilan.

    Keterangan para ulama yang menyebutkan bahwa inti dakwah para rasul tersebut adalah Tauhid Uluhiyah, yaitu mengajak untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan pada saat yang sama mengingkari dan berlepas diri dari seluruh peribadahan kepada selain Allah dengan segala macam bentuk dan tata-caranya, atau mengingkari dan berlepas diri serta menjauhi seluruh thaghut, maka keterangan tersebut adalah berdasarkan sekian banyak ayat-ayat Allah Ta’aalaa yang muhkamat serta hadits-hadits shahih Rasulullah saw, yang diantaranya sebagaimana firman Allah berikut ini :

    وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ
    Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)

    وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ
    Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS. 21:25)

    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي اْلأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
    Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 16:36)

    وَسْئَلْ مَنْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رُّسُلِنَآ أَجَعَلْنَا مِن دُونِ الرَّحْمَنِ ءَالِهَةً يُعْبَدُونَ
    Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan ilah-ilah untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah”. (QS. 43:45)

    وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ {25} أَن لاَّتَعْبُدُوا إِلاَّاللهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ
    Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, (QS. 11:25) agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan”. (QS. 11:26)

    الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ ءايَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ {1} أَلاَّتَعْبُدُوا إِلاَّ اللهَ إِنَّنِي لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ
    Alif Laam Raa’,(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, (QS. 11:1) agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu daripada-Nya, (QS. 11:2)

    Kepada Ahlul Kitab-pun yang beragama dengan agama yang datang dari Allah Ta’aalaa, yang mana tentu saja mereka beribadah kepada Allah, namun Allah masih memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk mendakwahkan tauhidullah. Hal ini memberikan pengertian bahwa tauhid yang mereka miliki telah rusak, karena ternyata disamping mereka beribadah kepada Allah, namun mereka juga beribadah kepada selain Allah, termasuk beribadah kepada sesama manusia, yaitu beribadah kepada ulama serta para rahib mereka. Allah berfirman :

    قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَآءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
    Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. 3:64)

    Di dalam kitab tauhid yang disusun oleh syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah, pada bab.5 dikutip sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim, dimana disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw mengutus seorang sahabat bernama Mu’adz ra ke Yaman, beliau saw bersabda (artinya) : “Sungguh , kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah pertama kali da’wah yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat ‘La ilaha illallaah’ – dalam riwayat lain disebutkan ‘Supaya mereka mentauhidkan Allah’. Jika mereka telah mematuhi apa yang kamu da’wahkan itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mematuhi…………..” RS. no.213

    Sehubungan dengan kewajiban beribadah kepada Allah Ta’aalaa saja dan larangan menyekutukan-Nya, kita temukan relatif cukup banyak hadits shahih Rasulullah saw, yang diantaranya adalah sabda beliau saw berikut ini :

    وعن معاذ بن جبل رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال: كنت ردف النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم على حمار فقال: قلت: اللَّه ورسوله أعلم. قال: فقلت: يا رَسُول اللَّهِ أفلا أبشر الناس؟ قال: مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
    Dari Mu’adz ibn Jabal ra, dia berkata: Saya naik membonceng Nabi saw di atas himar, maka Rasulullah saw bersabda: “Ya Mu’adz, apakah kamu mengetahui apa hak Allah atas hambaNya dan apa hak hamba atas Allah?” Saya katakan: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas hamba adalah mereka wajib menyembah-Nya dan tidak menyekutukan Allah dengan apapun. Sedangkan hak hamba atas Allah yaitu Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya sedikitpun” Maka saya katakan: Wahai Rasulullah apakah boleh saya memberi kabar gembira ini kepada orang-orang? Beliau bersabda: “Jangan beritahukan kepada mereka nanti mereka bergantung kepadanya (sehingga malas beramal, pent)”. (HR. Bukhari dan Muslim). RS. no.431

    Beliau saw juga bersabda :

    وعن عبادة بن الصامت رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
    Dari Ubadah Ibn Ash Shamit ra, dia berkata: ”Bersabda Rasulullah saw: ”Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah, RasulNya, dan bahwasanya Isa adalah hamba Allah, RasulNya, kalimatnya yang dilontarkan kepada Maryam, dan ruh dari padaNya, dan sesungguhnya surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, maka Allah memasukkannya ke dalam surga, apa saja amal perbuatan yang ada padanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) – RS.no.417

    وعن جابر رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال جاء أعرابي إلى النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم فقال: يا رَسُول اللَّهِ ما الموجبتان؟ قال: رَوَاهُ مُسلِمٌ.
    Dari Jabir ra, dia berkata: Nabi saw bersabda : “Barangsiapa meninggal dunia, tidak menyekutukan Allah sedikitpun maka pasti masuk surga dan barangsiapa meninggal dunia menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun pasti masuk neraka.” (HR. Muslim) RS. no.419

    Berdasarkan begitu banyaknya nash-nash muhkamat yang dijadikan hujjah, maka sudah seharusnya para pengkaji ilmu tauhid, atas izin Allah, akan mendapatkan kemudahan untuk mencerna serta memahami nash-nash tersebut diatas berdasarkan penjelasan dari para ulama yang insyaAllah beberapa diantaranya akan kami kutipkan, dimana kesimpulannya adalah bahwasanya sebagai tolok ukur kebenaran iman seseorang, maka salah satu persyaratan mutlak dan sekaligus merupakan persyaratan pertama yang harus dia penuhi adalah pengingkaran terhadap seluruh peribadahan atau penuhanan kepada selain Allah dengan segala macam bentuk dan tata-caranya, yang tentu saja termasuk peribadahan dengan cara peng-agung-an, ketaatan atau ketunduk-patuhan, dan juga kecintaan.

    Kesimpulan tentang persyaratan mutlak tersebut dapat di temukan di dalam kitab-kitab tauhid, terutama pada bab atau bahasan tentang Tauhid Uluhiyah, dimana diantara perkataan para ulama adalah :

    – Iman seseorang tidak akan sah hingga dia kufur kepada thaghut,
    – Seseorang itu tidak mungkin beriman kepada Allah hingga dia kufur terhadap thaghut,
    – Kafir kepada thaghut adalah salah satu rukun tauhid, jika rukun ini tidak ada, ia tidak dianggap bertauhid,
    – Allah menjadikan kufur kepada thaghut sebagai syarat sah keimanan. Jika syarat ini (kufur kepada thaghut) hilang atau tidak ada, maka batal-lah manfaat keimanan,
    – Ibadah kepada Allah tidak terwujud kecuali dengan mengingkari thaghut.

    Kesimpulan yang sangat jelas tersebut diatas, telah memberikan informasi yang jelas pula kepada kita bahwa ketika seseorang yang mengaku sebagai seorang muslim ingin menapaki jalan agama, maka langkah pertama yang mutlak wajib ditapakinya adalah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengingkari seluruh peribadahan atau penuhanan kepada selain Allah dengan segala macam bentuk dan tata caranya atau dengan kata lain mengingkari seluruh thaghut, dan pada saat yang sama berusaha beribadah hanya kepada Allah saja. Jika langkah pertama tidak ditapaki maka langkah-langkah berikutnya tidak akan pernah terealisasi, tidak pernah akan terwujud dan berbagai ibadah serta amal ‘shaleh’ yang dilakukan sama sekali tidak memberikan manfaat bagi para pelakunya. Ibadah serta berbagai amal tersebut menjadi bagaikan abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Simaklah firman Allah berikut ini :

    قُلْ أَفَغَيْرَ اللهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ {64} وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِّنَ الْخَاسِرِينَ {65} بَلِ اللهَ فَاعْبُدْ وَكُن مِّنَ الشَّاكِرِينَ {66}
    Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?” (QS. 39:64) Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. 39:65) Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. 39:66)

    مَّثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَّيَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلاَلُ الْبَعِيدُ
    Orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia).Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (QS. 14:18)

    Sekali lagi….. firman Allah, hadits Rasulullah saw serta penjelasan para ulama tersebut diatas telah memberikan kesimpulan yang sangat jelas, sangat gamblang bahwa segala ibadah serta amal yang dilakukan oleh seseorang, namun tanpa diawali atau disertai dengan pengingkaran atau pengkufuran terhadap seluruh thaghut serta berlepas diri darinya, tanpa diawali atau disertai dengan pengingkaran atau pengkufuran terhadap seluruh peribadahan atau penuhanan kepada selain Allah serta berlepas diri darinya, maka seluruh amal orang tersebut akan sia-sia. Seluruh amal yang dilakukannya tidak akan bernilai disisi Allah Ta’aalaa, seperti segala amalan yang dilakukan oleh orang-orang kafir atau orang-orang musyrik atau orang-orang munafik, begitu pula orang-orang yang dihukumi sebagai orang murtad, walaupun mereka mengaku sebagai orang Islam atau orang beriman.

    ========!!!=======

    Sehubungan dengan topik bahasan kita kali ini dengan judul ”Apakah dibenarkan kita ikut mencontreng ?”, maka kami ingin mengawalinya dengan mengutip rangkaian firman Allah berikut ini :

    فَاعْبُدُوا مَاشِئْتُم مِّن دُونِهِ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلاَّ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ {15} لَهُم مِّن فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِّنَ النَّارِ وَمِن تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللهُ بِهِ عِبَادَهُ يَاعِبَادِ فَاتَّقُونِ {16} وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَن يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ {17} الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللهُ وَأُوْلَئِكَ هُمْ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ {18}
    Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia. Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat”. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. 39:15) Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertaqwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. (QS. 39:16) Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, (QS. 39:17) yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal. (QS. 39:18)

    Berdasarkan rangkaian ayat-ayat tersebut diatas, maka kita temukan informasi yang sangat jelas tentang nasib yang akan dialami oleh dua kelompok manusia, yaitu; pertama adalah orang-orang yang telah merugikan diri dan keluarganya dengan mendapatkan azab yang sangat mengerikan karena mereka menyembah kepada selain Allah, atau menyembah thaghut, sedangkan kelompok kedua adalah orang-orang yang memperoleh berita gembira dari Allah karena mereka telah berhasil menjauhkan diri mereka dari thaghut.

    Oleh sebab itulah, jika kita memang menginginkan untuk dimasukkan kedalam kelompok orang-orang yang akan memperoleh berita gembira dari Allah, maka sudah saatnya kita memulai untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini yang kita alamatkan kepada diri serta keluarga kita masing-masing :

    – Apakah kita sudah berusaha untuk mendapatkan penjelasan yang komprehensif tentang thaghut, termasuk macam-macam thaghut yang menurut ulama, relatif cukup banyak jumlahnya, yang diantaranya adalah penguasa thaghut dan hukum thaghut ? dan …
    – Apakah kita sudah berusaha untuk mengingkari serta berlepas diri dari seluruh thaghut (QS.2:256), atau justru sebaliknya mengimani thaghut ? – (QS.4:51), dan ……
    – Apakah kita telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadikan Allah Ta’aalaa sebagai Pelindung atau justru sedang “merasa nyaman” berada dibawah perlindungan para thaghut ? – (QS.2:257), dan ……
    – Apakah karena kejahilan kita, maka tanpa disadari kita justru menjadi pendukung serta pembela thaghut ? (QS.4:76), dan …..
    – Apakah kita telah berusaha mengajak diri serta keluarga untuk menjauhi thaghut (QS.39:17) atau justru sebaliknya, sedang mendekat serta “bermesraan” dan “berkasih sayang” dengan para thaghut ? dan …
    – Apakah kita telah memiliki kesadaran dan usaha untuk memposisikan diri dan keluarga untuk berjuang di jalan Allah, atau justru sedang berjuang di jalan thaghut ? – (QS.4:76), ….atau…..
    – Apakah justru ada diantara anggota keluarga kita yang sedang dalam proses untuk menjadi salah satu thaghut ? Na’uudzubillaah.

    Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya bahwasanya orang-orang yang berusaha untuk menyelamatkan diri ketika menghadap Allah Ta’aalaa adalah orang-orang yang mengawali langkah agamanya dengan usaha untuk menjauhi seluruh thaghut.
    Diantara thaghut yang pada saat sekarang ini paling banyak menghancurkan tauhid kaum muslimin adalah thaghut yang berhubungan dengan kekuasaan atau pemerintahan dan hukum, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama yang berusaha untuk menapak-tilasi jalan para salafush shaleh dengan mengacu kepada dalil-dalil yang muhkamat.

    Wahai saudara-saudariku para pengkaji ilmu tauhid, sehubungan dengan bahasan yang sangat penting ini, maka marilah kita sama-sama awali dengan usaha untuk mencerna serta memahami firman Allah berikut ini yang disertai dengan penjelasan yang datang dari Rasulullah saw :

    اِتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَآأُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لآإِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
    ”Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. 9:31)

    Di dalam kitab Tauhid yang disusun oleh Syaikh Muhammad At Tamimi, pada bab.38 – beliau rahimahullah mengutip sebuah riwayat yang diriwayatkan dari Adiy bin Hatim ra bahwa ia mendengar Nabi saw membaca firman Allah swt. ”Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam …”
    Kemudian Adiy ra menuturkan, maka aku berkata kepada beliau saw, ’Sungguh kami tidaklah menyembah mereka.’
    Beliau saw bertanya, ’Tidakkah mereka itu mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kamupun mengharamkannya. Tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah, lalu kamupun menghalalkannya ?’
    Aku menjawab, ’Ya’. Maka beliau saw bersabda, ’Itulah ibadah (bentuk penyembahan) kepada mereka”. (HR imam Ahmad dan At Tirmidzi yang menyatakan hadits ini hasan)

    Perhatikanlah wahai saudara-saudariku, begitu jelas dan gamblangnya penjelasan dari Rasulullah saw kepada seorang sahabat ra, yaitu Adiy bin Hatim yang pada saat itu masih beragama Nashrani, bahwa mengikuti atau mentaati orang alim atau rahib dalam perkara penghalalan atau pengharaman terhadap sesuatu yang bertentangan dengan apa telah ditetapkan oleh Allah Ta’aalaa, berarti telah beribadah kepada orang alim atau rahib tersebut, dan tentu saja penjelasan dari Rasulullah saw tersebut diatas telah memberikan kesimpulan yang begitu jelas dan gamblang pula bahwa perbuatan tersebut termasuk kedalam katagori syirik akbar, yang apabila terjadi kepada umat Islam, maka dapat mengakibatkan lepasnya seluruh tali keislaman atau batalnya keislaman para pelakunya, sebagaimana yang terdapat di ujung ayat, yaitu : “……….padahal mereka hanya disuruh menyembah tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

    Rasulullah saw telah pula mengingatkan kepada kaum muslimin agar mencermati setiap langkah ahlul kitab yang dapat menghantarkan kelembah kebinasaan dengan sabda beliau saw (artinya): “Dan sungguh kalian pasti akan mengikuti jejak (jalan) orang-orang sebelum kalian, setapak demi setapak dan sejengkal demi sejengkal. Hingga, kalaupun mereka masuk ke lubang biawak, kalian pasti akan mengikutinya”. Kami (para sahabat,ed) bertanya, “Ya Rasulullah, jejak orang-orang Yahudi dan Nasranikah ?” Beliau menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka!”
    (HSR Bukhari dan Muslim dari Abu Said Al Khudri ra)
    Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Azis mengutip perkataan imam Al Alusy yang mengatakan bahwa mayoritas para ahli tafsir berkata: “Maksud dari arbab (tuhan-tuhan) bukanlah mereka meyakini bahwa para arbab itu tuhan-tuhan dialam ini, namun yang dimaksud adalah bahwa mereka itu mentaatinya dalam perintah-perintah dan larangan-larangannya”.
    Maka bandingkanlah dengan sistem pemerintahan yang justru dijalankan oleh sebagian besar umat Islam di NKRI ini yang telah begitu banyak menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, dan kemudian harus ditaati oleh seluruh rakyat NKRI ini, bahkan disertai dengan cara pemaksaan serta sanksi.
    Disamping itu mereka juga telah membuat larangan terhadap apa yang Allah perintahkan (Contoh : QS.2:216, 2:193, 9:29 – 2:178 – 4:59, dll), dan sebaliknya memerintahkan terhadap apa yang Allah larang (Contoh : QS.5:49, 4:60, 33:36, dll)
    Sehubungan dengan penghalalan apa yang telah Allah haramkan atau sebaliknya, maka seorang ulama yang sangat terkenal keshahihan aqidah dan keilmuan serta keshalehan dan perjuangannya, yaitu syaikhul Islam Ibnu Taymiyah rahimahullah, beliau berkata : “Di kala seseorang menghalalkan yang haram yang telah diijmakan atau merubah aturan yang sudah diijmakan, maka dia kafir lagi murtad dengan kesepakatan para fuqaha” (Majmu Al Fatawa)
    Ketika menafsirkan surah Al-An’am ayat-121, Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy rahimahullah menjelaskan : “Bahwa setiap orang yang mengikuti aturan, undang-undang dan hukum yang menyelisihi apa yang Allah syari’atkan lewat lisan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu musyrik kepada Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai rabb (tuhan)”, (Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaul Bayan: …)
    Syaikh Utsaimin rahimahullah menyatakan : “Adapun bagi orang yang membuat undang-undang hukum lain, padahal ia mengetahui ada hukum Allah, dan hukum buatannya ini menyelisihi hukum Allah, maka orang ini telah mengganti syari’at Allah dengan undang-undang buatannya. Berarti ia kafir. (As Sunnah edisi 12/Tahun VI/1423H/2003M, hal.33)

    Bukankah sistem pemerintahan NKRI ini yang mengacu kepada ideologi Demokrasi Pancasila + UUD-1945, bukan hanya mengajak untuk menghalalkan yang haram serta merubah aturan yang sudah diijmakan, bahkan lebih dahsyat dari itu, yaitu mengajak untuk berpaling dari inti dakwah para rasul ‘alaihimussalam atau berpaling dari tauhidullah ??? – Jika memang demikian, maka tentu lebih jelas lagi kemusyrikan, kekafiran dan kemurtadannya !!!

    Firman Allah berikut ini merupakan penegasan tentang adanya penuhanan antar manusia diantara kaum Ahlul Kitab. Dan pada saat yang sama Allah telah menjelaskan bagaimana seharusnya orang-orang beriman bersikap ketika berhadapan dengan orang-orang yang berpaling dari ajakan untuk beribadah hanya kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya, yaitu berserah diri kepada-Nya dalam artian mengikhlaskan penghambaan diri dengan tunduk patuh hanya kepada Allah Ta’aalaa saja. Allah berfirman :

    قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَآءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
    Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. 3:64)

    Firman Allah berikut ini juga merupakan penegasan tentang orang yang dihukumi dengan predikat musyrik jika mengikuti penghalalan terhadap apa yang Allah haramkan :

    وَلاَتَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
    Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. 6:121)
    Sehubungan dengan ayat tersebut diatas, ulama mengutip riwayat, bersumber dari Ibnu Abbas ra yang diriwayatkan oleh imam Al-Hakim dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, disebutkan bahwa orang-orang membantah kaum muslimin tentang sembelihan dan pengharaman bangkai, mereka berkata: “Kalian makan apa yang kalian bunuh dan tidak makan dari apa yang Allah bunuh”, yaitu bangkai. Maka Allah berfirman (artinya) : “….. dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”
    Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir ayat ini: “Dimana kamu berpaling dari perintah Allah dan aturan-Nya kepada yang lainnya, terus kamu mendahulukan aturan yang lain daripada perintah-Nya, maka inilah yang disebut syirik itu”
    Beliau rahimahullah juga berkata : “Siapa yang meninggalkan syari’at paten yang diturunkan kepada Muhammad ibnu Abdillah penutup para nabi, dan dia malah merujuk hukum kepada yang lainnya berupa hukum-hukum (Allah) yang sudah dinasakh (dihapus), maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang berhukum kepada Ilyasa dan lebih mengedepankannya atas hukum Allah? Siapa yang melakukannya maka dia kafir dengan ijma kaum muslimin”. (Al Bidayah Wan Nihayah: 13/119)
    Sebagaimana yang telah kami kutip sebelumnya bahwa Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy rahimahullah berkata saat menjelaskan ayat tersebut: “Bahwa setiap orang yang mengikuti aturan, undang-undang dan hukum yang menyelisihi apa yang Allah syari’atkan lewat lisan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu musyrik kepada Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai rabb (tuhan)”, (Al Hakimiyyah Fi Tafsir Adlwaul Bayan: … )
    Di dalam sebuah makalah juga dikutip perkataan Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy, dimana beliau rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti qawaaniin wadl’iyyah (undang-undang buatan) yang disyari’atkan oleh syaitan lewat lisan-lisan wali-walinya yang bertentangan dengan apa yang telah disyari’atkan Allah lewat lisan-lisan para Rasul-Nya – semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka – , sesungguhnya tidak ada yang meragukan akan kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang bashirahnya telah dihapus oleh Allah dan dia itu dibutakan dari cahaya wahyu-Nya seperti mereka.”
    Syaikh Ibnu Baz berkata dalam penjelasan pembatal keempat dari sepuluh pembatal keIslaman yang dikumpulkan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab, Ibnu Baz berkata:[“Dan masuk dalam hal itu juga setiap orang yang meyakini bahwa boleh memutuskan dengan selain syari’at Islam dalam mu’amalat hudud atau yang lainnya meskipun dia tidak meyakini bahwa hal itu lebih utama dari hukum syari’at, karena dengan hal itu berarti menghalalkan apa yang telah Allah haramkan secara ijma. Sedangkan setiap orang yang menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dari suatu yang sudah diketahui secara pasti dari dien ini seperti: zina, khamr, riba, dan pemutusan dengan selain syari’at Allah maka dia itu kafir dengan ijma kaum muslimin” (majalah Al Buhuts Al Islamiyyah, yang muncul dari sekretariat pusat Al Buhuts Wa Ad Dakwah Wal Ifta di Saudi, Vol. 7, hal: 17-18)] dan dalam risalahnya Naqdul Qaumiyyah Al Arabiyyah, Syaikh Ibnu Baz mensifati pemutusan dengan qawanin wadl’iyyah bahwa: “Ia itu adalah kerusakan yang besar, kekafiran yang nyata, dan kemurtaddan yang terbuka”, hal: 50.
    Jika mengikuti atau mentaati satu perkara saja terhadap apa yang Allah Ta’aalaa telah haramkan kemudian dihalalkan, dapat menghantarkan yang bersangkutan mendapatkan predikat orang-orang musyrik, maka bagaimana jika ketaatan tersebut terhadap sekian banyak penghalalan terhadap apa yang Allah haramkan dan sekian banyak (pula) pengharaman terhadap perkara yang Allah telah halalkan dan bahkan diundang-undangkan serta kemudian dilestarikan, sebagai mana yang terjadi di NKRI ini ???

