Tag

, , ,

BERBEKAL Teori Deng Xiaoping guna melengkapi doktrin sebelumnya, Republik Rakyat Cina (RRC) yang berpenduduk 1,2 milyar melangkah makin cepat. Untuk melukiskan apa yang disebut Teori Deng itu secara sekilas, bisa dilihat dari kehadiran restoran saji cepat McDonald’s dan Kentucky Fried Chicken di dekat Mausoleum Mao Zedong, pendiri negeri itu.

Dua restoran itu, asal tahu saja, berasal dari negeri yang jadi biang ajaran kapitalisme, Amerika Serikat (AS). Jarak antara restoran dari negeri Paman Sam dengan tempat jenazah Mao itu hanya beberapa ratus meter, mencerminkan betapa dekatnya hubungan RRC dengan produk ekonomi kapitalis. Atau dengan kata lain sudah terbukanya tirai bambu yang mengelilingi Cina.

Sambil duduk di restoran itu, gedung tempat jenazah Mao yang dibalsem dapat