    Allah juga telah berfirman :

    أَلَمْ تَرَإلِىَ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَآأُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآأُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحاَكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا
    Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. 4:60)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “…..Oleh sebab itu, orang yang memutuskan hukum dengan selain kitabullah yang dia itu menjadi rujukan hukum, dia itu dinamakan thaghut……” (Majmu al fatawa 28/201)

    Beliau berkata lagi : “….Siapa yang merujuk hukum atau mengadukan perkara hukum kepada selain apa yang telah dibawa oleh Rasululah SAW, maka berarti dia itu telah merujuk hukum dan mengadukan perkara hukum kepada thaghut…”
    Syaikh Sulaiman Ibnu Sahman rahimahullah berkata ketika menjelaskan QS.2:191 : “Seandainya penduduk desa dan penduduk kota perang saudara hingga semua jiwa musnah, tentu itu lebih ringan daripada mereka mengangkat thaghut di bumi ini yang memutuskan (persengketaan mereka itu) dengan selain syari’at Allah” (Ad Durar As Saniyyah: 10 Bahasan Thaghut)
    Perhatikanlah wahai saudara-saudariku para pengkaji tauhid, begitu jelas dan gamblangnya penjelasan dari para ulama tersebut diatas yang telah memberikan kesimpulan bahwa salah satu bentuk ibadah kepada thaghut yang tentu saja termasuk kedalam katagori syirik akbar, yang erat hubungannya dengan topik bahasan kita kali ini adalah ibadah dalam bentuk ketaatan atau ketunduk-patuhan kepada siapa saja (terutama kepada ulama dan umaro) atau kepada ideologi apa saja atau kepada doktrin apa saja atau undang-undang apa saja, dan begitu pula ketaatan dan ketunduk-patuhan kepada ideologi Demokrasi Pancasila + UUD-45 yang telah dijadikan ‘the way of life’ oleh bangsa NKRI ini yang senyatanya telah berpaling atau/dan bersikap membangkang atau/dan telah bersikap durhaka atau/dan telah bersikap mengingkari atau/dan telah bersikap enggan & sombong atau/dan telah bersikap ragu terhadap apa yang datang dari Allah Ta’aalaa.

    Oleh sebab itu, sungguh merupakan perkara yang terang dan jelas sekali bahwa mayoritas bangsa di NKRI ini telah memposisikan Demokrasi Pancasila + UUD-45 sebagai thaghut terbesar; yaitu sebagai rujukan hukum, sebagai pengaduan hukum serta sebagai pemutus hukum yang harus ditaati serta ditunduk-patuhi, dimana thaghut-thaghut yang lain-pun, yaitu para pemimpin dan penguasa serta para hakim NKRI ini juga harus tunduk patuh kepada thaghut terbesar tersebut.

    Salah satu ulama yang menyebutkan tentang bentuk ibadah kepada thaghut yang berupa doktrin, yaitu doktrin demokrasi, adalah syaikh Abu Nashr Muhammad bin ‘Abdillah al-Imam, salah seorang ulama dari Yaman. Diantara keterangan tentang doktrin demokrasi yang beliau jelaskan adalah : “Kepemimpinan adalah milik rakyat dan rakyat adalah sumber kekuasaan menurut cara yang dijelaskan di dalam undang-undang.” Pasal ini terdapat pada undang-undang nyaris semua Negara Arab dan Islam. Pasal semacam ini juga termaktub di dalam undang-undang Yaman, Negara kami”
    Dari sini dapat diketahui demokrasi adalah “Rabb” yang berhak menetapkan syariat. Maka tidak samar bagi seorang muslim bahwa ini adalah perbuatan kufur akbar, syirik akbar dan kezaliman yang besar.

    Selanjutnya beliau juga menjelaskan bahwa demokrasi sendiri memiliki tiga unsur yaitu :
    1. At Tasyri’ (Legislatif) – Tidak ada yang berhak menetapkan peraturan, kecuali demokrasi. Padahal Allah-lah Ahkamul Hakimin (Hakim yang seadil-adilnya), dan Arhamur Rahimin (yang Maha Penyayang), yang bagi-Nya seluruh kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dalam demokrasi, hukum-hukum-Nya tidak lagi berlaku. Dia (diperlakukan, pen.) tidak boleh membuat peraturan bagi hamba-hamba-Nya. Membuat peraturan adalah ujung tombak dari undang-undang. Karena itulah dibuat peraturan demi melestarikan demokrasi.
    2. Al-Qadha’ (Yudikatif) – Tidak diperkenankan bagi seorang penguasa pun untuk memutuskan sesuatu kecuali berdasarkan undang-undang. Kalau tidak, maka dia akan terkena hukuman.
    3. At-Tanfidz (Eksekutif) – Tidak boleh melaksanakan satu keputusanpun kecuali yang berasal dari undang-undang. Itu berarti membekukan seluruh aturan syari’ah,…….

    Ketika menjelaskan QS.2:256 (…….Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah ….), beliau menjelaskan bahwa Allah menjadikan kufur kepada thaghut sebagai syarat sah keimanan. Jika syarat ini (kufur kepada thagut) hilang atau tidak ada, maka batal-lah manfaat keimanan.
    Kemudian selanjutnya beliau menjelaskan pula bahwa berdasarkan QS.2:256, 16:36 dan 4:60 (tentang thaghut) maka beliau nyatakan : ”Tidak diragukan lagi bahwa demokrasi adalah thaghut terbesar”.

    Berdasarkan penjelasan dari ulama tersebut diatas serta realita yang terjadi pada pemerintahan di NKRI ini yang telah menjadikan Demokrasi Pancasila + UUD-45 sebagai ’the way of life’ atau sebagai acuan bernegara dan berbangsa yang mengatur seluruh aspek kehidupan, dimana Allah Ta’aalaa diperlakukan untuk tidak boleh mengatur seluruh aspek kehidupan bagi para hamba-Nya, maka sungguh sangat jelas sekali bahwa Demokrasi Pancasila + UUD-45 tersebut telah diposisikan sebagai thaghut terbesar, yang mana kemudian para penguasa serta pemimpin negeri ini mengajak seluruh rakyat untuk tunduk patuh kepada Demokrasi Pancasila + UUD-45 dan segala peraturan perundang-undangan yang mereka buat, yang mereka modifikasi, yang mereka lestarikan dan berikutnya mereka laksanakan.
    Dengan kata lain, sungguh sangat jelas dan gamblang sekali bahwa para penguasa serta pemimpin negeri ini mengajak untuk mentaati serta tunduk-patuh kepada Demokrasi Pancasila + UUD-45 yang telah diposisikan sebagai thaghut terbesar serta berbagai peraturan perundangan-undangan yang telah berpaling dari peraturan serta hukum-hukum yang datang dari Allah Ta’aalaa.
    Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Azis telah mengutip tulisan Ustadz Abul A’la Al Maududiy dalam menjelaskan sikap penuhanan manusia dalam sistem Demokrasi ini, dimana beliau berakata : ”[Pondasi-pondasi peradaban barat, sesungguhnya peradaban modern yang berdiri dalam payungnya sistem kehidupan masa kini dengan berbagai cabang-cabangnya yang bersifat keyakinan, akhlak, ekonomi, politik, pengetahuan, berpijak diatas tiga landasan, yaitu prinsip-prinsip inti berikut ini: Sekulerisme, Nasionalisme, dan Demokrasi, -sampai ucapannya- Adapun prinsip yang ketiga, yaitu Demokrasi atau penuhanan manusia dengan digabungkannya kepada dua prinsip yang lalu, maka sempurnalah gambaran yang mengumpulkan dalam bingkainya bencana dan kekacauan-kekacauan didunia ini. Tadi telah saya katakan bahwa makna Demokrasi dalam peradaban yang modern ini adalah hukum (kekuasaan) mayoritas (rakyat), yaitu individu-individu suatu daerah bebas merdeka dalam apa yang berkaitan dengan perealisasian kepentingan-kepentingan sosial mereka, dan bahwa undang-undang daerah ini adalah mengikuti hawa nafsu -sampai ucapannya- Dan bila kita mengamati ketiga prinsip itu sekarang, maka kita dapatkan bahwa Sekulerisme telah memerdekakan manusia dari peribadatan, ketaatan, dan rasa takut kepada Allah dari batasan-batasan moral yang baku, dan melepaskan kebebasan mereka secara penuh serta menjadikan mereka sebagai budak bagi diri mereka sendiri lagi tanpa ada pertanggung jawaban dihadapan siapapun. Kemudian datang nasionalisme untuk menghadirkan bagi mereka tegukan yang banyak dari khamr egoisme, kesombongan, keponggahan, dan penyepelean orang lain. dan terakhir datang demokrasi, dan ia mendudukan insan -setelah kendalinya dilepas dan telah menjadi tawanan hawa nafsu dan korban keponggahan egoisme- diatas singgasana penuhanan, sehingga dilimpahkan kepadanya seluruh kekuasaan pembuatan hukum dan perundang-undangan dan dikerahkan baginya alat-alat pemerintahan dengan sejumlah fasilitas-fasilitasnya dalam meraih setiap apa yang diinginkannya. -kemudian Al Maududiy berkata- Dan sesungguhnya saya katakan kepada kaum muslimin dengan tegas, bahwa Demokrasi yang Nasionalisme lagi Sekuler adalah menentang agama keyakinan yang kalian anut, dan bila kalian menerimanya maka seolah kalian telah meninggalkan Kitabullah dibelakang punggung kalian, dan apabila kalian ikut andil dalam penegakannya atau keberlangsungannya, maka dengan itu berarti kalian telah mengkhinati Rasul kalian yang telah Allah utus kepada kalian -sampai ucapannya- Dimana saja sistem (Demokrasi) ini ada, maka sesungguhnya kami tidak menganggap Islam itu ada, dan bila Islam itu ada maka tidak ada tempat bagi sistem ini]” (dari kitab Al Islam Wal Madaniyyah Al Haditsah, Al Maududiy, alih bahasa (kedalam bahasa Arab) Khalil Al Hamidiy)

    Oleh sebab itulah, suka atau tidak, disadari atau tidak, diakui atau tidak, maka berdasarkan begitu banyaknya dalil-dalil yang muhkamat yang dijelaskan oleh para ulama tersebut diatas, telah (pula) memberikan kesimpulan yang semestinya tidak ada kesamaran sama sekali bagi orang-orang yang berusaha untuk mengkaji ilmu tauhid bahwa para penguasa serta pemimpin di NKRI ini, baik yang berada di lembaga Legislatif, Eksekutif maupun Yudikatif telah memposisikan diri mereka sebagai tuhan-tuhan yang diibadahi.

    Kami ulang kembali kesimpulan sebagaimana tersebut diatas, yaitu, suka atau tidak, disadari atau tidak, diakui atau tidak, maka para penguasa serta pemimpin di NKRI ini, baik yang berada di lembaga Legislatif, Eksekutif maupun Yudikatif telah memposisikan diri mereka sebagai tuhan-tuhan (arbaab atau thaghut) yang harus diibadahi oleh sebagian besar rakyat Indonesia, karena ciri-ciri arbaab serta thaghut sangat melekat pada diri mereka, yaitu :

    – Para anggota lembaga Legislatif adalah sebagai wakil-wakil rakyat yang merupakan sumber dari segala kekuasaan dan sekaligus yang berhak menetapkan segala peraturan perundang-undangan (UUD-45 pasal-20). Dengan demikian, mereka telah menjadikan diri mereka sebagai pembuat, pelestari dan sekaligus pengawas segala peraturan perundang-undangan yang mengatur seluruh aspek kehidupan dengan mencampakkan syariat yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, padahal sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama bahwa : “….setiap orang yang mengikuti aturan, undang-undang dan hukum yang menyelisihi apa yang Allah syari’atkan lewat lisan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu musyrik kepada Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai rabb (tuhan)”. Dan …….. “Di kala seseorang menghalalkan yang haram yang telah diijmakan atau merubah aturan yang sudah diijmakan, maka dia kafir lagi murtad dengan kesepakatan para fuqaha.”

    Oleh sebab itu, bagi para anggota lembaga Legislatif yang telah menjadikan diri mereka sebagai pelestari, pembuat serta pengawas pelaksanaan dari berbagai peraturan perundang-undangan dengan mencampakkan serta menyelisihi syariat Allah tersebut, maka tentu lebih jelas lagi kemusyrikan, kekufuran, kemurtadan serta “pengangkatan” diri mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, walaupun mereka telah memiliki gelar S3 dengan berbagai disiplin ilmu tentang agama Islam. Apakah dia Doktor (S3) dibidang Aqidah, Tafsir, Hadits, dan lain sebagainya.

    Sebenarnya mereka telah memposisikan diri sebagai para penyeru yang berada di pintu-pintu jahannam, sebagaimana yang Rasulullah SAW sabdakan kepada seorang sahabat bernama Hudzaifah al Yamani RA, dimana mereka (para penyeru tersebut) sejak masih menjadi Caleg telah berkampanye mengajak umat Islam untuk melakukan pembatal keislaman !!!! Para Caleg tersebut berusaha untuk mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya agar dapat menghantarkan mereka ke ”singgasana penobatan” sebagai tuhan-tuhan selain Allah !!! Betapa sungguh mengerikan !!!

    Simak kembali firman Allah yang tertera pada QS.9:31 yang dijelaskan oleh Rasulullah saw dan QS.6:121 yang disertai dengan penjelasan para ulama, sebagaimana yang kami kutip di awal bahasan. Dan sebagai tambahan keterangan, simak juga QS.7:175-176 dan QS.16:106-107

    Jika ada yang menamakan lembaga Legislatif (DPR, MPR) NKRI ini sebagai ”majlis-majlis musyawarah” yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka perbuatan ini adalah merupakan talbis atau pengkaburan yang sangat dahsyat dampak buruk dan kerusakannya, yang semestinya tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang faham walaupun hanya sedikit saja tentang ilmu tauhid yang shahih.

    – Para pemimpin serta penguasa dari lembaga Eksekutif melaksanakan segala undang-undang yang telah di setujui atau di sahkan oleh lembaga Legislatif dan kemudian mengajak, bahkan menuntut seluruh rakyat untuk tunduk patuh terhadap seluruh undang-undang serta peraturan yang mereka jalankan walaupun bertentangan dengan hukum serta peraturan yang datang dari Allah. Padahal ulama telah menjelaskan bahwa : “….setiap orang yang mengikuti aturan, undang-undang dan hukum yang menyelisihi apa yang Allah syari’atkan lewat lisan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu musyrik kepada Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai rabb (tuhan)”.
    Oleh sebab itulah, para pemimpin serta penguasa dari lembaga Eksekutif yang mengajak untuk tunduk patuh kepada Pancasila + UUD-45 dan berbagai peraturan perundang-undangan dengan mencampakkan peraturan serta hukum-hukum yang datang dari Allah Ta’aalaa, maka tentu tidak ada kesamaran sama sekali bagi para pengkaji tauhid bahwa mereka telah memposisikan diri sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Mereka telah memposisikan diri sebagai pewaris-pewaris thaghut Fir’aun.

    Jika ada “orang-orang alim” yang telah menjadi pemimpin atau penguasa, tentu mereka juga akan berpegang teguh kepada Pancasila + UUD-45 serta berbagai peraturan perundang-undangan dalam mengatur seluruh aspek kehidupan rakyat di NKRI ini. Sedangkan segala peraturan serta hukum-hukum yang datang dari Allah yang telah mereka pelajari sekian lama, hanya diposisikan sebagai “pajangan” di perpustakaan-perpustakaan yang mereka miliki.
    Contoh : Orang-orang yang disebut sebagai “kiai” atau “ustadz” dan berasal dari partai-partai dengan lebel “Islam” yang telah menduduki jabatan sebagai Gubernur, Walikota, Bupati serta yang lainnya. Semuanya harus berpaling dan mendurhakai syariat atau hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya, kecuali yang bersesuaian dengan hawa nafsu mereka.
    Mereka bahkan dituntut agar memposisikan diri mereka sebagai orang-orang yang berdiri paling depan untuk melarang atau menghalangi orang-orang yang beriman yang ingin melaksanakan syariat Islam atau hukum-hukum Islam secara utuh di wilayah mereka masing-masing. Misalkan penerapan hukum qishaash untuk menghantarkan kepada ketakwaan (QS.2:178-179) atau membunuh orang yang murtad sebagaimana yang Rasulullah saw perintahkan (HR.Bukhari), atau i’dad jihad (perang) fi sabilillah yang merupakan salah satu syariat Allah yang sangat agung (QS.8:60; 2:216-218, 3:140-142, 3:169, 9:20-22, 61:10-13, dll)

    – Para praktisi hukum serta para hakim di lembaga Yudikatif bertugas untuk mengadili serta memutuskan segala perkara atau perselisihan dengan mengacu kepada UUD-45 dan berbagai peraturan perundang-undangan dengan mencampakkan peraturan serta hukum-hukum yang datang dari Allah Ta’aalaa, padahal para ulama telah menjelaskan bahwa : “…….Oleh sebab itu, orang yang memutuskan hukum dengan selain kitabullah yang dia itu menjadi rujukan hukum, dia itu dinamakan thaghut……”
    Maka bagi para hakim di lembaga Yudikatif yang telah memutuskan hukum dengan selain kitabullah yang dia itu menjadi rujukan hukum, yaitu dengan mengacu kepada UUD-45 dan berbagai peraturan perundang-undangan yang telah mencampakkan dan berpaling dari peraturan serta hukum-hukum yang datang dari Allah Ta’aalaa, maka tentu sudah sangat jelas sekali bahwa para hakim tersebut dinamakan thaghut………”
    Simak kembali firman Allah yang tertera pada QS.4:60 yang dijelaskan oleh para ulama, sebagaimana yang kami kutip di awal bahasan.

    Perlu pula diketahui bahwa di dalam UUD-1945 Bab-I , pasal-1 (3) disebutkan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Kemudian Bab-X, pasal 27 (1) disebutkan bahwa Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
    Kemudian, pada halaman 76 dari buku Pendidikan Pancasila – SK Dirjen DIKTI no.38 DIKTI/KEP/2002 yang dikarang oleh Drs. H. Kaelan MS disebutkan bahwa :

    ”Pancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945, menurut ilmu hukum memenuhi syarat sebagai pokok kaidah yang fundamental negara sehingga merupakan suatu sumber hukum positif di Indonesia. Oleh karena itu dalam hierarki suatu tertib hukum Indonesia berkedudukan sebagai tertib hukum yang tertinggi. Maka secara objektif tidak dapat diubah secara hukum sehingga terlekat pada kelangsungan hidup negara. Sebagai konsekuensinya jikalau nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam pembuakaan UUD 1945 itu diubah maka sama halnya dengan pembubaran negara Proklamasi 1945, hal ini sebagaimana terkandung dalam ketetapan MPRS No.XX/MPRS/1966, diperkuat Tap No.V/MPR/1973. Jo. Tap. No.IX/MPR/1978”
    Perhatikanlah wahai saudara saudariku para pengkaji ilmu tauhid, sulitkah bagi kalian untuk mencerna serta memahami penjelasan dari para ulama tersebut diatas serta keterangan tentang realita lembaga peradilan (Yudikatif) di NKRI ini, telah memberikan kesimpulan yang sangat jelas dan gamblang bahwa para hakim yang berada di lembaga Yudikatif tersebut yang memutuskan hukum dengan UUD-45 serta berbagai peraturan perundang-undangan yang mana mereka itu menjadi rujukan hukum, maka para hakim tersebut dinamakan thaghut ???
    Subhanallah, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.

    Sebagaimana yang kita sama-sama telah ketahui bahwa sebagian besar dari anggota Legislatif dan Eksekutif di NKRI ini berasal dari anggota partai politik. Oleh sebab itu, agar supaya lebih jelas perkara yang kita bahas ini, maka kami memandang perlu untuk mengutip beberapa pasal dari undang-undang Partai Politik yang terdapat pada Undang-undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik disebutkan : Dengan persetujuan bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia,

    Pasal-9 Asas dan Ciri
    (1) Asas Partai Politik tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945
    (2) Partai politik dapat mencantumkan ciri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita Partai Politik yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
    (3) Asas dan ciri Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan penjabaran dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

    Apakah menurut kalian ada partai berlebel “Islam” yang diberikan “dispensasi” atau dibolehkan untuk memiliki asas serta ciri yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD-45 yang senyatanya telah berpaling dari syariat Allah Ta’aalaa ? – Jawabannya tentu tidak ada, karena ketetapan tentang asas dan ciri yang tidak boleh bertentangan dengan Pancasila + UUD-45 adalah sudah merupakan persetujuan bersama.
    Oleh sebab itu, apapun ketetapan yang telah digariskan oleh Pancasila + UUD-45, maka mereka harus tunduk-patuh dan “manut, walaupun ketetapan tersebut sangat bertentangan dengan perkara yang paling fundamental sekalipun.

    Contoh : Pada harian Republika tertanggal 7 Desember 2007 akan kita temukan berita sebagaimana yang tertera dibawah ini :
    Jakarta – Sidang paripurna DPR, Kamis (6/12), sepakat menempatkan Islam dan agama- agama lain posisinya ‘dibawah’ Pancasila. Meski sejumlah fraksi meminta rumusan tersebut diubah, tapi Partai Golkar (PG), PKB, Partai Demokrat (PD), dan PDIP tetap ngotot tidak mau mengubahnya.
    ……… (Berita lengkapnya dapat dibaca …..pada halaman surat kabar tersebut)

    Apakah ada partai dengan lebel “Islam” yang akhirnya keluar dari pemerintahan karena merasa kemuliaan agama Allah Ta’aalaa yang mereka “sandang” telah dilecehkan sedemikian rupa ? Jawabannya-pun kemungkinan besar kalian telah pula mengetahuinya, yaitu tidak ada.
    Padahal Allah telah mengingatkan di dalam firman-Nya berikut ini (artinya) : “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam, (QS. 4:140)

    Bukankah partai-partai berlebel “Islam” tersebut bukan hanya duduk beserta orang-orang kafir, bahkan ikut urun rembuk untuk mengingkari serta memperolok-olokan ayat-ayat Allah ?

    Pasal-13 Partai Politik berkewajiban :
    a. mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan;
    b. memelihara dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
    c. berpartisipasi dalam pembangunan nasional;
    d. menjunjung tinggi supremasi hukum, demokrasi, dan hak asasi manusia

    Apakah menurut kalian ada partai “Islam” yang “berani” menolak untuk mengamalkan Pancasila dan menolak (pula) untuk melaksanakan UUD-45 serta berbagai peraturan perundang-undangan yang semenjak kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan (fisik) telah begitu jelas dan gamblangnya bersikap durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya ?

    Contoh : di dalam UUD-45 pasal-27 (1) disebutkan bahwa : “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
    Pasal-27 dari UUD-45 tersebut telah menyamakan kedudukan hukum antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir. Padahal Allah telah berfirman (artinya) : Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (QS. 45:21)
    Dan firman-Nya (artinya) : Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir) Mereka tidak sama. (QS. 32:18)

    Oleh sebab itu, maka menyamakan atau mensetarakan perlakuan atau kedudukan hukum antara orang-orang yang beriman sebagai calon penghuni surga dan orang-orang kafir sebagai calon penghuni neraka, yang menurut syariat Allah bahwa perlakuan terhadap mereka benar-benar sangat berbeda, adalah merupakan suatu kedurhakaan serta pembangkangan yang sangat jelas terhadap ajaran Allah Ta’aalaa yang mengakibatkan kerusakan-kerusakan besar terhadap ajaran agama Islam dan sekaligus dunia kaum muslimin. Diantaranya adalah hukum-hukum yang berhubungan dengan kepemimpinan (QS.4:59, 7:3, 9:23, dll), al Wala wal Bara’ (QS.5:51. 5:54, 58:22, dll), peradilan (QS.4:58-60, 4:65, 5:49-50, 24:51, 33:36, dll), perwalian, keterjagaan darah dan harta (QS.2:178-179), dan syariat hijrah dan jihad (perang) fi sabilillah (QS.2:216-218, 3:140-142, 4:84, 9:20-22, 9:29, 9:73, dll)

    Apakah menurut kalian ada partai “Islam” yang siap menjunjung tinggi supremasi hukum Allah (QS.5:49-50, 24:51, 33:36, dll) dan mengingkari hukum thaghut, yaitu UUD-45 serta berbagai undang-undang turunannya yang telah berpaling dari tuntunan Allah, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada orang-orang yang beriman (QS.4:60) ?

    Apakah menurut kalian ada partai “Islam” yang berani dengan lantang menyatakan bahwa jika ada umat Islam yang murtad dari agamanya maka sanksinya adalah dibunuh (berdasarkan hadits shahih), sementara menurut undang-undang, seluruh partai harus menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), termasuk kebebasan untuk memilih (menukar) agama serta keyakinan ?

    Pasal-40 (2) Partai Politik dilarang :
    a. melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan; atau
    b. melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia

    Apakah menurut kalian ada partai “Islam yang siap melakukan kegiatan yang bertentangan dengan berbagai undang-undang (thaghut) dan siap pula melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan NKRI dalam rangka membela agama Allah ? Jawabannya sungguh sangat jelas, yaitu tidak ada.

    Pasal-41 Partai Politik bubar apabila :
    a. membubarkan diri atas keputusan sendiri ;
    b. menggabungkan diri dengan Partai Politik lain; atau
    c. dibubarkan oleh Mahkamah Konstitusi

    Pasal-48
    (1) Partai Politik …..
    (2) Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal-40 ayat (2) dikenai sanksi administratif berupa pembekuan sementara Partai Politik yang bersangkutan sesuai dengan tingkatannya oleh pengadilan negeri paling lama 1 (satu) tahun.
    (3) Partai Politik yang telah dibekukan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan melakukan pelanggaran lagi terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal-40 ayat (2) dibubarkan dengan putusan Mahkamah Konstitusi

    Maka…….Apakah menurut kalian ada partai “Islam” yang siap dibubarkan dalam rangka membela agama Allah Ta’aalaa ? Jawabannya adalah, sejak di “dendangkannya” reformasi dan maraknya partai-partai berlebel Islam, maka belum pernah terdengar tentang adanya partai Islam yang dibubarkan karena membela agama Allah.

    Wahai saudara-saudariku para pengkaji ilmu tauhid……fahamkah kalian bahwa setiap partai politik, apapun ideologi dan agamanya, termasuk yang menggunakan lebel “Islam”, maka mereka semua harus tunduk patuh kepada ketentuan yang telah digariskan oleh Demokrasi Pancasila dan UUD-45, jika partai tersebut tidak ingin mendapat sanksi berat, yaitu ancaman berupa pembubaran terhadap setiap partai yang melakukan pelanggaran sebagai berikut :

    a. melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan; atau
    b. melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia

    Sungguh merupakan kenyataan yang terjadi dari waktu ke waktu, dari period ke periode bahwa kita belum pernah mendengar, belum pernah melihat serta belum pernah membaca keterangan tentang adanya “aktivis dakwah Islam” yang dengan lantang menyampaikan di dalam Parlemen tentang inti dakwah para rasul yang diawali dengan pengingkaran terhadap seluruh peribadahan kepada selain Allah atau diawali dengan pengingkaran terhadap seluruh thaghut. Misalnya :

    – Menyatakan bahwa peribadahan kepada patung berhala yang dilakukan oleh penganut agama Budha dan Hindu adalah merupakan peribadahan yang benar-benar batil dan para penganut agama-agama tersebut disebut sebagai orang-orang kafir yang diancam akan di masukkan ke dalam neraka serta kekal di dalamnya.
    Begitu pula kebatilan peribadahan yang dilakukan oleh penganut seluruh agama yang lain selain agama Islam, apakah agama Katolik, Kristen, Kong Hu Cu serta berbagai aliran kepercayaan kaum musyrikin.

    – Menyampaikan di dalam “majlis musyawarah” bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar mengingkari hukum thaghut, seperti UUD-45 serta berbagai undang-undang dan peraturan sebagai turunannya yang telah mencampakkan syariat Allah, dan kemudian mengingatkan pula bahwa jika perintah Allah tersebut tidak dilaksanakan, yaitu tidak mengingkari berbagai undang-undang (hukum) thaghut, maka orang-orang yang mengaku beriman tersebut sebenarnya sedang disesatkan oleh syaitan dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya (QS.4:60), hingga sampai kepada kemusyrikan (QS.4:116) dan kekufuran (QS.4:136)

    – Dan lain lain.

    Wahai saudara-saudariku para pengkaji ilmu tauhid …….tahukah (pula) kalian bahwa sebelum para anggota DPR yang mayoritasnya berasal partai-partai politik memangku jabatan, maka oleh undang-undang (UU-RI no.22 tahun 2003 pasal.19-20), mereka dituntut untuk mengucapkan sumpah sebagai berikut :

    ”Demi Allah (Tuhan) saya bersumpah/berjanji :
    Bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai anggota (ketua/wakil ketua) DPR dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya.
    Bahwa saya akan memegang teguh Pancasila dan menegakkan UUD-NRI 1945 serta peraturan perundang-undangan
    Bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi serta berbakti kepada bangsa dan negara
    Bahwa saya akan memperjuangkan aspirasi rakyat yang saya wakili untuk mewujudkan tujuan nasional demi kepentingan bangsa dan negara kesatuan RI.”

    Padahal Allah Ta’aalaa telah berfirman (artinya) : ”Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; …”(QS. 9:74)

    Berdasarka

  14. putra lampa berkata:

    Padahal Allah Ta’aalaa telah berfirman (artinya) : ”Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; …”(QS. 9:74)

    Berdasarkan Undang-undang RI no.22 tersebut diatas, maka setiap anggota parlemen justru harus mengawali “dakwahnya” dengan mengikrarkan berbagai kekufuran, kemusyrikan dan kemunafikan, yaitu bersumpah untuk berpegang teguh kepada :

    – Ideologi Pancasila yang membenarkan peribadahan kepada selain Allah, termasuk peribadahan kepada patung berhala. – Contoh kongkritnya dapat ditemukan pada pelajaran PPKn sejak SD kelas-1, Bab pertama.
    – Ideologi Pancasila yang membenarkan berbagai agama selain Islam, termasuk agama kaum Paganisme. Contoh teorinya ada pada pelajaran PPKn dan prakteknya adalah kehadiran pejabat-pejabat negara yang mengaku beragama Islam, termasuk Presiden dan Menteri Agama pada acara-acara ritual agama selain dari agama Islam, termasuk agama penyembah patung berhala.
    – Ideologi Pancasila yang menyatakan bahwa para penganut agama selain agama Islam disebut juga sebagai orang-orang yang beriman. – Contoh kongkritnya ada pada pelajaran PPKn SD Kelas-2, bab.4
    – Undang-undang (hukum) thaghut yang justru telah Allah perintahkan untuk diingkari – (QS.4:60)
    – Doktrin demokrasi yang merupakan hasil karya daur-ulang para intelektual Yahudi Freemason dari sekte Kabbalah penyembah berhala.
    – Sikap menjunjung tinggi terhadap HAM, sehingga jika ada umat Islam yang murtad dari agamanya maka tidak boleh dibunuh sebagaimana yang Rasulullah saw perintahkan karena merupakan pelanggaran HAM dalam hal kebebasan beragama dan berkeyakinan (UUD-45, pasal 28E), dan bahkan sebaliknya, bagi pelaksana hukum Allah tersebut justru akan dikenakan sanksi berat.
    – Dan berbagai kekufuran, kemusyrikan dan kemunafikan yang lainnya.

    Terlalu panjang daftar kedurhakaan yang dilakukan oleh ideologi Pancasila + UUD-45 tersebut terhadap apa yang datang dari Allah, dimana partai-partai yang “berlabel” Islam (tanpa kecuali) juga harus tunduk patuh mengikuti apa yang dituntut oleh Pancasila + UUD-45

    Dengan demikian, berdasarkan penjelasan para ulama tersebut diatas serta realita sistem pemerintahan NKRI ini, maka sikap kita sebagai hamba Allah yang menginginkan keselamatan dunia & akhirat, yang ingin mengikuti dakwah para nabi dan rasul, yang menginginkan untuk mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw serta para ulama salafus shaleh yang dimulai dari para sahabat beliau saw, maka kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bersikap memprioritaskan yang paling prioritas, menomor satukan yang nomor satu, mendahulukan yang semestinya didahulukan, yaitu pengingkaran/pengkufuran terhadap seluruh thaghut dan beribadah hanya kepada Allah saja sebelum membicarakan perkara agama yang lainnya, termasuk pembicaraan mengenai kepemimpinan atau kekuasaan atau penegakkan syariat “Islam” didalam pemerintahan NKRI ini. Karena tidak mungkin ada syariat Islam tegak tanpa tauhidullah, dan yang dilakukan oleh para “aktivis dakwah Islam” di pemerintahan selama ini hanyalah merupakan fatamorgana serta angan-angan belaka. (QS.24:39-40, 4:123)

    Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap pemilu – nyontreng atau tidak ??

    Allah Ta’aalaa berfirman :

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَتَّخِذُوا ءَابَآءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَآءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى اْلإِيمَانِ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa yang di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. 9:23)

    Berdasarkan ayat-ayat muhkamat, hadits-hadits shahih serta penjelasan dari para ulama yang telah dipaparkan, dan begitu pula keterangan mengenai teori serta praktek-praktek dari sistem pemerintahan di NKRI ini, maka pertanyaan bagi orang-orang yang masih punya keinginan untuk mencontreng atau ikut berpartisipasi di dalam kegiatan Pemilu adalah :
    Apakah ada orang yang lebih mengutamakan keimanan atas kekafiran yang bersedia untuk bersumpah demi Allah untuk berpegang teguh kepada ideologi Pancasila + UUD-45 serta berbagai peraturan perundang-undangan yang konsekuensi logisnya adalah mereka harus melakukan kekufuran, kemusyrikan dan kemunafikan ? Jawabannya tentu TIDAK ADA !!! Sementara untuk menjadi anggota Legislatif atau menjadi para penguasa serta pemimpin di jajaran lembaga Eksekutif, dan begitu pula untuk menjadi hakim serta petinggi-petinggi di lembaga Yudikatif NKRI ini, maka mereka semuanya dituntut untuk bersumpah berpegang teguh kepada Pancasila + UUD-45 serta berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur seluruh kehidupan, dan pada saat yang sama harus berpaling serta mencampakkan peraturan-peraturan atau hukum-hukum yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, kecuali yang bersesuaian dengan hawa nafsu mereka.

    Sedangkan sebagaimana ayat tersebut diatas, terdapat ancaman dari Allah Ta’aala yang sangat mengerikan akibatnya, yaitu dimasukkan kedalam kelompok orang-orang yang zalim bagi siapapun juga yang mengangkat atau menjadikan orang-orang yang lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Sedangkan Allah juga telah berfirman (artinya) : “…dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim”. (QS. 9:19)
    Serta firman-Nya (artinya) : “…Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkanmu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. 11:113)

    Oleh sebab itu, wahai saudara-saudariku para pengkaji ilmu tauhid…….Siapapun juga yang ikut mencontreng atau ikut berpartisipasi mendukung kegiatan Pemilu di NKRI ini, berarti ikut tolong-menolong dan mendukung kegiatan untuk memilih “calon-calon arbab atau thaghut” atau dengan kata lain, ikut menghantarkan para calon tersebut ke “kesinggasana penobatan” atau “pengangkatan” sebagai tuhan-tuhan selain Allah, sebagaimana penjelasan dari para ulama yang telah kami kutip, diantaranya adalah :
    ”………..tidak diragukan lagi bahwa demokrasi adalah thaghut terbesar”.

    ”…………setiap orang yang mengikuti aturan, undang-undang dan hukum yang menyelisihi apa yang Allah syari’atkan lewat lisan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia itu musyrik kepada Allah, kafir lagi menjadikan yang diikutinya itu sebagai rabb (tuhan)”

    “………Oleh sebab itu, orang yang memutuskan hukum dengan selain kitabullah yang dia itu menjadi rujukan hukum, dia itu dinamakan thaghut……”

    “……….Seandainya penduduk desa dan penduduk kota perang saudara hingga semua jiwa musnah, tentu itu lebih ringan daripada mereka mengangkat thaghut di bumi ini yang memutuskan (persengketaan mereka itu) dengan selain syari’at Allah”

    Maha Suci Allah dari yang mereka sekutukan

    Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi telah membuat suatu kesimpulan bahwa :
    – Orang yang memberikan suara dalam pemilu sedang ia mengetahui hakikat dan makna demokrasi dan mengetahui tugas parlemen dan para anggotanya, maka dia kafir walau tidak mengetahui bahwa itu adalah kekafiran. Jadi dalam hal ini dia Jahilul hukmi (bodoh akan hukum) namun tidak jahil akan hakikat dan makna apa yang dia lakukan, sedangkan Jahilul hukmi dalam hal ini tidaklah diudzur.
    – Orang yang memberikan suara, sedang ia tidak mengetahui hakikat dan makna demokrasi juga tidak mengetahui hakikat parlemen (MPR/DPR) dan tugas para anggotanya, maka ia tidak dikafirkan sebelum ditegakkan hujjah terhadapnya dengan cara diberitahukan tentang hakikat hal tadi. Orang ini di sebut Jahilul Hal (bodoh akan keadaan). (Pent).

    Hidup ini pilihan : Apakah kita berusaha untuk memilih kebenaran yang datang dari Allah dan berusaha menjadikan diri kita termasuk kedalam kelompok orang-orang yang beriman, termasuk kedalam kelompok orang-orang yang bersyukur dengan mengikuti tuntunan yang datang dari-Nya, atau sebaliknya memilih kebatilan dan kemudian membiarkan diri kita terjerumus kedalam kelompok orang-orang yang tidak beriman (kafir), kelompok orang-orang yang tidak bersyukur yang mana mereka mengikuti berbagai ideologi atau doktrin-doktrin batil.

    Wahai saudara-saudariku para pengkaji ilmu tauhid……masih ada satu lagi keterangan yang tersisa, yaitu tentang tanggapan terhadap berbagai syubhat yang dilontarkan oleh para penyebar talbis (pengkaburan serta pencampur-adukkan) dan para pengikutnya, yang diantaranya adalah :

    – Jika kita tidak memilih “orang-orang Islam”, nanti kekuasaan dikuasai oleh orang-orang kafir atau ada juga yang mengatakan : “Jika “kita” tidak ikut masuk ke dalam kekuasaan, nanti dipimpin oleh orang-orang kafir.”
    Sebenarnya perkataan-perkataan tersebut tidak lebih hanya merupakan “bisikan-bisikan syaitan (untuk menakut-nakuti)” dari para politikus yang menjadikan agama Islam sebagai media untuk mencari dukungan suara dari umat Islam yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini. Padahal sejarah mencatat bahwa setiap diadakannya Pemilu, jumlah yang tidak ikut memilih relatif cukup besar yang tentu saja mayoritasnya terdiri dari umat Islam, namun pada kenyataannya sejak Pemilu pertama (1955) hingga hari ini kekuasaan serta kepemimpinan negeri ini masih di dominasi oleh orang-orang yang beragama “Islam.”
    Pertanyaannya justru : Apakah keberadaan “orang-orang Islam” atau “aktivis Islam” di pemerintahan NKRI ini dalam rangka untuk membela agama Allah atau karena dunia dan mengikuti hawa nafsu ?
    Allah berfirman (artinya) : “Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka. (QS. 47:1) Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal saleh dan beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Rabb mereka, Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. (QS. 47:2) Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Rabb mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka. (QS. 47:3)

    Apakah orang-orang yang mengaku sebagai “aktivis Islam” yang telah menduduki kursi-kursi kekuasaan, selama ini mengikuti yang hak dari Allah atau mengikuti yang batil ? Jawabannya sangat jelas, mereka mengikuti yang batil. Jadi siapakah sebenarnya mereka tersebut ? Orang-orang yang beriman atau orang-orang kafir ?

    Wahai saudara-saudariku para pengkaji ilmu tauhid… marilah kita sama-sama menghati-hatikan diri serta keluarga kita dengan berusaha untuk mencerna serta memahami firman Allah berikut ini (artinya) : “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. 6:112)

    – Kami pernah berdialog dengan seorang da’i dan juga membaca tulisan yang menjadikan fatwa syaikh Ibnu Baz rahimahullah sebagai pembenaran untuk ikut “mendukung” aktivis dakwah di parlemen.
    Untuk itu kami mengajak agar sama-sama membuang dan mengikis fanatisme dengan berusaha memahami pejelasan berikut ini :

    Syaikh Muhammad Nasiruddin Albani rahimahullah di dalam kitab sifat shalat nabi saw, telah mengutip sebuah riwayat perkataan imam Abu Hanifah rahimahullah. Disebutkan bahwa beliau berkata : “Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan hadits Rasulullah, tinggalkanlah pendapatku itu” dan beliau juga berkata : ”Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya”

    Padahal sebagaimana yang telah pula kami kutip sebelumnya bahwa syaikh Ibnu Baz berkata : ”…….. dan pemutusan dengan selain syari’at Allah maka dia itu kafir dengan ijma kaum muslimin” dan dalam sebuah risalahnya, beliau mensifati pemutusan dengan qawanin wadl’iyyah bahwa: “Ia itu adalah kerusakan yang besar, kekafiran yang nyata, dan kemurtaddan yang terbuka”,

    Bagaimana kalian menjadikan fatwa syaikh sebagai rujukan ? Apakah kalian tidak dapat memahami ?

    – Dan berbagai syubhat yang lainnya.

    Sebelum kita akhiri kajian tentang tauhid pada kesepatan kali ini, maka satu hal yang juga ingin kami sampaikan, yaitu mengenai adanya orang-orang yang jahil tentang ilmu tauhid yang shahih serta kelompok da’i yang sengaja ingin membuat rancu terhadap ilmu yang paling agung ini dengan melakukan berbagai pengkaburan, diantaranya dengan menyematkan predikat kelompok takfiri atau Khawarij terhadap para penyampai yang di dalam penyampaiannya sering menyebut kata-kata; musyrik, kafir, murtad, munafik, persaudaraan, permusuhan.

    Sebenarnya kata-kata yang akan sering didengar oleh jamaah adalah sangat tergantung dengan topik bahasan. Ketika para da’i menyampaikan masalah fiqih ibadah atau muamalah, maka kata-kata yang akan sering didengar oleh para jamaah adalah; syarat, rukun, sah, batal, fardhu, wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram, dll.
    Namun ketika para da’i membahas masalah akhlaq, maka jamaah tentu akan sering mendengar kata-kata; amanah – khianat, sabar, syukur, menepati janji – ingkar janji, jujur – bohong/dusta, dermawan – pelit, ramah tamah – galak, santun – pemberang, pemberani – pengecut, dlsb.
    Sedangkan bagi para da’i yang membahas masalah tauhid, maka jamaah tentu akan sering mendengar kata-kata; musyrik, kafir, murtad, munafik, zalim dan fasiq, begitu pula kata-kata; saudara – musuh, loyal – benci, dll. Jika ada jamaah yang bersikap alergi dengan kata-kata; musyrik atau kafir atau musuh (permusuhan), maka sesungguhnya dia telah bersikap alergi terhadap firman Allah , karena al Qur’an penuh dengan kata-kata tersebut.

    Perhatikanlah ayat-ayat berikut ini yang Allah perintahkan kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikannya kepada kafir Quraisy Mekkah, padahal ketika itu umat Islam masih sangat sedikit serta sangat lemah. Firman Allah (artinya) : Katakanlah: “Hai orang-orang kafir!” (QS. 109:1) aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (QS. 109:2)

    Juga pelajaran dari nabi Ibrahim AS, sebagaimana firman Allah berikut ini (artinya) : Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…….. (QS. 60:4)

    Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. (QS. 26:69) Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?” (QS. 26:70)………………………………………… karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb Semesta Alam, (QS. 26:77)

    سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ {} وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ {} وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {

  15. Anton Minardi berkata:

    Assalamu’alaikum wrwb.
    Tulisannya bagus, saya ambil untuk MK. Ekopolin..
    Kumaha damang kang Asep?
    Abdi Anton Minardi dosen HI Unpas.
    Di manten ayeuna? oh ya abdi nyerat buku:
    1. Negara Menurut Islam: Perspektif PKS-HT.
    2. HI Perspektif Islam.
    3. Islam dan Sains.

    Jazakallhu khairon katsiro.

  16. Anton Minardi berkata:

    Resolusi Islam Untuk Konflik Internasional
    Oleh: Dr. Anton Minardi
    (Dosen HI Unpas dan Peneliti pada Institute of Democracy, Economy and Authority Studies/ IDEAS)

    Pendahuluan
    Dunia ini selalu diwarnai dengan kompetisi, konflik dan perdamaian. Setiap manusia memiliki kepentingan yang terkadang berbeda satu sama lainnya, sehingga benturan antar kepentingan juga sulit dihindari. Tetapi mungkinkah kepentingan yang berbeda tersebut tidak berbenturan tetapi menjadi saling menghargai atau bahkan sinergi? Mungkin hal tersebut tidak mustahil terjadi ketika semua pihak dapat menyadari posisi dan perannya masing-masing. Dimana setiap orang memiliki empati untuk saling menghargai dan memenuhi kebutuhan hidupnya.
    Konflik tidak dapat dihindari ketika para pihak tidak menyadari posisi dan perannya masing-masing, ditambah juga karena tidak mau menghargai perbedaan. Konflik dapat bersumber dari perbedaan pemahaman, kepentingan, sikap dan tindakan. Konflik dapat berupa perselisihan pendapat, perbedaan kepentingan maupun benturan tindakan.
    Konflik dapat terjadi pada keluarga, masyarakat, negara dan internasional. Konflik keluarga biasanya disebabkan karena rasa tidak adil dan rasa cemburu pada anggota keluarga; konflik masyarakat dapat disebabkan karena perbedaan kepentingan kelompok; konflik pada tingkat negara biasa terjadi antara kepentingan yang berbeda antar masyarakat atau masyarakat dengan negara; dan konflik internasional terjadi di antara perbedaan kepentingan individu atau masyarakat dengan individu atau masyarakat di negara lain, atau antar negara dengan masyarakat atau dengan negara lainnya. Konflik pada tingkat keluarga dan masyarakat biasanya dapat diselesaikan melalui musyawarah, perjanjian atau proses pengadilan, sementara konflik pada tingkat negara dan internasional harus diselesaikan dengan proses mediasi dan yudikasi atau pengadilan. Konflik pada tingkat keluarga, masyarakat dan tingkat negara tersebut membawa dampak yang cukup luas, tetapi konflik internasional menyebabkan dampak yang jauh lebih luas bahkan dapat mempengaruhi peradaban manusia.
    Konflik internasional pada masa Perang Dunia I dan II berkisar pada konflik politik ekspansi wilayah teritorial dan konflik militer. Selama Perang Dingin (Cold War) terjadi konflik ideologi dan politik antar dua kutub kekuatan Komunis dengan Demokratis. Pasca Perang Dingin konflik beralih kepada pertama konflik Peradaban dimana seolah-olah Barat menghadapi Peradaban Timur khususnya Islam. Kedua, konflik terjadi di seputar kemanusiaan; ketiga, distribusi sumber daya alam, keempat lingkungan hidup; dan kelima, hak cipta. Konflik di seputar kemanusiaan meliputi konflik antar etnis, pelanggaran hak azasi manusia, migrasi manusia (illegal migration), penyelundupan dan penjualan manusia (human smuggling and trafficking), peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang (drug abuse), pekerja di bawah umur, dan pelecehan seksual terutama pada wanita. Konflik mengenai distribusi sumber daya alam meliputi praktek penyelundupan hasil-hasil bumi, produk-produk illegal, pencemaran produk dan penyebaran virus serta berbagai wabah lainnya. Konflik di seputar lingkungan meliputi kerusakan hutan akibat penebangan liar (illegal lodging) yang mengakibatkan kegundulan hutan dan longsor, pemancingan liar (illegal fishing), kerusakan lingkungan akibat industrialisasi, kekurangan air bersih, pemanasan global (global warming). Sementara konflik mengenai hak cipta meliputi perebutan hak merek, pembajakan hak cipta dan penjiplakan karya.
    Zaman terus bergulir dunia semakin tua. Manusia semakin banyak sementara sumber daya alam semakin menipis. Sumber daya alam yang terbatas itu harus dibagi kepada jumlah manusia yang semakin banyak. Permintaan semakin banyak sementara persediaan semakin sedikit, menyebabkan harga-harga semakin tinggi. Semakin terbatasnya sumber daya alam dan tingginya harga-harga membuat berbagai negara harus melakukan penghematan bahkan proteksi, atau menjaga keamanan sumber daya alam sekaligus mengamankan penguasaan terhadapnya. Setiap negara merasa perlu untuk mengamankan aset-asetnya dan mengamankan seluruh kepentingannya baik yang ada di negaranya atau di luar negaranya. Aset-aset itu termasuk bahan-bahan produksi, situasi dan kondisi yang mendukung serta pasar bagi hasil-hasil produknya.
    Kondisi sumber daya alam seperti itulah yang telah mendorong dunia internasional untuk lebih peduli terhadap masalah-masalah distribusi kebutuhan hidup manusia dibanding mengurus masalah-masalah ideologi. Selain itu manusia saat ini dituntut untuk melakukan efisiensi dalam menggunakan sumber daya alam terutama minyak dan gas, air serta kekayaan hutan. Kita dituntut juga untuk mencari sumber daya lainnya sebagai pengganti sumber energi minyak dan gas dengan sumber daya alamiah lainnya yang ramah lingkungan. Keterbatasan sumber daya alam itulah yang telah memicu persaingan antara negara atau masyarakat untuk dapat lebih banyak menguasai sumber-sumber berharga dan hampir langka tersebut.
    Tidak cukup peduli saja tetapi bagimana semua pihak menyiapkan upaya untuk “mengamankan” persediaan sumber daya alam, jalur distribusinya dan pemanfaatannya. Berbagai upaya ditempuh agar persediaan sumber daya alam mencukupi, distribusi lancar dan aman, kualitas hidup manusia meningkat dan lingkungan sekitar sehat. Bagaimana pun konflik sulit dihindari karena masing-masing pihak baik masyarakat maupun negara berjalan sesuai frame of reference masing-masing yang berbeda. Hal tersebut dapat kita lihat dari praktek negara yang berdasarkan sosialisme, komunisme, liberalism dan Islam. Nampaknya konflik saat ini lebih dipengaruhi oleh praktek liberalism, maka masyarakat dunia temotivasi untuk melakukan perebutan dan penguasaan terhadap sumber-sumber daya alam dan jalur-jalur distribusinya. Lalu saat ini Islam disebut-sebut sebagai alternative bagi terwujudnya dunia yang lebih sehat, berkualitas dan sejahtera, dengan alasan bahwa Islam mengajarkan praktek ekonomi dan politik yang berkeadilan. Begitu pula bahwa Islam diketahui memberikan solusi bagi konflik yang berlangsung saat ini.

    Masalah
    Konflik dapat dikategorikan sebagai konflik konvensional dan non konvensional. Konflik konvensional mencakup konflik ideologi, politik dan militer. Sementara konflik non konvensional mencakup konflik ekonomi, kemanusiaan, lingkungan dan peradaban. Tulisan ini bertujuan menawarkan bagaimana Islam memberikan solusi terhadap konflik yang terjadi saat ini. Secara umum solusi Islam bagi konflik internasional itu bersifat preventif (mencegah) dan kuratif (mengobati). Islam semenjak awal mengingatkan bahwa setiap kerusakan di muka bumi ini akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. “Telah nyata kerusakan di bumi dan lautan karena ulah manusia” (Al-Qur’an).
    Pada awalnya kerusakan di muka bumi itu berasal dari dua sebab. Pertama, kesalahan dalam berfikir. Kedua, ketidak sabaran manusia. Penyebab kerusakan pertama dimana manusia memisahkan antara manusia dan alam dengan Tuhannya. Pengkajian mengenai manusia, alam dan Ketuhanan seolah tidak ada kaitannya, masing-masing pengkajian berjalan sendiri-sendiri. Sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan adalah sekuler dan telah menghasilkan peradaban yang sekuler pula. Suatu produk automotive mereka Honda diproduksi beserta dengan buku petunjuk operasional dan buku service nya. Tidak akan cocok jika merek tersebut menggunakan buku petunjuk operasional dan buku service nya merek Suzuki. Meskipun ada kesamaan tetappi dapat dipastikan tidak akan sama persis. Manusia diciptakan dengan hukum-hukum kemanusiaannya, begitu pun dengan monyet pasti diciptakan dengan hukum-hukum kemonyetannya. Kita dapat bayangkan apabila manusia menggunakan hukum monyet dan monyet menggunakan hukum manusia. Kejadiannya adalah kekacauan, manusia akan berperilaku seperti monyet sedangkan monyet tidak akan hidup bebas dan tidak akan seperti manusia.

    Jika digambarkan menggunakan pola segitiga
    Posisi puncak ditempati oleh Tuhan (Allah SWT.), sebelah bawah sebenarnya alam karena selain Allah SWT. adalah alam. Hanya karena manusia sebagai aktor utama di bumi maka manusia diposisi sebelah kanan dan alam di sebelah kiri. Allah SWT. mempengaruhi manusia dan alam dengan hukum-hukum dan qudrah (perbuatan)-Nya. Manusia mempengaruhi alam, dan alam mempengaruhi manusia. Akan tetapi manusia dan alam tidak dapat mempengaruhi Allah SWT. dalam segala kondisi.
    Posisi tersebut berarti bahwa Allah SWT. yang telah menciptakan alam dan manusia beserta dengan aturan-aturan hidupnya. Tidak mungkin alam dan manusia hidup tanpa aturan dari-Nya. Jika alam dan manusia hidup dengan menjalani hukum-hukum yang tidak sesuai dengan hukum Allah SWT., maka akan rusak bahkan binasa. Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi tidak menyesuaikan diri dengan hukum-hukum ilahi tersebut, maka dapat diprediksi dan kenyataan menunjukkan kerusakan itu sedang berlangsung saat ini. Pengelolaan manusia dilakukan dengan aturan yang tidak “manusiawi”, dan pengelolaan alam lainnya juga menggunakan yang tidak “alami” hasilnya kerusakan yang terjadi. Manusia makan dan minum dengan makanan dan minuman manusia, berperilaku seperti fitrah manusia seharusnya. Alam dikelola, digunakan dan dieksploitasi secara “alami”. Ketika sebaliknya manusia memakan dan meminum yang bukan untuk manusia dan berperilaku tidak seperti manusia, pasti kerusakan dan degradasi moral terjadi. Begitu pula alam jika tidak dikelola tidak menurut karakter alamiahnya, pasti akan menuai bencana.
    Penyebab kedua yaitu ketidak sabaran manusia terhadap sumber daya alam dan hasil-hasil produk manusia. Ketidak sabaran manusia mewujud ke dalam perilaku untuk menguasai sumber daya alam secara maksimal dengan cepat. Pengambilan sebanyak-banyaknya sumber kekayaan alam untuk mengambil keuntungan dan dengan cara yang tidak mengindahkan ekosistem alam, mengakibatkan ketidak seimbangan alam. Ketidak seimbangan alam inilah yang menyebabkan bencana alam. Ketidak sabaran untuk memiliki dan menguasai berbagai produk manusia dilakukan dengan cara pencurian, pemilikan secara illegal, dan pengalihan hak milik orang lain secara tidak sah. Akibat dari perilaku tersebut maka akan ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. Pihak yang dirugikan itu akan melakukan Clash Action terhadap yang dianggapnya merugikan, akhirnya akan terjadi konflik dan ketegangan bahkan perang.
    Islam yang bersifat integralistik dalam ilmu dan amal perbuatan sesungguhnya tidak memisahkan antara ajaran Allah SWT. dengan pengelolaan alam dan manusia. Pembahasan mengenai Islam dalam memberikan solusi terhadap konflik akan dijelaskan melalui bagaimana Islam memberikan jawaban mengenai hak asasi manusia, lingkungan, ekonomi, politik, dan militer.

    Teori
    Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan konsep-konsep Islam dalam memberikan jawaban terhadap konflik yang bermula dari masalah hak azasi manusia, lingkungan, ekonomi, politik dan militer. Islam menurut penulis memandang konflik adalah suatu yang lazim terjadi. Hanya saja Islam tidak menghendaki konflik berujung pada perusakan dan penghancuran. Konflik diawali dengan adanya pertentangan antara kebenaran (al-haq) dan keburukan (al-bathil). Kebenaran berasal dari Allah SWT. sedangkan keburukan datangnya dari syetan. Walaupun sebenarnya syetan ini tidak sebanding dengan Allah SWT. sang khaliq, tetapi syetan telah mendeklarasikan diri untuk menyesatkan dan mencelakakan manusia. Manusia sendiri diciptakan secara fitrah akan melakukan pertentangan bahkan “pertumpahan darah”, hanya Islam menghendakinya dalam kerangka untuk menegakkan dan membela kebenaran (QS. Al-Baqarah:30).
    Konflik dalam Islam sebenarnya tidak dikehendaki, hanya ketika kebenaran akan ditegakkan aka nada pihak-pihak yang tidak menyukai tegak dan berjalannya kebenaran tersebut. Pihak tersebut adalah syetan dengan wadia balad-nya. Setiap ada upaya untuk melaksanakan ajaran kebenaran Ilahi pasti aka nada upaya untuk menghalang-halangi dan menyimpangkan dari jalan kebenaran itu. Kenapa demikian, karena syetan telah ditetapkan sebagai penghuni Neraka secara kekal dan mereka menghendaki supaya banyak yang menemaninya di sana. Hal demikian juga karena mereka dengki kepada Adam as. yang dianggapnya telah membuat dia dikutuk oleh Allah SWT. Sehingga syetan ingin membalasnya dengan berupaya sekuat tenaga menyesatkan anak cucu dan keturunan Adam as. Islam sesuai namanya sesungguhnya menghendaki kedamaian, keselamatan agar terwujudnya kesejahteraan. Konflik yang akan terjadi sedapat mungkin dihindari oleh umat Islam, selama tidak menyangkut urusan aqidah (keyakinan). Artinya bahwa jika ada upaya pemurtadan dan upaya paksa untuk meninggalkan keyakinan Islam, maka wajib hukumnya untuk berkonflik atau mengadakan perlawanan. Tetapi jika urusannya hanya perbedaan kepentingan sosial, ekonomi dan politik Islam tidak menganjurkan untuk berkonflik, malahan Islam menganjurkan untuk kerja sama. Kerja sama tersebut dilakukan dalam urusan keduniaan semata dan selama tidak mencampuradukkan agama.
    Maswadi Rauf mendefinisikan konflik adalah sebuah gejala sosial yang selalu terdapat di dalam setiap masyarakat dalam setiap kurun waktu. Konflik dapat diartikan sebagai setiap pertentangan atau perbedaan pendapat antara paling tidak dua orang atau kelompok. Bila konflik tersebut tidak dapat diselesaikan, ia dapat meningkat menjadi konflik fisik, yakni dilibatkannya benda-benda fisik dalam perbedaan pendapat .
    Paling tidak ada empat ciri konflik. Keempatnya adalah: 1) ada dua atau lebih pihak yang terlibat, 2) mereka terlibat dalam tindakan-tindakan yang saling memusuhi, 3) mereka menggunakan tindakan-tindakan kekerasan yang bertujuan untuk menghancurkan, melukai, dan menghalang-halangi lawannya, dan 4) interaksi yang bertentangan ini bersifat terbuka sehingga bisa dideteksi dengan mudah oleh para pengamat yang independen .
    Beberapa model penyebab konflik: 1) Teori konflik Clifford Geertz menyatakan bahwa penggunaan nilai-nilai primordial (hubungan darah, agama, suku, bahasa, asal daerah, adat istiadat) dalam politik adalah sesuatu yang harus dihindari . 2) Teori Maurice Duverger menyatakan bahwa konflik dapat ditimbulkan oleh sifat-sifat pribadi dan karakteristik kejiwaan yang dimiliki oleh individu. Konflik terbagi dua yaitu konflik individu dan konflik kelompok. Konflik individu disebabkan adanya bakat-bakat individual dan sebab-sebab psikologis. Sedangkan konflik kelompok adalah perjuangan kelas, isu-isu rasial, dan konflik antara kelompok horizontal . 3) Teori Karl Marx menyatakan bahwa konflik dapat ditimbulkan karena faktor ekonomi. Faktor ekonomi ini yang telah menimbulkan solidaritas kelompok (Kelas). Terjadi pengelompokan pada dua kelompok atau kelas yaitu kelas orang kaya dan kelas orang miskin. Kedua kelas ini dibedakan oleh kepemilikan alat-alat produksi. Kelas orang kaya terdiri dari orang-orang yang memiliki alat produksi, sedangkan kelas miskin adalah mereka yang tidak memilikinya. 4) Teori James C. Scott yang menyatakan bahwa konflik berasal dari hubungan patron-klien. Scott memberikan definisi kelompok patron-klien sebagai hubungan dyadic (dua orang) yang terdiri dari seorang dengan status sosioekonomi yang lebih tinggi (patron) yang menggunakan pengaruh dan sumber-sumber kebutuhan hidup (resources) yang dimilikinya untuk memberi perlindungan dan keuntungan bagi orang lain (klien) yang membalasnya dengan memberikan dukungan dan bantuan, termasuk pelayanan pribadi, bagi patron .
    Berdasarkan 4 model konflik di atas, justru Islam yang tidak memandang keempat faktor tersebut sebagai sumber konflik. Malah sebaliknya bahwa Islam memandang bahwa perbedaan itu adalah fitrah dan sumber potensi untuk sebuah kemajuan. Islam menurut penulis mengakui akan adanya perbedaan secara primordial, perbedaan karakter dan sifat individual, perbedaan kelas ekonomi dan perbedaan patron-klien. Keempat perbedaan tersebut ditujukan untuk menguji siapa yang paling baik amal-amalnya selama hidup (QS. Al-Mulk:2). Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi sama dan setara yaitu fitrah dan tidak mengetahui serta tidak memiliki apa pun. Prestasi manusia tidak dipandang dari kepemilikan dan kedudukan orang tuanya tetapi dipandang dari seberapa berilmu dan upaya yang bersangkutan dalam kehidupannya. Adapun seseorang lahir dari keluarga yang memiliki tingkat kehidupan yang lebih baik dari yang lainnya, maka padanya diberikan beban untuk membantu orang yang kekurangan.
    Sesungguhnya manusia diciptakan secara berbeda. Berbeda jenis kelamin, suku dan bangsa. Perbedaan tersebut justru dimaksudkan untuk suatu integrasi (ta’aruf), yaitu saling mengenal agar saling melengkapi (QS. Al-Hujurat:13). Allah SWT. sengaja tidak menciptakan manusia dengan bentuk, bahasa, keahlian dan kemampuan yang sama, tujuannya adalah agar terjadi kerja sama dan keharmonisan. Lebih dari 5 milyar manusia di muka bumi ini tidak ada yang sama baik dalam bentuk maupun rupa. Semua itu diciptakan-Nya agar menjadi bukti kebenaran Ilahi dan mendorong manusia bersyukur kepada-Nya. Konflik yang terjadi di tengah-tengah manusia disebabkan karena manusia itu tidak memerankan tugas dan fungsinya secara baik. Jika tugas dan fungsinya manusia dijalankan dengan baik dan benar pastilah tidak akan terjadi kecemburuan sosial yang akan mendorong kepada konflik. Konflik dalam Islam ditolerir selama berkaitan dengan kompetisi dan berkaitan dengan upaya ibadahnya manusia kepada Ilahi. Konflik di luar itu tidak dapat dibenarkan oleh Islam.
    Islam mengajarkan bahwa kehadiran risalah Islam di muka bumi ini adalah sebagai rahmat bukan sebagai pemicu konflik. “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya:107). Ajaran ini wajib diajarkan kepada seluruh umat, tetapi tidak ada paksaan bagi siapa saja yang menolaknya. “Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah jelas petunjuk kebenaran dari kesesatan” (QS. Al-Baqarah:256). Islam justru memotivasi manusia untuk memilih jalan keselamatan dengan cara mengikuti hukum alam (sunnatullah). Setiap perbedaan potensi yang ada diarahkan untuk mencapai “Ridho Ilahi” bukan untuk saling menguasai, apalagi saling melemahkan. Semua potensi manusia ditujukan untuk berbuat kebaikan di dunia ini, untuk mendapatkan balasan yang baik dalam kehidupan nanti di akhirat. Islam mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini juga bukan babak akhir hidup manusia, tetapi ini adalah babak setelah alam ruh dan alam rahim. Setelah kehidupan dunia ini kita akan mengalami dua alam lagi yaitu alam barzakh (kubur) dan alam akhirat yaitu alam terakhir di mana kita akan kekal hidup selamanya di sana.
    Kehidupan dunia ini bukan yang terakhir jadi bukan tempat manusia untuk merasakan dan melakukan apa saja, tetapi dunia ini menurut Islam adalah tempat di mana kita dituntut untuk melakukan yang terbaik dalam hubungannya dengan Tuhan dan hubungannya dengan manusia. Setelah itu kita akan dievaluasi selama hidup di dunia untuk mendapatkan balasannya di akhirat. Dengan demikian manusia tidak melakukan apa yang terlarang dilakukan dan menjalankan apa yang seharusnya dijalankan. Apabila itu dapat dilakukan dengan baik maka yang terwujud adalah keadilan dan kesejahteraan bersama. Konflik akan minimal, dan kemajuan akan dicapai secara lebih pesat.
    Itulah sebenarnya yang diharapkan. Konflik yang minimal dan keharmonisan yang terjadi itu akan banyak membawa dampak positif terhadap lingkungan. Keharmonisan yang terjadi dapat mencegah manusia untuk saling menguasai, sehingga salah satu wujud konkrit adalah tidak akan terjadi perebutan penguasaan sumber daya alam. Jika perebutan sumber daya alam tidak terjadi maka tidak akan mungkin timbul perang, dan pasti akan mencegah munculnya korban. Tetapi Bagaimana pun saat ini konflik telah terjadi, perebutan sumber daya alam dan konflik kemanusiaan sedang berlangsung. Jalan yang banyak ditempuh adalah menjaga dan mengamankan sumber-sumber kebutuhan dan kelangsungan hidup masyarakat dan negara.
    Keterbatasan sumber daya alam dan distribusinya, pergerakan manusia dari suatu daerah menuju daerah lainnya, serta klaim hak intelektual yang sering terjadi menimbulkan perlu adanya upaya pengamanan (securitization). Security is about survival. It is when an issue is presented as posing an existential threat to a designated referent object (traditionally, but not necessarily, the state, incorporating government, territory, and society) .
    Seiring dengan perkembangan pengelolaan sumber daya alam, kepentingan manusia dan posisioning para pemegang otoritas, saat ini konflik memasuki era baru. Konflik tersebut menurut The Copenhagen School meliputi : military security, as well as environmental, economic, societal and political security .
    Konflik saat ini lebih banyak terjadi pada bidang militer, lingkungan, ekonomi, sosial dan politik. Konflik di bidang militer diakibatkan adanya persaingan kemampuan pasukan dan persenjataan militer, persaingan bisnis militer, sampai dengan memperkuat jangkauan wilayah kekuasaan (hegemoni). Konflik di bidang lingkungan akibat industrialisasi yang tidak memperhatikan kelestarian ekosistem, penebangan hutan secara liar, peladang berpindah, atau kebakaran hutan. Konflik di bidang ekonomi akibat terjadi ketimpangan pembangunan, migrasi dari daerah minim ke daerah yang plus secara illegal, persaingan yang tidak setara antara pemilik modal dengan yang tidak memiliki modal, pencurian hasil laut, pembajakan, dan sengketa sumber daya alam. Konflik di bidang sosial diakibatkan ketimpangan tingkat pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat, penyelundupan dan penjualan manusia, peredaran narkoba, dan konflik etnis. Konflik di bidang politik terjadi adanya perbedaan ideologi dan kepentingan, cara-cara fitnah dan kekerasan dalam mencapai tujuan, separatisme dan perlawanan terhadap kepentingan asing.
    Menurut Islam konflik yang terjadi saat ini adalah bukan hanya dapat diselesaikan dengan cara pengamanan (securitization) terhadap aset-aset vital bagi kehidupan. Penyelesaian dengan cara pengamanan tersebut sebenarnya akan menimbulkan masalah yang baru yaitu berbagai pihak yang memiliki berbagai kepentingan tersebut akan berusaha mengamankan kepemilikan di dalam negerinya dan berupaya menguasai sumber-sumber daya alama yang ada di luar negerinya. Islam memberikan solusi yang lebih komprehensif, yaitu pertama, dengan mengembalikan kepada fungsi fitrah manusia. Kedua, mengembalikan posisi fitrah lingkungan (alam). Ketiga, mendudukkan manusia secara setara dengan tidak membeda-bedakan ras, bangsa dan negara untuk duduk bersama dalam menangani berbagai persoalan dunia.
    Tawaran Islam ini pastilah sangat idealis, tetapi realitas konflik yang saat ini berlangsung memang karena manusia meninggalkan tuntutan idealitas semestinya. Untuk itu penulis memandang bahwa perlu dibahas tema-tema berikut ini yaitu: Islam dan Hak Azasi Manusia, Islam dan Lingkungan, Islam dan Ekonomi, Islam dan Politik dan Islam dan Militer.
    Pembahasan
    Islam merupakan sistem kehidupan bagi terpelihara dan tertibnya kelangsungan hidup alam semesta. Islam adalah aturan operasional alam dan manusia untuk menjalani kehidupannya. Secara general syari’at Islam itu sendiri bertujuan untuk : Pertama, menjaga agama. Kedua, menjaga diri. Ketiga, menjaga harta. Keempat, menjaga keturunan. Kelima, menjaga lingkungan.
    Kelestarian dan kesejahteraan alam dan manusia akan tercapai jika Islam dilaksanakan. Agar kondisi tersebut terwujud maka Islam mengarahkan manusia mulai dari urusan kelahiran manusia, perilaku dalam hidup, sampai kepada urusan kematian. Urusan kelahiran tercakup dalam bahasan mengenai hak azasi manusia; urusan perilaku hidup tercakup dalam bahasan mengenai lingkungan, ekonomi, politik dan militer. Sementara mengenai kematian, Islam mengarahkan semua urusan kelahiran dan perilaku hidup semuanya untuk menjemput kematian dan semua aktifitas dalam kehidupannya diarahkan sebagai upaya membekali diri untuk menjalani kehidupan yang abadi setelah kematian tersebut.
    Islam dan Hak Azasi Manusia
    Banyak pertanyaan mengenai hak azasi manusia dalam Islam. Sebagian kalangan menilai Islam sebagai agama diskriminatif. Islam dianggap tidak toleran dengan non muslim, melecehkan kaum perempuan dan memelihara perbudakan. Hal yang demikian itu mungkin dikarenakan pandangan yang sempit dan terkadang diawali dari sikap yang antipasti terhadap Islam. Pandangan seperti itu juga dapat dikarenakan akibat dari segelintir ulah oknum yang hidup tidak Islami.
    Islam mendudukkan derajat manusia secara egaliter (sederajat). Setiap kelahiran manusia baik yang lahir dari keturunan keluarga muslim ataupun non muslim dianggap sama yaitu dalam kondisi fitrah (suci). Setiap manusia dipandang sama dan sederajat. Manusia lahir dalam kondisi tidak membawa ilmu pengetahuan dan kemampuan apa pun dan juga tidak membawa dosa apa pun dan siapa pun. Di sini lah letak dari keadilan Islam. Manusia berangkat dari kondisi yang sama, tetapi masa depan selanjutnya sangat tergantung pada orang tua yang membesarkannya dan dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang akan menempatkan dirinya pada posisi apa dan posisi di mana.
    Islam tidak memandang manusia dari jenis kelamin, wajah dan bentuk tubuhnya. Begitu juga Islam tidak memandang manusia dari daerah, suku, ras, bangsa dan bahasanya, tetapi yang dilihat adalah bagaimana dia berperilaku terhadap Tuhannya dan terhadap masyarakat dan lingkungannya. Pria atau pun wanita sama dalam pandangan Islam, yang berbeda hanyalah fungsi dan perannya. Pria yang bekerja di luar rumah tidak lebih mulia disbanding dengan wanita yang mengurus rumah tangganya. Pria yang berjuang secara fisik di medan perang tidak lebih mulia daripada wanita yang berjuang di dalam rumahnya. Orang tua yang beramal tidak lebih mulia dibanding orang muda yang juga beramal. Kemuliaan seorang manusia di dalam Islam bukan dilihat dari fisiknya tetapi dilihat dari hati dan amal sholehnya sebagai perwujudan dari taqwa kepada Allah SWT. (QS. Al-Hujurat (49):13). Islam membedakannya pada aspek keikhlasan dalam beramal dan amal tersebut sesuai dengan tuntunan syari’at Islam.
    Syri’at Islam dalam bidang hak azasi manusia menjamin hak dasar hidup, kehormatan, kepemilikan, keamanan dan kebebasan. Islam sangat berempati terhadap kebutuhan manusia dan menempatkan hak dan kewajiban secara proporsional. Syari’at Islam melindungi agar tidak ada yang tersakiti dan tidak boleh ada yang terdzolimi. Untuk mencapai tujuan tersebut Islam memberikan hukuman yang tegas bagi para pelanggar hak azasi manusia. Para pelanggar hak azasi manusia dapat dikenakan hukuman hudud dan ta’jir yang dapat berupa hukuman denda sampai dengan hukum bunuh bagi para pembunuh.
    Islam melindungi manusia lahir dan bathinnya. Mulai dari hak hidup, hak milik, keadilan sampai dengan hak untuk mendapatkan pendidikan dijamin dalam Islam. Islam menegaskan bahwa hak azasi manusia baik yang muslim maupun non muslim, laki-laki maupun perempuan dilindungi undang-undang;
    1. Hak hidup (QS. Al-Isra:33, Al-An’am:151);
    2. Hak milik (QS. Al-Baqarah:188, An-Nisa:29);
    3. Perlindungan kehormatan (QS. Al-Hujurat:11-12);
    4. Keamanan dan kesucian kehidupan pribadi (QS. An-Nur:27, Al-Hujurat:12);
    5. Keamanan kemerdekaan pribadi (QS. Al-Hujurat:6);
    6. Perlindungan dari hukuman penjara yang sewenang-wenang (QS. Al-An’am:164);
    7. Hak untuk memprotes kezaliman (tirani) (QS. An-Nisa:148, Al-Maidah:78-79, Ali Imran: 110);
    8. Kebebasan ekspresi (QS. At-Taubah:71);
    9. Kebebasan hati nurani (QS. Al-Baqarah:256);
    10. Status warga negara non muslim dalam negara Islam dilindungi (hadits riwayat Abu Dawud);
    11. Kebebasan berserikat (QS. Ali Imran:104-105);
    12. Kebebasan berpindah (QS. Al-Baqarah 84-85);
    13. Persamaan hak dalam hukum (QS. An-Nisa:1, Al-Hujurat:13);
    14. Hak mendapatkan keadilan (QS. Asy-Syura:15);
    15. Hak mendapatkan kebutuhan dasar hidup manusia (QS. Adz-Dzariyat:19);
    16. Hak mendapatkan pendidikan (QS. Yunus:101) .
    Secara khusus hak-hak umat dari kalangan non muslim yang telah berdamai dan mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin mendapatkan jaminan dari Islam. Allah SWT. berfirman: “Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Mumtahanah (60):8). Menegaskan peraturan tersebut Rasulullah SAW. bersabda: “Ingatlah! Barangsiapa yang bertindak keras dan dzalim kepada orang-orang ini (warga Negara kafir dzimmiy) atau merampas hak-hak mereka, atau membebani mereka lebih dari yang dapat mereka tanggung, atau memaksakan apa pun yang bertentangan dengan kehendak bebas mereka, aku sendirilah yang akan menuntut dia di Hari Pembalasan” .
    Islam dan Lingkungan
    Alam semesta termasuk manusia adalah ciptaan Allah SWT. yang diciptakan sesuai dengan kefitrahan-Nya. Allah SWT. menghendaki ciptaannya dapat terjaga dan lestari dapat memberikan manfaat yang besar bagi seluruh makhluk-Nya. Supaya alam tersebut terjaga dengan baik, maka Allah SWT. menciptakan aturan-aturan-Nya (sunnatullah) untuk dijalankan oleh alam itu sendiri. Makanya alam semesta hidup dan bergerak pada posisinya masing-masing sesuai sunnatullah. Begitu juga dengan bumi yang hidup berdasarkan dengan sunnatullah tersebut. Untuk menjaga kelestarian, keindahan dan kesucian bumi itu Allah SWT. menciptakan manusia untuk memimpin dan memelihara bumi dan segala isinya sesuai fitrahnya. Hal tersebut juga mungkin karena bumi tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Manusia itu dibekali dengan Sunnatullah yaitu wahyu yang telah diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya untuk mengelola bumi dengan baik dan benar.
    Manusia ditempatkan di bumi bukan sekedar untuk memanfaatkan isi bumi, tetapi juga punya tanggungjawab untuk melestarikan bumi sesuai fitrahnya. Fitrah bumi akan terpelihara jika bumi dikelola sesuai sunnatullah. Sebaliknya kerusakan di bumi muncul karena manusia yang ditugasi sebagai pengelola tidak lagi melaksanakan apa yang diamanatkan Allah SWT. kepadanya. Di sini lah posisi manusia sebagai kholifah yaitu sebagai pelaksana sunnatullah di bumi. Allah SWT. telah berpesan: “…dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qoshosh:77). “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesudah Tuhan memperbaikinya” (QS. Al-A’rof:85).
    Manusia mungkin sering lupa dan dilupakan karena asyiknya menikmati isi bumi. Saking asyiknya manusia lupa akan tugas-tugasnya sebagai kholifah. Lalu nampaklah segala kerusakan dan kehancuran isi bumi dan penghuninya seperti sekarang ini. Hutan gundul, sungai kotor, laut tercemar, udara panas, dan tanah tandus. Akibatnya berbagai bencana alam terjadi dan manusia sendiri di antara yang menjadi korbannya. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka, sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Rum:41).
    Islam mengehendaki lingkungan yang bersih dan sehat, untuk itu mewajibkan kepada setiap manusia untuk memelihara lingkungan sekitar. Islam menghendaki manusia hidup berkualitas dengan lingkungan yang terpelihara. Lingkungan terpelihara dengan baik ketika hutan tetap terjaga, air dapat diserap dengan baik, dan menghasilkan kehidupan manusia yang sehat. Sabda Rasulullah SAW.: “Tiga hal yang menyejukkan pandangan, yaitu: menyaksikan pandangan pada yang hijau (asri), pada air yang mengalir jernih, dan wajah rupawan” .
    Untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan manusia hendaknya menyadari kembali akan fungsi dan tugasnya sebagai kholifah. Kelestarian bumi adalah tanggung jawab manusia, dan kondisi bumi mempengaruhi kualitas manusia. Selain karena kualitas manusia sangat terpengaruh oleh lingkungan, juga karena manusia harus mempertanggungjawabkan tugas memelihara bumi kepada Allah SWT. Oleh sebab itu manusia dituntut untuk terus memelihara asset-aset bumi dan memperbaiki lingkungan yang sudah rusak.
    Islam dalam hal lingkungan hidup memberikan tuntunan sebagai berikut:
    1. Manusia sebagai makhluk Allah SWT.
    a. Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Sebagian menjadi hina dan sebagian mulia. Yang mulia adalah orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (QS. At-Tin:4-6).
    b. Manusia akan dilihat dari rasa syukurnya dan tanggung jawabnya (QS. Al-Mulk:23 dan Al-Isra:36).
    2. Manusia sebagai kholifah Allah di bumi.
    a. Manusia dilebihkan dengan kelebihan yang sempurna di atas makhluk lainnya. Semuanya diciptakan untuk beribadah kepadanya (QS. Al-Isra:70 dan Adz-Dzariyat:56).
    b. Amanah kholifah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung tetapi semuanya menolak karena khawatir akan mengkhianatinya. Lalu dengan kedzoliman dan kebodohannya manusia menerima amanah kholifah tersebut (QS. Al-Ahzab:72).
    3. Interaksi manusia dengan lingkungannya.
    a. Alam semesta berhubungan satu sama lainnya secara serasi dan seimbang semuanya tunduk di bawah satu kekuasaan Allah SWT. Yang Esa (QS. Al-Anbiya:22).
    b. Manusia agar memperhatikan lingkungan hidup dan menjaganya (QS. Al-An’am:11, Ar-Rum:9-10, Al-Baqorah:148).
    Sabda Nabi SAW.: “Janganlah kamu merugikan kamu sendiri dan diri orang lain” (Hadits Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah).
    4. Kewajiban umat manusia terhadap lingkungannya.
    a. Berdzikir kepada Allah SWT. dan bersyukur kepadanya (QS. Al-Baqoroh:152 dan
    Ibrahim:7).
    b. Merenungkan dan mentafakuri kejadian alam semesta dan lingkungan (QS. Yunus:101 dan Al-Ghasiyah:17-19).
    c. Meneliti dan mengkaji rahasia-rahasia kejadian alam, asal-usul kejadiannya, tujuan kejadiannya dan akhir kejadiannya (QS. Al-Ankabut:20, dan Ali Imron:190-191).
    d. Mempelajari kehidupan umat terdahulu untuk mengambil pelajaran dari kelebihan dan kekurangan mereka untuk menjadi pelajaran bagi masa mendatang (QS. Al-An’am:11 dan Ar-Rum:9-10).
    e. Memelihara kelestarian alam dengan memanfaatkan dan memakmurkannya (qs. Hud:61, Ar-Rum:41 dan Al-Qoshosh:77).
    5. Kewajiban umat Islam dalam pelestarian lingkungan hidup.
    a. Menjalani kehidupan dunia untuk mencapai kebaikan akhirat dengan berbuat baik di bumi dan takut kepada-Nya (QS. Al-Qoshosh:77 dan Faathir:27-28).
    b. Mewaspadai dan menghindarkan diri dari orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi (QS. Al-Baqoroh:11-12 dan 204-205).
    c. “Sesungguhnya Allah SWT. itu baik dan mencintai kebaikan, Dia itu mulia mencintai kemuliaan, Dia itu bagus dan mencintai kebagusan. Oleh karena itu bersihkan rumahmu” (Hadits:Al-Jami’us-Shoghir).
    d. “Jagalah kebersihan dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah menegakkan Islam di atas prinsip kebersihan. Dan tak akan masuk surga, kecuali orang-orang yang bersih” (Hadits Riwayat Thabrani).
    e. “Rasulullah SAW. melarang membuang hajat (kotoran) di bawah pohon yang sedang berbuah dan melarang pula membuang hajat (kotoran) di aliran sungai” (Hadits Ibnu Adi).
    f. “Hati-hati kamu dari tiga jenis kutukan. Para sahabat yang mendengar kemudian bertanya, apa yang dimaksud dengan tiga jenis kutukan tersebut. Nabi menjawab: “Orang yang membuang hajat (kotoran) di tempat yang biasa dipakai untuk berteduh, di tengah jalan atau di tempat sumber air” (Hadits Ahmad) .
    Islam dan Ekonomi
    Islam menganjurkan manusia untuk tidak melupakan kehidupan dunia walaupun menegaskan keharusan berorientasi kepada akhirat. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan kehidupan dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qoshosh:77).
    Manusia diperintahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara halal dan baik agar terjaga kesehatan diri dan sosialnya. “Wahai manusia manusia makanlah apa yang ada di bumi dari yang halal dan baik, dan janganlah kalian mengikuti cara-cara syetan, karena sesungguhnya mereka adalah musuh kalian yang nyata”. “Sesungguhnya dia menyuruh kalian kepada perbuatan jelek dan keji dan mengatakan atas nama Allah apa yang kalian tidak mengetahui (QS. Al-Baqoroh:167-168).
    Islam, barangkali hanya satu-satunya agama yang memberikan nilai sangat tinggi dan positif secara hukum terhadap aktivitas ekonomi. Hasil dari kegiatan ekonomi, dipertimbangkan sebagai rahmat Allah SWT. beberapa ayat Al-Qur’an di bawah ini, memberikan gambaran pikiran itu:
    “Maka, mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar” (QS. Ali Imron:174).
    “Dan, janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi (bantuan) kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah” (QS. An-Nur:22).
    “Apabila telah ditunaikannya sholat, maka bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS. Al-Jumuah:10).
    “Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah…” (QS. Al-Mujammil:20).
    Prinsip-prinsip ekonomi Islam adalah:
    1. Keadilan: “…untuk menegakkan hukum secara adil…” (QS. An-Nisa:58).
    2. Profesionalisme: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk memberikan amanah kepada ahlinya…(QS. An-Nisa:58).
    3. Anti Riba: “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…” (QS. Al-Baqoroh:275).
    4. Pemerataan Kesejahteraan dan Bukan Kapitalisme: “Agar (kesejahteraan) tidak hanya beredar di antara orang-orang yang kaya di antara kalian (saja)…” (QS. Al-Hasyr:7).
    5. Kerja sama: “Dan bekerja samalah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah bekerja sama dalam dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah:2).
    Ekonomi Islam tidak sama dengan komunisme atau pun kapitalisme. Islam membagi kepemilikan menjadi kepemilikan pribadi dan kepemilikan bersama. Kepemilikan individual melahirkan hukum warits sementara kepemilikan bersama memberikan kewenangan kepada negara untuk mengelola milik bersama tersebut. Kedua bentuk kepemilikan itu sesungguhnya ditujukan untuk kesejahteraan bersama. Kepemilikan individu memiliki tanggung jawab sosial terhadap kondisi ekonomi masyarakat sekitarnya (sekarang dikenal dengan corporate social responsibility, Islam lebih jauh lagi memiliki konsep individual sosial responsibility). Terutama negara memiliki tugas dan tanggung jawab yang utama untuk mensejahterakan masyarakatnya.
    Islam memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk mencari nafkah bagi kelangsungan hidupnya selama dilakukan dengan cara-cara yang dibenarkan syari’at, dan ditujukan untuk pengabdiannya kepada Ilahi. Akan tetapi menyangkut kepemilikan bersama Islam menetapkan regulasi yang jelas. Selain untuk menjaga eko sistem lingkungan tetapi juga untuk menghindari praktek monopoli. Rasulullah SAW. bersabda: “Kaum muslimin berserikat atas tiga perkara yaitu: air, api (energi) dan ladang gembala (tanah)” (Hadits). Ketiga hal tersebut merupakan sumber pokok kehidupan bersama jadi tidak boleh dimiliki oleh seseorang. Selain tiga hal tersebut manusia dibolehkan untuk melakukan praktek bisnis. Bisnis dalam Islam dibolehkan selama tidak melalaikan dari beribadah kepada Allah SWT.
    Individu di dalam Islam diberikan kebebasan untuk mengekspresikan kepentingan ekonominya selain dari tiga sumber kehidupan tersebut yaitu air, energi dan tanah. Sementara itu mengenai bidang-bidang ekonomi yang berkaitan dengan kebutuhan pokok bersama, negara berwenang untuk mengelola dan menentukan regulasinya untuk sebesar-besarnya kepentingan masyarakat. Untuk itu negara berwenang mendapatkan sumber-sumber pendapatan yang luas untuk membiayai pembangunan dan perjuangannya dalam mewujudkan kesejahteraan duniawi dan ukhrowi.
    Sumber pendapatan negara yaitu berasal dari : zakat (pengeluaran umat Islam sebagai pembersih dari hartanya), infaq, shodaqoh, hibah dan waqaf (pemberian umat Islam yang jumlahnya tidak ditentukan), ghanimah (harta rampasan perang), fa’i (harta yang dikembalikan dari kafir tanpa melalui peperangan), kharaj (sewa tanah dan pajak tanah), jizyah (pajak non muslim).
    Ciri khas ekonomi Islam yaitu Pertama, jelas berstandar halal dan haram. Kedua, ekonomi dilakukan dengan cara terbuka dan dengan saling ridho. Ketiga, ekonomi non ribawi. Keempat, menggunakan mata uang real (nyata) bukan hayalan seperti emas dan perak. Kelima, tidak bersifat judi (gambling). Keenam, jual-beli barang atau jasa secara nyata. Ketujuh, memberikan keleluasan individu untuk berkreasi dan sekaligus memberikan wewenang kepada negara untuk mengelola sumber daya alam untuk kepentingan masyarakat bersama .
    Islam dan Politik
    Islam memang diakui dan terbukti memiliki konsep dan sistem kehidupan yang sempurna. Semua aspek kehidupan tidak lepas dari pengaturan Islam yang memiliki sifat universal, agar manusia menemukan kesejatian hidupnya secara hakiki. Dalam kehidupan politik, menurut Bernard Lewis Islam menawarkan cakrawala pemikiran yang paling luas dalam berbagai formulasi gagasan, pada satu sisi mengenai norma-norma sosial dan hukum, sedangkan di sisi yang lainnya mengenai berbagai kebaikan dan aspirasi yang baru. Islam memberikan simbol-simbol yang paling efektif untuk mobilisasi politik, apakah untuk membangkitkan masyarakat untuk mempertahankan suatu rezim atau untuk melawan suatu rezim yang dianggap kurang memiliki legitimasi. Untuk dapat memahami politik Islam, perlu memahami gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan yang dipersepsikan serta diekspresikan dalam istilah-istilah Islam, kita harus berusaha memahami bahasa perdebatan politik di antara umat Islam, kata-kata yang mana yang digunakan dan yang dipahami, dan kerangka kerja yang mana yang biasanya digunakan dalam seluruh komunikasinya. Bahasa politik Islam yang orisinil yang menyangkut berbagai aspek dalam Islam ditunjukkan dalam Al-Qur’an, Sunnah Rasul, dan praktek dari kaum Muslim yang terdahulu .
    Bidang politik khususnya negara, sebagaimana sosial, ekonomi, militer, budaya, pertahanan dan keamanan, dijelaskan secara lebih rinci baik secara konseptual maupun praktis. Negara menurut para ahli politik dan kenegaraan Islam, dijelaskan secara rinci dalam peradaban Islam. Secara konseptual dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, secara praktis dicontohkan oleh Nabi SAW. dan Khulafa’ al-Rosyidin. Umat Islam tidak bisa hidup tanpa ”negara Islam”, karena terpisahnya umat dari negara dapat berarti mematikan ruh Islam itu sendiri. Hal tersebut dibuktikan dengan puluhan tahun umat Islam disekulerkan dan dijauhkan dari kehidupan politik, akhirnya seolah ”macan yang dikeluarkan dari hutan” diompongi giginya, dicabuti cakarnya, juga dikerangkeng.
    Negara jelas memiliki landasan teologis, historis, sosiologis, politis, dan praktis. Ibadah tidak akan sempurna bahkan tidak akan sah apabila syarat-syarat syari’atnya tidak dipenuhi. Seperti sholat yang mengharuskan menutupi aurat, atau haji yang membutuhkan alat transportasinya. Apalagi untuk menegakkan keadilan, maka mesti ada lembaga yang memiliki otoritas untuk menegakkan hukum dan rewardnya. Pakaian untuk menutupi aurat dapat berarti keharusan adanya pabrik pakaian, haji karena tempatnya jauh tentu membutuhkan kapal laut dan kapal udara berarti pesawat itu sendiri menjadi harus adanya. Maa laa yatimmu illa bihi fahuwa wajibun. Apalagi perintah-perintah dan isyarat mendirikan negara ada dalam nash Al-Qur’an dan Hadits. Terminologi Khalifah, Imam, Ulil Amri, Syura, Hakim, Jihad Amwal-Anfus, dan Jihad Qital di antara konsep-konsep dasar kenegaraan dalam Islam.
    Pertama landasan teologis, konsep kehidupan menunjukkan kedaulatan Allah
    SWT. yang dikonseptualisasikan melalui Trilogi Tauhid.
    Kedua landasan historis, Piagam Madinah menjadi landasan berdirinya negara
    Madinah yang penduduknya pluralistis.
    Ketiga landasan sosiologis, setiap manusia butuh bermasyarakat, dan masyarakat
    butuh pemimpin dan pengaturan.
    Keempat landasan politis, setiap manusia memiliki keinginan dan kepentingan yang ingin diraihnya, dan kepentingan itu perlu akan suatu pengaturan yang dapat meagregasikan setiap kepentingan secara adil.
    Kelima landasan praktis, tujuan hidup untuk beribadah pada prakteknya membutuhkan sarana dan pra sarana. ”Ma laa yatimmu illa bihi fahuwa wajibun”.
    Sejumlah konsep mengenai kenegaraan ditemukan dalam berbagai referensi masa kini yang sekaligus memperkuat pandangan para ahli terdahulu seperti Ibnu Taimiyah, Muhammad Rasyid Ridha, Ibnu Khaldun, Al-Mawardi, Al-Farabi, dan Abul A’la Al-Maududi, yang intinya berpandangan bahwa dalam Islam terdapat konsep negara dan metode perealisasiannya.
    Berikut ini adalah konsep dasar negara dalam Islam. Pertama, kepemimpinan dikenal dalam konsep Ulil Amri yang berarti kepemimpinan representasi dari masyarakat atau kepemimpinan yang melaksanakan kehendak rakyat sesuai dengan aspirasi mereka. Prinsip ini mengharuskan diangkatnya seorang kepala pemerintahan (eksekutif). Kedua, prinsip syura’ menunjukkan wajib terwujudnya suatu lembaga perwakilan rakyat yang mengurus masalah-masalah yang menyangkut konstitusi, dan undang-undang yang mengatur seluruh mekanisme kehidupan bernegara dan bermasyarakat (legislative). Ketiga, Islam menurut para ulama salaf (masa klasik) seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Khaldun dan ulama kholaf (masa kini) seperti Hasan Al-Banna dan Taqiyuddin An-Nabhani Islam memerintahkan untuk menetapkan hukuman dan menegakkan keadilan di dalam masyarakat baik muslim maupun non muslim. Prinsip ini mengharuskan berdirinya suatu lembaga kehakiman (yudikatif) atau adanya Qadhi atau Hakim, yang tidak untuk menentukan suatu hukum tertentu, tetapi bertugas membuat keputusan hukum.
    Keempat, prinsip Amar Ma’ruf Nahi Munkar yaitu menyampaikan setiap perintah syari’at dan mencegah terjadinya kemunkaran atau penyimpangan. Pelaksanaan daripada prinsip ini berarti meminta berdirinya suatu lembaga kontrol baik terhadap pemerintah maupun masyarakat. Kelima, prinsip mempertahankan hak asasi manusia, melindungi warga negara dari serangan musuh dan menjaga negara, mewajibkan untuk didirikannya suatu lembaga pertahanan atau yang dikenal dengan Amirul Jihad.
    Konsep negara Islam ini merupakan landasan bagi para penyelenggara pemerintahan Muslim. Implementasinya dapat berupa pendirian sebuah negara Islam atau dapat berupa suatu upaya penerapan esensi daripada nilai-nilai syari’at Islam dalam landasan, tujuan dan mekanisme kenegaan dan kemasyarakatan. Formal atau tidak formalnya implementasi dari konsep negara Islam tersebut tergantung daripada pemahaman dan kesadaran masyarakat pemeluknya. Terimplementasinya syari’at Islam dalam setiap urusan kehidupan merupakan wujud dari sistem kemasyarakatan dan kenegaraan Islami.
    Islam dan Militer.
    Islam menempatkan urusan militer pada posisi yang terakhir dalam sistem keyakinan dan ajarannya. Islam tidak menganjurkan cara-cara kekerasan dalam menyampaikan da’wah Islam dan kehidupan ini. “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus” (QS. Al-Baqoroh:256).
    Islam dikenal di dunia internasional sebagai sumber dari hukum Perang dan Damai yang dikenal sebagai hukum Humaniter. Hukum Islam di bidang humaniter diadopsi dalam hukum internasional, hal tersebut diakui oleh tokoh hukum dunia Hugo Grotius. Perang di dalam Islam dilakukan dalam kondisi terpaksa (darurat). Makanya kalimat yang dipergunakan Allah SWT. dalam urusan perang adalah “diizinkan”. Artinya hanya dalam kondisi tertentu umat Islam diperbolehkan untuk menggunakan cara-cara kekerasan dan perang. Islam menunjukkan cara-cara beradab dalam kondisi darurat perang sekalipun.
    Alasan yang dibenarkan untuk melakukan perang yaitu: Pertama, karena diperangi. Kedua, dianiaya (didzolimi). Ketiga, diusir dari kampung halaman tanpa alasan yang benar dan karena mengatakan bahwa: “Tuhan kami hanyalah Allah” (QS. Al-Haj:39-40). Tiga alasan itulah yang membuat izin Allah diberikan kepada umat Islam untuk berperang. Urusan perang itu bukan urusan manusia biasa, bahkan Nabi pun pun tidak dapat memutuskan untuk berperang ketika beliau beserta kaum muslimin mengalami pendzoliman dari kaum kafirin. Urusan perang bagi Islam hanyalah urusan Allah SWT., melakukannya harus sesuai dengan kriteria Ilahi.
    Target perang hanyalah melumpuhkan lawan bukan untuk memusnahkan (QS. An-Nisa:90 dan Al-Anfal:61-62). Perang hanya boleh dilakukan dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada lawan (QS. Al-Anfal:58). Serangan hanya boleh dilakukan terhadap combatan (pasukan perang) dan spy (mata-mata), selain itu (non combatan) dilarang dibunuh (QS. At-Taubah:6). Lingkungan harus terjaga dan tidak boleh warga sipil dirugikan. Tawanan perang harus diperlakukan dengan cara baik dan diberikan hak-hak kemanusiaannya secara layak, bahkan bagi mereka diperlakukan seperti tamu yang harus dihormati dalam Islam (QS. Al-Insan:8-10). Apabila ada warga sipil yang merasa dirugikan maka Islam mengajarkan untuk memberikan ganti rugi terhadap mereka.
    Syari’at Islam menjelaskan bahwa dalam kondisi perang pun tidak boleh berlebih-lebihan dan melampaui batas (QS. Al-Baqoroh:190). Rasulullah SAW. bersabda: ”Dilarang menyiksa dan mutilasi, dilarang membunuh anak-anak, wanita dan orang tua, serta dilarang membunuh orang yang ada di rumah ibadah” (Hadits Riwayat Muslim).
    Jadi permasalahan militer seperti yang terjadi saat ini yaitu pengembangan senjata nuklir, perlombaan senjata (arm race) dan penyelundupan senjata sebenarnya sangat diantisipasi oleh Islam. Islam selain tidak membolehkan pemusnahan yang tentu hanya dapat dilakukan oleh senjata nuklir atau senjata kimia, juga memang karena Islam tidak menghendaki peperangan. Perlombaan senjata tidak perlu terjadi dan penyelundupan senjata tidak perlu ada.
    Kesimpulan
    Uraian singkat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Islam memang bersifat antisipatif terhadap setiap persoalan yang mungkin akan muncul. Islam membentengi manusia dan alam agar tidak berbenturan dan bentrok kepentingan. Prinsip-prinsip Islam tersebut insya Allah memberikan pengamanan (security) secara komprehensif.
    Konflik pada intinya bermuara pada ketidakadilan dan keserakahan sebagian manusia. Islam mengantisipasi dua hal tersebut dengan menjamin terselenggaranya keadilan dan mencegah keserakahan manusia. Syari’at Islam pada intinya bertujuan untuk menjaga agama, jiwa dan keturuan manusia, harta, kehormatan dan lingkungan. Syari’at Islam bukan buatan manusia yang memandang dirinya dan alam secara terbatas, tetapi ia merupakan tuntunan dari sang Pencipta manusia dan alam yang mengetahui betul seluk-beluk, kebutuhan dan keserasian manusia dan alam ciptaan-Nya.
    Kerusakan ekosistem lingkungan, pelanggaran hak azasi manusia, ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi, politik kotor, dan cara-cara terorisme dan permasalahan nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya dalam militer tidak akan terjadi jika Islam dilaksanakan secara konsisten. Perusakan lingkungan yang menyebabkan krisis sumber daya alam tidak akan terjadi jika manusia selalu ingat kepada tugas pokok dan fungsi sebagai kholifah. Hak azasi manusia sangat dijunjung tinggi dalam Islam sehingga para pelanggarnya akan mendapatkan hukuman yang tegas. Kesenjangan ekonomi tidak akan terjadi ketika prinsip keadilan dan kesejahteraan bersama diterapkan dengan menghindari praktek riba, gambling, melaksanakan individual and corporate social responsibility (ICR-CSR), bisnis dilakukan secara terbuka dan semua pelaku bisnis dalam kondisi ridho, memberikan keleluasaan individu untuk berbisnis, air-energi dan tanah dikuasai dan dikelola oleh negara, serta menerapkan mata uang nyata seperti emas dan perak bukan hayalan seperti kertas. Dengan demikian tidak akan terjadinya monopoli, kesenjangan, korupsi dan penumpukan kekeyaan di sebagian masyarakat. Politik dilaksanakan secara arif bijaksana dengan memberikan amanah kepada para ahlinya, hukum yang berlaku sesuai dengan hukum Allah SWT., kompetisi dari berbagai kepentingan secara fair, dan pemerintahan ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan dunia dan akhirat. Terorisme tidak dibenarkan dan perang hanya dibolehkan ketika sudah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan konflik. Islam juga karena tidak memperbolehkan cara-cara berperang secara berlebihan dan bersifat memusnahkan, maka Islam tidak membenarkan adanya senjata nuklir dan senjata pemusnah massal.
    Jelaslah sesungguhnya Islam memberikan solusi yang lengkap bagi konflik internasional yang terjadi saat ini. Bahkan secara konseptual Islam lebih bersifat mencegah terjadinya konflik. Sekarang permasalahan yang belum terjawab sesungguhnya adalah regulasi yang ada adalah yang tidak Islami, aturan Islaminya belum terkodifikasi dalam aturan positif (berlaku), lembaga pelaksananya belum terwujud, dan manusia yang konsisten untuk melaksanakan aturan tersebut masih sangat sedikit dan kebanyakan belum profesional.
    Semoga dengan terus–menerus disosialisasikannya konsep-konsep yang mendekatkan kembali manusia dan alam kepada fitrahnya, bertambah orang yang mengetahui akan kondisi kerusakan lingkungan dan bertambahnya orang yang sadar akan sunnatullah yang seharusnya berlaku. Ketika orang sudah membutuhkan solusi yang nyata dan efektif untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup khususnya konflik internasional yang terjadi, maka semakin serius upaya untuk mewujudkan Islam sebagai solusi. Persoalan kehidupan memang tidak akan pernah selesai dengan hanya usaha manusia semata. Solusi yang real yang dapat menyelesaikan masalah tanpa mendatangkan masalah yang baru hanyalah solusi yang didatangkan oleh Allah SWT. Dia yang menciptakan, Dia pula yang Maha Mengetahui bagaimana mencegah timbulnya permasalahan dan juga bagaimana menyelesaikan setiap persoalan. Wallahu A’lamu bi Al-Showab.

  17. Anton Minardi berkata:

    RESOLUSI ISLAM TERHADAP TERORISME INTERNASIONAL

    I. PENDAHULUAN
    Dunia semakin kompleks dengan kepentingan yang semakin tinggi, konflik yang terjadi walaupun motifnya sama tetapi bentuknya berbeda. Ekspresi dari penyikapan terhadap kepentingan yang berbeda itu sendiri semakin beragam. Jalan diplomasi, Aksi sepihak sampai dengan bentuk teror dilakukan demi mencapai, mempertahankan dan menuntut kepentingan.
    Sejumlah definisi mengenai Teror, di antaranya Pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act, 1984, sebagai berikut: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear.” Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psy-war.
    Sejauh ini, Terorisme hanya dapat dikategorikan sebagai kejahatan dalam hukum internasional bila memenuhi kriteria yang disebutkan dalam 12 konvensi multilateral yang berhubungan dengan Terorisme yaitu:
    1. Convention on Offences and Certain Other Acts Committed On Board Aircraft (“Tokyo Convention”, 1963).
    2. Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft (“Hague Convention”, 1970).
    3. Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Civil Aviation (“Montreal Convention”, 1971).
    4. Convention on the Prevention and Punishment of Crimes Against Internationally Protecred Persons, 1973.
    5. International Convention Against the Taking on Hostages (“Hostages Convention”, 1979).
    6. Convention on the Physical Protection of Nuclear Material (“Nuclear Materials Convention”, 1980).
    7. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving International Civil Aviation, supplementary to the Convention for the Suppression of Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation, 1988.
    8. Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Maritime Navigation, 1988.
    9. Protocol for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Fixed Platforms Located on the Continental Shelf, 1988.
    10. Convention on the Marking of Plastic Explosives for the Purpose of Detection, 1991.
    11. International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing (1997, United Nations General Assembly Resolution).
    12. International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism, 1999.
    Cara-cara teror semakin “diminati” oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuannya, ketika jalan damai dan diplomasi sering kali menemui kebuntuan. Teror paling tidak ditempuh oleh dua kelompok manusia. Kelompok pertama, adalah orang-orang yang ingin mencapai tujuan atau kepentingan tertentu dengan menghalalkan berbagai cara termasuk teror. Kelompok kedua, adalah mereka yang merasa hak-haknya terampas dan merasakan ketidakadilan, kemudian ketika menemui kenyataan sulitnya membela diri dan melawan secara terbuka, maka teror digunakan sebagai cara terakhir yang dapat mereka lakukan.
    Menurut sejarahnya teror model pertama dilakukan ketika seorang anak manusia bernama Qabil menginginkan seorang wanita bernama Iklima yang menjadi isteri adiknya sendiri yang bernama Habil. Sementara Qabil sendiri sebenarnya sudah diberikan isteri bernama Labuda. Tetapi karena merasa kepentingannya tidak terpenuhi, maka dia menempuh jalan teror dengan membunuh Habil yang sebenarnya saudaranya sendiri. Sedangkan teror model kedua pertama kali dilakukan oleh Ibrahim as. yang merasa masyarakatnya didzolimi dan dibodohi dengan diharuskan oleh Raja Namrud untuk menyembah berhala yang tidak punya daya ataupun upaya. Ketika itu Ibrahim as. melakukan aksi penghancuran berhala-berhala sumber pendzoliman dan pembodohan masyarakat termasuk ayahnya sendiri itu. Selanjutnya teror dilakukan oleh berbagai pihak dengan berbagai alasan kekuasaan, harta, wanita-pria, kehormatan, dan membela hak.
    Tercatat sejumlah teror yang dilakukan oleh berbagai negara maupun kelompok seperti kita kenal kelompok ekstrim agama, mafia, dan kelompok separatis. Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Centre (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September Kelabu”, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua diantaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon.
    Berita jurnalistik seolah menampilkan gedung World Trade Center dan Pentagon sebagai korban utama penyerangan ini. Padahal, lebih dari itu, yang menjadi korban utama dalam masa dua jam itu tak lain adalah kurang lebih 3.000 orang pria, wanita dan anak-anak yang terteror, terbunuh, terbakar, meninggal, dan tertimbun berton-ton reruntuhan puing akibat sebuah pembunuhan massal yang terencana. Akibat serangan teroris itu, menurut Dana Yatim-Piatu Twin Towers, diperkirakan 1.500 anak kehilangan orang tua. Di Pentagon, Washington, 189 orang tewas, termasuk para penumpang pesawat, 45 orang tewas dalam pesawat keempat yang jatuh didaerah pedalaman Pennsylvania. Para teroris mengira bahwa penyerangan yang dilakukan ke World Trade Center merupakan penyerangan terhadap “Simbol Amerika”. Namun, gedung yang mereka serang tak lain merupakan institusi internasional yang melambangkan kemakmuran ekonomi dunia. Di sana terdapat perwakilan dari berbagai negara, yaitu terdapat 430 perusahaan dari 28 negara. Jadi, sebetulnya mereka tidak saja menyerang Amerika Serikat tapi juga dunia. Amerika Serikat menduga Osama bin Laden sebagai tersangka utama pelaku penyerangan tersebut.
    Kejadian ini merupakan isu global yang mempengaruhi kebijakan politik seluruh negara-negara di dunia, sehingga menjadi titik tolak persepsi untuk memerangi Terorisme sebagai musuh internasional. Pembunuhan massal tersebut telah mempersatukan dunia melawan Terorisme Internasional. Terlebih lagi dengan diikuti terjadinya Tragedi Bali, tanggal 12 Oktober 2002 yang merupakan tindakan teror, menimbulkan korban sipil terbesar di dunia, yaitu menewaskan 184 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Perang terhadap Terorisme yang dipimpin oleh Amerika, mula-mula mendapat sambutan dari sekutunya di Eropa. Pemerintahan Tony Blair termasuk yang pertama mengeluarkan Anti Terrorism, Crime and Security Act, December 2001, diikuti tindakan-tindakan dari negara-negara lain yang pada intinya adalah melakukan perang atas tindak Terorisme di dunia, seperti Filipina dengan mengeluarkan Anti Terrorism Bill .
    Serangkaian peristiwa terror tersebut mengarah pada para pelaku yang beragama Islam, sehingga segera seluruh mata dunia “memelotot” kepada kaum muslimin dan ajaran Islamnya. Sebenarnya tidak mengherankan kondisi itu tercipta, karena menjelang runtuhnya simbol komunisme terbesar yaitu Uni Soviet menjadi Rusia dan runtuhnya tembok Berlin yang menandakan berakhirnya “Cold War” sudah ada upaya identifikasi salah satunya dari seorang penasihat White House bernama Samuel Paul Huntington dengan bukunya yang berjudul Clash of Civilization yang mengidentifikasi bahwa kekuatan yang paling potensial yang akan menggantikan komunisme sebagai kekuatan yang akan berhadapan dengan liberalisme adalah Islam.
    Secara umum para pemerhati masalah internasional menyangka bahwa benturan peradaban itu memang secara alamiah diperlukan oleh negara-negara liberalis sebagai sparing partner mereka. Tetapi secara kritis banyak kalangan mengatakan bahwa identifikasi terhadap Islam sebagai kekuatan yang akan menggantikan posisi komunisme adalah bukti bahwa Islam memang menjadi “target operasi” negara-negara Barat liberal. Tidak mengherankan bahwa pemberantasan atau perang melawan terorisme yang didengungkan terutama oleh negara-negara Barat mengarah kepada Islam. Islam pada abad ini menjadi popular dan seolah-olah sangat dekat dengan terorisme, padahal kita ketahui bahwa teror itu justru dilakukan oleh kelompok-kelompok militan yahudi dan kalangan mafia.
    Berikut ini salah satu bukti kesalahpahaman dunia Barat terhadap Islam. Salah seorang penulis berkebangsaan Prancis, Count Henry Decastri menyatakan dalam bukunya yang berjudul “Islam” pada tahun 1896 sebagai berikut:
    “Aku tidak bias membayangkan apa yang akan dikatakan kaum Muslim jika mereka mendengar kisah-kisah yang ada di Abad Pertengahan, dan memahami apa yang dikatakan para orator Kristen dalam kidung-kidung mereka. Seluruh kidung-kidung termasuk kidung yang muncul sebelum abad ke-12 bersumber pada satu konsep yang merupakan penyebab timbulnya Perang Salib. Kidung-kidung ini penuh berisi kebencian terhadap kaum Muslim akibat ketidaktahuan mereka terhadap agama Islam. sebagai akibat dari kidung dan lagu-lagu ini, kebencian terhadap agama tersebut (Islam) mengendap dalam benak masyarakat, kesalahpahaman terhadap Islam mengakar kuat, hingga masih ada yang terbawa hingga saat ini. Setiap orang menganggap bahwa kaum Muslim adalah orang-orang musyrik (politheis), kafir, penyembah berhala, dan penghianat” .
    Penolakan terhadap syari’at Islam dan pendirian Khilafah secara eksplisit dikampanyekan oleh George W. Bush 5 September 2006 yang menyatakan bahwa:
    “They hope establish a violent political utopia across the Middle East, which they call Caliphate, where all would be ruled according to their hateful ideology” .
    Bahkan sebelumnya Tony Blair pada tanggal 16 Juli 2006 di London menyatakan bahwa:
    “Pembangunan Negara Taliban yang efektif dan hukum Syari’at di Arab yang mencoba merintis jalan menuju satu ke-Khalifahan dari seluruh dari seluruh negeri Muslim”. “Ini tidah hanya perang terhadap metode terorisme mereka tetapi juga pola piker mereka” .
    Charles Clarke sebagai Menteri Dalam Negeri AS pada bulan Oktober 2005 menyampaikan pidato untuk think-thank neo-konservatisme AS Heritage Foundation:
    “Hal yang menggerakkan orang-orang ini adalah ide. Dan, berbeda dengan pergerakan pembebasan pada era setelah Perang Dunia II, hal-hal tersebut bukan ide-ide politik seperti kemerdekaan negara dari penjajahan, atau persamaan hak tanpa memandang ras atau agama, atau kebebasan berekspresi tanpa tekanan. Ambisis demikian, setidaknya secara prinsip, masih bias dinegosiasikan. Tetapi, tidak akan ada negosiasi tentang adanya pembentukan kembali Khilafah; tidak akan ada negosiasi tentang pemberlakuan hukum Syari’at” .
    Dalam hal ini saya mengajukan sejumlah pertanyaan: Apakah perang melawan terorisme adalah murni untuk memerangi terorisme? atau sebenarnya perang melawan Islam? dan apakah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk berbuat teror dalam mencapai tujuannya? ataukah apakah ada kaitannya antara teror dengan da’wah Islam? ataukah sebagian terror dilakukan sebagai reaksi dari ketidakadilan? Berikut ini akan kita bahas secara tematis mengenai relasi antara Islam-Terorisme yang meliputi: Da’wah Islam, Perang dan Damai dalam Islam, Islam dan Terorisme, Akar Masalah Terorisme, Sikap Islam terhadap Non Muslim, dan Resolusi Islam terhadap Terorisme.
    II. METODE DA’WAH ISLAM
    Islam hadir di muka bumi sebagai penyempurna ajaran sebelumnya, berlaku sepanjang masa, dan berwawasan universal. Itu yang membuktikan bahwa Islam adalah ajaran terakhir yang dapat menjelaskan dan toleran bagi setiap perkembangan zaman. Tujuan syari’at (hukum) Islam Islam menurut para pakar adalah: 1) memelihara agama. 2) memelihara diri. 3) memelihara keturunan. 4) memelihara harta dan kehormatan. 5) memelihara lingkungan. Dari tujuan-tujuan yang jelas inilah muncul sejumlah hukum yang tegas, jelas dan terperinci. 1) Hudud, yaitu hukum-hukum yang termasuk inti ajaran Islam menjelaskan baik aturan, bentuk dan jumlah hukuman. 2) Ta’jir, yaitu hukum-hukum yang menyangkut akhlak Islam dan hal-hal baru yang terjadi sesuai dengan perkembangan zaman dimana aturan dan hukumannya ditentukan oleh pemerintah atau pemimpin Islam yang legitimatif.
    Ajaran dan fakta sejarah membuktikan bahwa ajaran Islam disampaikan secara damai dan menjadi kebaikan baik bagi umatnya maupun bagi mereka yang di luar umatnya. Hal itu terbukti dengan catatan sejarah yang mengatakan bahwa sejumlah peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dengan non Muslim diakibatkan dengan kesalahpamahan otoritas setempat untuk menerima Islam yang dianggap akan mengambil kekuasaan dari tangan non Muslim. Sejumlah diplomat dikirim ke berbagai negara oleh Muhammad SAW. bukannya mengirim pasukan perang. Para diplomat itu dikirim ke Yamamah, Bahrain, Oman, Damaskus, Aleksandria, Habasyah (Ethiopia), Persia, dan Romawi. Penerimaan mereka beragam ada yang beriman dan tetap meneruskan kepemimpinannya, ada juga yang sama sekali menolaknya dengan kesombongan .
    Rahmat adalah target ajaran Islam tidak saja untuk bangsa Arab atau manusia tetapi untuk seluruh alam. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya:107). Ayat ini mengingatkan kepada umat Islam bahwa Islam memang akan memberikan kebaikan dan bertujuan untuk menebar kebaikan bagi seluruh alam. Artinya jika penerapan Islam tidak memberikan kebaikan bagi seluruh alam, berarti ada yang salah dengan penerjemahan dan implementasi ajaran Islam. Juga berarti bahwa umatnya tidak dapat memaksakan kehendak atas nama Islam kepada siapa pun untuk mengikuti keinginan Islam apalagi keinginan umat Islam.
    Kebaikan ini memang wajib disampaikan oleh seluruh kaum muslimin, tetapi Islam mengajarkan hal yang sangat elegan dan fair dalam berda’wah. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (bijaksana) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl:125). Menurut Yusuf Al-Qardhawi pelajaran yang baik adalah seruan dengan perkataan lemah lembut dan menyentuh hati. Berbantahan dengan baik adalah berdialog dengan orang-orang yang bertentangan dan berseberangan pendapat dengan cara dan jalan terbaik, yang bias mendekatkan serta menyatukan mereka bukan menjauhkannya .
    Bahkan betapa da’wah terhadap kebenaran disampaikan secara benar dan wajib dengan bersabar dicontohkan oleh Nuh as. yang berda’wah selama 950 tahun tetapi hanya beberapa orang yang beriman. Bagaimana dengan Ibrahim as. yang dalam menyampaikan Islam harus menempuh siksaan fisik dan fsikis dengan dibakar hidup-hidup oleh raja Namrud yang dzolim. Musa as. yang harus siap menyampaikan Islam kepada Fir’aun yang sangat refresif.
    Berikut ini ingin saya sampaikan beberapa di antara ajaran Islam mengenai da’wah anti kekerasan.
    1) Hadis dari Aisyah ra. bahwa Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala hal” .
    2) Hadis dari Aisyah ra. bahwa Nabi SAW. bersabda : “Sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai kelembutan, dan memberi kepada kelemahlembutan apa-apa yang tidak diberikan kepada kekerasan, dan juga tidak diberikan kepada yang lain kecuali kepadanya” .
    3) Hadis dari Jarir bin Abdullah ra. bahwa Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Mahatinggi dan Mahamulia, memberi kepada kelemahlembutan apa-apa yang tidak diberikan kepada kebodohan (malampaui batas), apabila Dia menyukai hamba-Nya maka akan memberinya kelemahlembutan, dan barangsiapa dari keluargaku mengharamkan (menolak) kelemahlembutan maka dia sesungguhnya telah mengharamkan (menolak) kebaikan” .
    4) Hadis dari Abu Hurairoh ra. meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang kencing di dalam masjid, kemudian orang berdiri dan berusaha untuk mencegahnya. Kemudian Nabi SAW. bersabda: “Tinggalkanlah dia, dan siramlah air kencingnya dengan setimba air, sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan bukan diutus untuk menyulitkan” .
    5) Hadis dari Anas ra. bahwa Nabi SAW bersabda: “Mudahkanlah dan janganlah dipersulit, berilah kabar gembira dan jangan menebar ancaman” .
    6) Hadis dari Aisyah ra. : “Apabila Rasulullah dihadapkan pada dua pilihan, maka dia akan memilih yang lebih mudah tapi tidak menyebabkan dosa. Apabila menyebabkan dosa maka akan menjauhkan manusia darinya. Dan Rasulullah tidak pernah sedikit pun untuk membalas dendam kecuali apabila melanggar ketentuan Allah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membalasnya” .
    7) Hadis dari Anas bin Malik ra. bahwa Nabi SAW. bersabda: “Berhati-hati adalah dari Allah dan tergesa-gesa adalah dari setan, dan tidak ada seorang pun yang lebih banyak maafnya dari Allah, dan tidak ada sesuatu yang lebih cinta Allah kecuali pujian” .
    8) Hadis dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya ada pada diri kamu dua tabiat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya: lemah lembut dan kemurahan hati” .
    9) Hadis dari Jarir bin Abdullah ra. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa yang tidak berbelas kasihan kepada sesama manusia maka Allah tidak akan berbelas kasihan kepadanya” .
    10) Hadis dari Abdullah bin Amru bin Ash ra. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Orang-orang penyayang akan disayang oleh Yang Maha Pengasih, sayangilah apa yang ada di bumi maka kamu akan disayang oleh Yang di langit” .
    11) Hadis dari Sahl bin Al-Hanthaliyyah ra. bahwa Rasulullah SAW. berjalan dengan unta yang punggungnya melekat dengan perutnya (sangat kurus), kemudian bersabda: “Takutlah kepada Allah karena hewan ini, naikilah/tunggangilah dengan baik dan makanlah (dagingnya) dengan baik” .

    Demikianlah ajaran Islam secara jelas memberikan bimbingan kepada umatnya
    untuk senatiasa berbuat baik kepada sesama manusia dan sesama makhluk. Tidak mungkin agama penyempurna yang universal ini mendiskreditkan di antara sesama orang beriman, atau sesame manusia dan sesame makhluk ciptaan Tuhan. Bahkan Islam memberikan hukuman yang tegas bagi orang yang tidak adil kepada non Muslim.
    Rasulullah SAW. bersabda:
    “Barangsiapa berbuat dzalim kepada kafir mu’ahid (orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan negara Islam), melanggar haknya, atau memberikan beban di luar kemampuannya, atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya dengan jalan yang tidak baik, maka aku akan menjadi pembelanya (kafir mu’ahid) di hari kiamat”.
    “Barangsiapa menyakiti kafir dzimmi (kafir yang taat aturan dan tinggal di dalam pemerintahan Islam), maka aku akan menjadi penentangnya. Dan barangsiapa yang membuat perjanjian di luar kemampuannya, maka aku akan menjadi penentangnya di hari kiamat” .

    Jadi begitulah Islam mewajibkan kepada seluruh kaum muslimin untuk melakukan da’wah dan menerapkan Syari’at Islam tetapi tidak ada satu pun ajaran untuk melakukan kekerasan. Sehingga ketika orang-orang beriman tersebut didzolimi, maka mereka diwajibkan untuk membela diri dan kebenaran sehingga nampak jelaslah kebenaran itu.

    III. PERANG DAN DAMAI DALAM ISLAM
    Sesungguhnya fenomena kekerasan dan perang dalam berbagai bentuknya terjadi di mana-mana. Tetapi kenapa Islam yang menjadi sasaran dan target operasi perang melawan terorisme? Kita lihat dunia kontemporer bagaimana Uni Soviet (Rusia saat ini) membantai di Chechnya, Serbia membantai Bosnia, India terhadap Kasmir, Myanmar terhadap Rohingya, Israel terhadap Palestina, dan tentu saja Amerika Serikat terhadap Afghanistan, Irak dan sekarang sedang membidik Iran.
    Baiklah, Islam dikenal memiliki hukum yang lengkap dalam berbagai lapangan kehidupan termasuk hukum internasional dan hubungan internasional. Hugo Grotius seorang ahli hukum internasional bangsa Belanda yang dikenal sebagai “Bapak Hukum Internasional” mengatakan bahwa hukum internasional pada hakekatnya telah tumbuh sejak lahirnya masyarakat manusia di dunia ini, akan tetapi sebagai ilmu yang komplit telah dilahirkan dari hukum Islam, sebab agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. yang bersumber pada Al-Qur’an memuat ajaran prinsip-prinsip hukum internasional itu .
    Selanjutnya Prof. Baron Michael de Tubb seorang guru besar di bidang ilmu hukum internasional pada Akademi Ilmu Negara di Den Haag dalam salah satu pidatonya menyebutkan bahwa sesungguhnya bagi hukum internasional itu banyak dilandasi oleh prinsip-prinsip dasar yang terdahulu diletakkan oleh agama Islam, terutama sekali yang bertalian dengan hukum perang dan damai. Yang demikian itu dapat dibuktikan apabila kita mau menelusuri data sejarah dunia dan pertumbuhan serta perkembangan kebudayaan bangsa-bangsa .
    Begitu pula Dr. Arminazi di dalam buku “Hukum Internasional dalam Islam” menjelaskan bahwa ahli-ahli hokum internasional Eropa telah mengakui dimana kenyataannya dari bukti-bukti sejarah bahwa hukum Islam menjadi sumber terpenting bagi dasar-dasar hukum internasional yang ada sekarang. Gustave Lebon seornag penulis Perancis ternama menyatakan bahwa Rennaissance di Eropa yang terjadi 9 abad kemudian sesudah lahirnya Islam, maka andil besar yang telah diberikan adalah datang dari peradaban Islam .
    Islam memang membahas mengenai “Perang dan Damai”, tetapi daripada membahas perang Islam lebih banyak membahas mengenai Perdamaian. Upaya mendamaikan antara pihak yang bertikai adalah sederajat dengan “Jihad fi Sabilillah”. Bahkan kata “maaf” dalam Islam lebih utama daripada “membalas”. Al-Qur’an dan Hadis menyebutkan perang dengan istilah al-harb, dan damai dengan as-sulh atau al-ishlah.
    Hukum asal perang dalam Islam adalah haram atau dilarang. Berikut ini adalah alasan mengapa umat Islam dibolehkan berperang. Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan sebagai berikut:
    1. Perang terhadap orang-orang yang memerangi kaum muslimin.
    Siapapun yang membaca Al-Qur’an dengan seksama, serta menggabungkan antara ayat satu dengan ayat lain, maka akan jelas, bahwa umat Islam disyari’atkan untuk berperang kepada orang-orang yang memerangi muslimin,mengusik kehormatan mereka dan juga kepada orang-orang lemah dari hamba-hamba Allah. Kita lihat beberapa ayat tersebut:
    “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampong halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah” (QS. Al-Hajj:39-40).
    “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al-Baqarah:190).
    “Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka” (QS. An-Nisa:90).
    “Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka” (QS. An-Nisa:91).
    “Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai dan memerangi kamu?” (QS. At-Taubah:13).
    “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a, ‘Ya Tuhan kami keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau dan berilah kami penolong dari sisi Engkau’ “ (QS. An-Nisa:75).

    2. Perang bukan untuk memaksa orang masuk Islam.
    Perang dalam Islam bukan untuk memaksa orang masuk Islam. Islam tidak menyukai tindakan tersebut, paksaan untuk memasuki agama (Islam). Allah SWT. berfirman dalam surat Makiyyah:
    “Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus:99). Dan dalam surat Madaniyah Allah SWT. Berfirman: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas yang benar daripada jalan yang salah” (QS. Al-Baqarah:256).
    “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya menjadi orang-orang beriman semuanya?” (QS. Yunus:99).

    3. Perang untuk mencegah terjadinya fitnah dalam agama.
    Islam juga mengisyaratkan perang untuk mencegah terjadinya fitnah dalam agama. Allah SWT. Berfirman:
    “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah” (QS. Al-Anfal:39).

    Fitnah adalah perampasan kebebasan manusia dan penindasan terhadap mereka, demi akidahnya. Seperti Ashabul Ukhdud (orang yang dibakar dalam parit besar) oleh para pembesar Najran di Yaman, pembinasaan akal dan kehendak, menghalangi kaum muslimin dari jalan Allah dan beribadah kepada-Nya.
    “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh” (QS. Al-ABqarah:217).

    Intinya, Islam mengisyaratkan perang untuk memberi iklim kebebasan kepada manusia. Beriman dengan kehendak dan atas kesadarannya sendiri tanpa ada sedikit pun paksaan, tidak takut akan fitnah, juga tidak ada pemaksaan dan penindasan dalam beribadah .
    Sementara perdamaian adalah kondisi awal yang seharusnya terjadi seperti pada saat sebelum terjadinya konflik atau peperangan. Allah SWT. Berfirman: “Jika mereka bermaksud berdamai, kemudian engkau pun melakukannya juga…” (QS. Al-Anfal:61).
    Bentuk pendamaian itu hendaknya dibakukan ke dalam suatau perjanjian agar tidak ada alasan untuk menyalahi kesepakatan perdamaian dan akan ketahuan siapa yang sesungguhnya berkhianat. Allah SWT. berfirman:
    “…Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya…” (QS. An-Nahl:91).
    “Bagaimana bias ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan rasul-Nya dengan orang-orang musyrik (menyekutukan Tuhan) kecuali orang-orang yang mengadakan perjanjian dengan kamu di dekat Masjidil Haram. Selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taqwa” (QS. At-Taubah:7).

    Majid Khadduri seorang ahli hukum internasional menyatakan bahwa seperti halnya jihad, hukum perdamaian secara teoritis hanya alat sementara untuk mengatur hubungan antara kaum muslimin dengan dunia luar selama periode damai (ketika jihad tidak dilakukan), sampai dar al-Islam mencakup seluruh penjuru dunia. Hubungan damai antara dar al-Islam (negara Islam) dan dar al-harb (negara kafir), yang diatur berdasarkan prinsip saling menghormati dan kepentingan tertentu mempengaruhi secara tidak langsung persamaan ide antar dua dar, sebab dar al-harb tidak dapat mendapatkan status normal atau permanen kecuali penduduknya memeluk Islam atau menerima status agama yang ditolerir (Ahli Kitab). Bagaimanapun umat Islam berjuang melalui jihad tanpa terjadi pertumpahan darah, keadaan ini akan mendorong terciptanya hukum perdamaian. Kecenderungan ini sesuai dengan bentuk integrasi modern atas wilayah-wilayah di segenap penjuru dunia yang bersatu dalam satu kesatuan .
    Sebuah piagam bernama “Piagam Madinah” merupakan suatu rujukan fakta sejarah pembentukan masyarakat berperadaban modern, sejahtera dan damai. Menurut J. Suyuti Pulungan prinsip-prinsip umat, persatuan dan persaudaraan, persamaan, kebebasan, hubungan antar pemeluk agama, pertahanan, hidup bertetangga, dan tolong menolong pada hakikatnya menghendaki tercapainya perdamaian di kalangan komunitas Islam dan perdamaian antara komunitas Islam dan komunitas-komunitas lain. Sebab, jika setiap komunitas memelihara dan melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang terkandung di dalam prinsip-prinsip tersebut, maka perdamaian akan terwujud. Ada lima poin penting yang terkandung dalam (Pasal 17 dan Pasal 45) Piagam Madinah tersebut. Pertama, orang-orang mukmin seluruhnya harus mencapai kata sepakat bila mereka mengadakan perdamaian dengan pihak lain. Kedua, orang-orang mukmin harus memerankan dirinya sebagai golongan yang berinisiatif dalam mewujudkan perdamaian. Ketiga, orang-orang mukmin harus gemar dan bersedia menerima perdamaian yang ditawarkan oleh pihak lain. Keempat, bila perdamaian diprakarsai oleh orang-orang mukmin kemudian diterima oleh pihak musuh, maka perdamaian itu sah dengan persyaratan-persyaratan yang tidak merugikan semua pihak. Kelima, orang-orang mukmin tidak boleh memprakarsai perdamaian dengan pihak yang memerangi agama, atau menerima tawaran perdamaian mereka kecuali mereka menyerah .
    Sikap demikian menunjukkan bahwa umat Islam tidak boleh menyimpan dendam apapun terhadap siapapun jika sudah ada Traktat atau Perjanjian antara kaum muslimin dengan mereka, dan hablum min an-nas (hubungan antara manusia) harus kembali baik. Allah SWT. berfirman:
    “Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam agama dan tidak mengeluarkan kalian dari rumah-rumah kalian. Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berbuat adil”.

    IV. ISLAM DAN TERORISME
    Islam mengandung arti “selamat” dan “sejahtera”, sedangkan terorisme adalah ide atau gagasan yang mengandung kekerasan baik dalam bentuk ide, perasaan, ataupun tindakan. Di dalam Islam seperti sudah dijelaskan di atas bahwa langkah kekerasan atau perang adalah sebagai reaksi yang seperlunya diperankan ketika umat Islam didzolimi. Selama di luar pihak Islam tidak menggunakan kekerasan, maka tidak ada alasan untuk umat Islam menggunakan cara-cara kekerasan.
    “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua’ (QS. Al-A’raf:158).
    “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” (QS. Saba:28).
    “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya:107).

    Prinsip dasar inilah yang menjadi pedoman bagi umat Islam dalam berda’wah dan bersosialisasi dalam masyarakat dunia. Jika ada perilaku yang tidak ssuai dengan prinsip tersebut, berarti sudah terjadi abuse (penyimpangan). Bahkan Allah SWT. menyatakan bahwa:
    “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu” (QS. Al-Baqarah:143).

    Syari’at Islam untuk berlaku adil dan baik terhadap sesama manusia tidak saja pada saat damai, tetapi juga pada saat perang berlangsung. Berikut ini adalah akhlak Islam ketika dalam kondisi perang. Imam Muslim meriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya:
    “Apabila Rasulullah SAW. menunjuk seorang pemimpin (amir) sebuah detasemen pasukan atau sebuah ekspedisi, beliau SAW. senantiasa menekankan kepadanya untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat baik kepada kaum Muslim yang turut bersamanya. Kemudian beliau SAW. akan memberikan nasihat sebagai berikut, ‘Berperanglah atas nama Allah di jalan Allah. Perangilah orang-orang yang ingkar kepada Allah. Perangilah, dan jangan melampaui batas, janganlah berkhianat, jangan mencincang tubuh musuh, dan jangan membunuh anak-anak. Apabila bertemu dengan musuh dari kalangan kaum musyrikin, maka ajaklah mereka pada tiga (pilihan), dan apa pun yang mereka pilih sebagai jawaban atas tawaranmu, terimalah, dan berhentilah memerangi mereka. (Pertama) Serulah mereka untuk masuk Islam, dan apabila mereka menerima seruanmu, maka terimalah ia dan berhentilah memerangi mereka. Kemudian serukan kepada mereka untuk berpindah dari wilayah mereka ke wilayah kaum Muhajirin. Sampaikan kabar baik bahwa mereka menerima seruan ini, mereka mendapat hak yang sama dengan hak yang diterima Muhajirin dan mempunyai kewajiban yang sama dengan kewajiban kaum Muhajirin. Jika mereka menolak untuk berpindah (ke wilayah Muhajirin), katakan kepadanya bahwa mereka sama seperti orang Badwi Muslim, yaitu tunduk kepada hukum kaum mukmin, namun mereka tidak mendapat bagian fa’i (harta kaum muslimin yang dirampas oleh kafir) dan ghanimah (rampasan perang), kecuali jika mereka mau berperang bersama kaum Muslim. (Kedua) Apabila mereka menolak, perintahkan mereka untuk membayar jizyah; dan apabila mereka menerima seruan ini, terimalah mereka dan berhentilah memerangi mereka. (Ketiga) Jika mereka masih tetap menolak, maka mohonlah pertolongan kepada Allah, dan majulah memerangi mereka” .

    Sikap kehati-hatian ditunjukkan dalam Islam terhadap siapapun bahkan situasi perang. Berikut ajaranya:
    Nabi SAW. bersabda kepada para komandan perang: “janganlah kalian berkhianat, melanggar perjanjian, membunuh dengan sadis dan membunuh anak-anak” .
    Nasihat Nabi SAW. kepada Khalid bin Walid pada suatu peperangan: “Janganlah kamu membunuh perempuan dan juga buruh pekerja (budak)” .
    Nabi SAW. bersabda: “Orang paling pemaaf dalam perang adalah orang beriman” .
    Abu Bakar menasihati komandannya, Yazid bin Abi Sufyan ketika mengirim pasukan ke Syam: “Janganlah kamu membunuh anak-anak, wanita, dan tua renta”. Dan dari Umar beliau menasihati Salmah bin Qis: “Janganlah kalian membunuh anak-anak, wanita, dan tua renta” .
    Abu Bakar melarang membunuh para pendeta dalam tempat peribadatan mereka, karena sesungguhnya mereka tidak memerangi orang-orang beragama. Umar berkata: “Bertakwalah kepada Allah pada kaum petani, yang tidak mengumumkan perang kepada kamu” .
    Ketika dalam peperangan kaum muslimin dituntut untuk sungguh-sungguh, tetapi ketika selesai mereka dituntut untuk tidak aniaya dengan memperlakukan tawanan perang dengan baik. Allah SWT. berfirman: “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti” (QS. Muhammad:4).

    V. AKAR MASALAH TERORISME
    Para ahli berpandangan bahwa terorisme berakar pada beberapa kondisi:
    Pertama, pada lapisan bawah adalah kondisi ( faktor korelatif ) seperti; kemiskinan, korupsi, konflik agama dan keragaman etnik yang menciptakan peluang untuk dieksploitasi oleh teroris. Sebagian dari faktor ini adalah nyata dan sebagian merupakan faktor korelatif dengan mengembangkannya menjadi isu ketidakadilan dan penindasan terhadap kelompok tertentu. Teroris menggunakan kondisi ini untuk justifikasi tindakan mereka dan memperluas pendukungnya. Keyakinan bahwa teror adalah alat yang syah (legitimate means) untuk mengubah kondisi tersebut di atas dan perubahan politik merupakan problem fundamental yang mengembangkan dan menumbuhkan terorisme.
    Kedua, lingkungan internasional yang lebih memberi kebebasan, perbatasan negara lebih terbuka memberikan akses persembunyian (heavens), kapasitas dan dukungan pada teroris. Akan tetapi akses saja tidak cukup. Teroris harus mempunyai tempat berpijak secara fisik (phisical base) dimana aksi teror akan dioperasikan. Melalui ketidakpedulian atau ketidakacuhan / kurang perhatian atau tidak adanya keinginan (intent), negara-negara di dunia berarti menawarkan tempat subur (heavens) bagi teroris, baik secara fisik ( seperti; safe house, training grounds ) maupun secara nonfisik (virtual) seperti sarana komunikasi yang baik dan jaringan finansial yang diperlukan teroris untuk merencanakan operasi, mengorganisasikan, melatih dan melancarkan operasi terorisme. Begitu mendapat lingkungan yang aman dan
    kondusif untuk beroperasi, organisasi teroris dapat memulai pemantapan dan penyatuan serta peluasan. Struktur organisasi teroris, keanggotaan, sumber daya dan keamanan memastikan kapabilitas dan keberhasilan mereka.
    Ketiga, pada level tertinggi; kepemimpinan teroris menyiapkan perencanaan/pengarahan menyeluruh dan strategi yang merangkaikan semua faktor di atas dimana kampanye teror dapat dimulai. Dalam hal ini leadership menjadi faktor penting dan menentukan aksi teroris. Kehilangan leadership dapat mengakibatkan kebanyakan organisasi teroris bubar. Namun beberapa kelompok mempunyai ketahanan yang lebih baik dan dapat mengangkat kepemimpinan baru bila pemimpin lama jatuh. Ada juga diantaranya yang menerapkan organisasi yang decentralized dalam bentuk sel dengan otonomi lebih besar sehingga tantangan yang kita hadapi menjadi lebih besar.
    Kondisi apapun tidak dapat menjadi alasan bagi umat Islam untuk melakukan teror, karena berbagai masalah baik kemiskinan, ketimpangan, dan kepemimpinan sudah ada aturan dan sudah ada solusinya. Merupakan kewajiban bersama baik imam (pemimpin) maupun umat (rakyat) untuk menyelesaikan semua masalah tadi secara tuntas, karena di dalam Islam setiap manusia memiliki tanggung jawab baik kepada diri, keluarga, dan lingkungannya yang harus mereka pertanggungjawabkan. Jelaslah bagi kaum muslimin yang memahami Islam dengan benar, mereka tidak akan bereaksi dengan menggunakan kekerasan apabila tidak mendapatkan perlakuan yang buruk dan kekecewaan yang bertubi-tubi dari pihak lain.
    Yusuf Al-Qardhawi menyebutkan faktor-faktor munculnya aksi kekerasan di dunia Islam. Beberapa penyebab kekerasan di antaranya adalah:
    1. Penindasan terhadap kaum muslimin. Seperti di Palestina, Bosnia, Kosovo, Chechnya,
    Kashmir dan Sudan.
    2. Penguasa yang zalim, serta penindasan terhadap da’i-da’i Islam. Memenjarakan
    kebebasan dan mempersempit ruang gerak dalam berdakwah. Dan sikap pemerintahan
    yang mau mengikuti tekanan dunia luar non-muslim.
    3. Membasmi pemikiran-pemikiran moderat sehingga pemikiran garis keras (radikal)
    mendapatkan jalan dan meluas, serta bebas melakukan aksi kekerasan di muka bumi
    ini.
    4. Cela dalam pemikiran dan pemahaman yang terdapat pada sebagian da’i Islam.
    Terutama yang mengutamakan formalitas daripada substansi dan tujuan (Maqashid),
    dan mereka yang menutup diri dari golongan lain .
    Menurut beliau para pelaku aksi kekerasan kemungkinan besar dilakukan oleh:
    1. Aktivis dan orang-orang yang bekerja untuk gerakan zionis, kristenisasi, dan
    materialisme yang memusuhi Islam. Menyusup dan menggerakkan kelompok-
    kelompok Islam tanpa mereka sadari.
    2. Orang-orang tidak berpendidikan yang bekerja secara ikhlas, tanpa digaji. Bekerja
    untuk kekuatan-kekuatan asing yang merupakan musuh Islam, namun tanpa mereka
    sadari. Dan tampaknya, fenomena ini yang sering terjadi. Walaupun kekuatan asing
    tersebut telah menyewa orang-orang dengan ongkos yang mahal, tapi loyalitas mereka
    belumlah setinggi loyalitas para pekerja tanpa bayaran di atas, terutama dalam usaha
    merusak nama Islam. inilah orang-orang yang disebut Jahil Murakkab (bodoh
    kuadrat), tidak tahu kalau mereka tidak tahu .

    VI. SIKAP TERHADAP NON MUSLIM
    Secara umum non Muslim terbagi kepada tiga kelompok. Pertama, kafir dzimmy yaitu mereka yang tinggal di negara Islam dan taat kepada aturan pemerintah setempat. Kedua, kafir harby yaitu mereka yang tinggal di luar negara Islam dan memerangi negara Islam. Ketiga, kafir mu’ahid yaitu mereka yang mempunyai ikatan khusus dengan negara Islam seperti menjadi tenaga ahli, sedang berniaga, atau menjadi diplomat negara asalnya.
    Pada prinsipnya semua manusia haruslah taat kepada setiap ketentuan Allah SWT., hanya ketika mereka secara sadar telah memilih suatu kepercayaan tertentu selain Islam, maka tidak ada alasan untuk siapa pun untuk memaksanya menjadi seorang Muslim. Menurut Hasbi Ash-Shiddieqy, Allah membolehkan para muslimin membuat jaminan dengan orang-orang yang bukan Islam baik hal itu datang dari fihak para muslim, ataupun dari fihak mereka, sebagai yang diterangkan oleh Allah dalam QS. Al-Anfal:62 .
    Menurut Abu A’la Al-Maududi menyatakan bahwa sepanjang menyangkut hak umum non-Muslim (dalam hal ini hak-hak asasi manusia) semuanya diperlakukan sama. Setiap kafir yang taat aturan negara Islam disebut sebagai dzimmy, dan mereka mendapatkan hak-hak kewarganegaraan yang sama dengan penduduk muslim. Darah seorang dzimmy dianggap suci dan sesuai darah seorang Muslim. Jika seorang Muslim membunuh seorang dzimmy, maka denda ataupun balasan yang dibebankan akan sama dengan denda atau balasan kepada seseorang yang membunuh seorang Muslim. Pada zaman Rasulullah SAW., seorang Muslim membunuh seorang dzimmy. Rasulullah memerintahkan eksekusinya dengan bersabda: “Aku bertanggung jawab untuk melindungi si lemah”. Di zaman Khalifah Umar, seorang suku Bakr bin Wa’il membunuh seorang dzimmy Hirah. Khalifah memerintahkan agar si pembunuh diserahkan kepada karib kerabat korban. Ini dilaksanakan dan ahli waris korban membunuh sang pembunuh. Selama masa Utsman, Khalifah ketiga, dikeluarkan suatu perintah untuk mengeksekusi Ubaidillah, anak Khalifah Umar, karena dia diadukan telah membunuh Hurmuzan, pembunuh Umar, dan anak perempuan Abu Lu’luah (keduanya dzimmy) dengan kecurigaan karena mereka telah berkomplot untuk membunuh almarhum ayahnya. Pada zaman Ali, Khalifah keempat, seorang Muslim dituduh membunuh seorang dzimmy. Setelah tuduhan terbukti, Ali memerintahkan untuk mengeksekusi Muslim tersebut. Tetapi saudara korban menghadap dan menyatakan bahwa dia telah memaafkan pembunuh tersebut. Tetapi Ali tidak puas dan curiga bahwa dia telah diancam oleh beberapa orang. Hanya setelah si saudara korban dengan gigih menyatakan bahwa dia telah menerima uang tebusan-darah (diyat) dan bahwa sang korban tidak akan hidup lagi jika sang pembunuh dieksekusi, maka Ali memberikan perintahnya untuk melepaskan sang pembunuh seraya berkata: “Barangsiapa menjadi dzimmy kita, darahnya sesuci darah kita dan tidak dapat diganggu-gugat sebagaimana milik kita sendiri” .
    Semua hak warga negara yang diberikan kepada warga negara Muslim diberikan kepada dzimmy, kecuali kepemimpinan pusat karena Islam melarang mengangkat pemimpin seorang kafir. Begitu juga kewajiban-kewajiban sebagai warga negara adalah juga sama, perbedaannya adalah jika Muslim berkewajiban mengeluarkan zakat, infaq, dan shodaqah, dzimmy wajib mengeluarkan jizyah, kharaj, dan usyur. Jika Muslim diwajibkan menjadi pasukan perang, maka dzimmy diwajibkan membantu dan tidak boleh membantu musuh.

    VII. RESOLUSI ISLAM TERHADAP TERORISME
    Sebenarnya dari awal tujuan Islam sebagai rahmat dan cara-cara kasih sayang dan damai yang dijalankan dalam menjalankan da’wah serta bermuamalah (bermasyarakat) menunjukkan bahwa Islam adalah anti terorisme. Sejumlah survey yang dilakukan memperkuat fakta tersebut.
    Center for Strategic Studies (CSS) di Universitas Yordania menerbitkan survey yang berjudul “Revisiting the Arab Street” pada bulan Februari 2005, dimana mereka mewawancarai sejumlah besar sample populasi (wakil rakyat, mahasiswa, bos media dan perusahaan) di Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Libanon. Laporan tersebut berdasarkan wawancara yang dilakukan dari Maret hingga Juni 2004. hasilnya menyebutkan bahwa: Reaksi negara-negara Arab terhadap kebijakan luar negeri Barat, terutama AS, di negara mereka dianggap sebagai faktor yang paling mempengaruhi sikap negara-negara Arab. Ketika ditanya apakah sikap anti-Amerika yang merupakan akibat dari nilai-nilai Amerika atau kebijakan Amerika di negeri Muslim, 90% responden Mesir, 79% responden Maroko, 76% responden Yordania dan 80% responden Lebanon mengatakan bahwa kebijakan Amerika lah yang menyebabkan adanya sikap tersebut. Temuan-temuan ini tidak hanya ditemukan di Negara Arab saja, tetapi di Korea Selatan, Rusia, dan Brazil .
    Jajak pendapat dilakukan oleh Program on International Policy Attitudes (PIPA) Universitas Maryland pada bulan Januari 2007, membandingkan sikap-sikap warga Iran dengan warga Amerika mengenai masalah politik. Para partisipan dari kedua Negara tersebut ditanya apakah pemboman dan serangan-serangan internasional lain yang ditujukan kepada warga sipil seringkali, kadang-kadang, jarang, atau tidak pernah dibenarkan. Sebanyak 80% partisipan Iran mengatakan bahwa kekerasan yang ditujukan ke warga sipil tidak pernah dibenarkan, sedangkan hanya 46% warga Amerika yang menunjukkan tentangan serupa terhadap serangan tersebut. Jajak pendapat tersebut sepertinya menyatakan bahwa warga Amerika memiliki keinginan yang lebih besar untuk menggunakan kekerasan terhadap warga sipil untuk mencapai tujuan-tujuan politik .
    Islam kembali memberikan solusi yang jelas dan sempurna mengenai krisis dan tindak terorisme yang terjadi di dunia saat ini. Resolusi itu adalah:
    Pertama, mengedepankan sikap perdamaian (Ishlah) dalam segala hal. Itu artinya peranan diplomasi dikedepankan bukannya pamer otot dan persenjataan. Kesepakatan dunia internasional harus terjadi untuk mengurangi anggaran militer dan mengalihkannya kepada sektor produktif yang mensejahterakan.
    Kedua, keadilan ditegakkan sebagaimana mestinya. Allah SWT. berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mebgutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca, supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat (untuk kebaikan) dan berbagai manfaat bagi manusia” (QS. Al-Hadid:25).
    Ketiga, penghapusan senjata nuklir dan pemusnah masal. Islam melarang membunuh tanpa alasan yang benar baik terhadap binatang, tumbuhan, apalagi manusia. Sabda Nabi SAW.: “Barangsiapa yang membunuh satu orang tanpa alasan yang benar, berarti seperti membunuh manusia seluruhnya. Barangsiapa yang menyayangi seorang manusia, berarti seperti menyayangi manusia seluruhnya”.
    Keempat, penghapusan segala bentuk kedzaliman. Nabi SAW. bersabda: “Jika manusia melihat kedzaliman dan tidak mencegahnya, niscaya Allah akan menimpakan adzab-Nya kepada mereka semua” .
    Kelima, bersabar dalam menghapus kedzaliman. Allah SWT. berfirman:
    “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” (QS.Al-Maidah:49).

    Keenam, aktivisme dalam berbagai forum dan pada semua tingkatan baik local, nasional, dan internasional. Allah SWT. berfirman:
    “Dan hendaklah ada sekelompok umat dari kalian yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran, dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia” (QS. Ali Imron:110).

    Ketujuh, perlunya otoritas internasional yang memiliki wewenang yang jelas untuk menegakkan hukum internasional. Tidak seperti hari ini, berbagai konvensi, traktat, dan perjanjian internasional dibentuk, tetapi hanya ilusi karena tidak ada suatu lembaga pun yang berwenang untuk menerapakan sanksi dari berbagai peraturan tersebut. Ketika disebutkan adanya Dewan keamanan, itu juga hanya mewakili kepentingan sekelompok negara saja. Bahkan dengan adanya hak istimewa bagi 5 negara besar dengan hak veto-nya, tidak mungkin keadilan akan terwujud. Itu berarti mengistimewakan sebagian negara dan membelakangkan negara yang lain yang jumlahnya lebih banyak. Khilafah memang menjadi salah satu alternative bagi dunia Islam, sedangkan di luar Islam juga dapat membentuk suatu fakta tersendiri. Tetapi dengan terkonsentrasi pada dua kutub, minimal dapat mengontrol konstalasi dunia.
    Kedelapan, dibentuknya suatu kesepakatan internasional tentang kebebasan beragama dengan menjalankan seluruh aturannya. Seperti telah dicontohkan dalam Piagam Madinah yang salah satu Pasal-nya berbunyi:
    “Orang-orang Yahudi hendaknya berpegang pada agama mereka, dan orang-orang Islam pun hendaknya berpegang pada agama mereka pula” .

    Kesembilan, penghapusan tribalisme dan feodalisme. Allah SWT. berfirman:
    “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami ciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat:13).

    Kesepuluh, bersahabat dengan kekuasaan netral. Allah SWT. berfirman:
    “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang dzalim” (QS. Al-Mumtahanah:8-9).

    Kesebelas, menjaga perjanjian dan tidak standar ganda. Allah SWT. berfirman:
    “Kecuali orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian dengan kamu dan mereka sedikit pun tidak mengurangi (isi perjanjian) dan tidak (pula) mereka membantu seorang pun yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa” (QS. At-Taubah:4).

    VIII. PENUTUP
    Demikianlah prinsip-prinsip dasar keadilan dalam Islam yang tidak mentolerir segala bentuk ketidakadilan yang dapat mengundang reaksi keras dan kekerasan itu sendiri. Sikap membela diri adalah keharusan di dalam Islam, agar tidak terjadi keotoriteran dan sikap yang arogan yang mencelakakan diri si pelaku tetapi juga merugikan pihak lain. Segala puji bagi Allah SWT. yang begitu sempurna memberikan hukum-hukum-Nya agar manusia menjalani kehidupannya secara mulia dalam keadaan damai dan sejahtera.

  18. putri berkata:

    mas saya kuliah jurusan HI dan konsentrasi dalam polin,saya ingin mengambil judul skripsi tentang indonesia-australia atau indonesia-china tapi saya binggung apa yg ingin saya bahas dalam studi kasusnya karena saya berkonsentrasi dalam polin..
    tolong saya mas kira-kira yg mempunyai data referensi paling banyak yg mana agar saya tidak kesulitan dalam mencari referensi,terima kasih..

  19. Moderator berkata:

    Terimakasih atas makalahnya yang panjang, silahkan dikomentari.

  20. Jatmiko berkata:

    Assalamu’alaikum Bagaimana Sikap dan perbuatan ahlusunah wal jamaah dalam berhadap perbuatan dusta Yang dilakukan oleh kelompok shiah barokaloh amin wassalam
    Jatmiko

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s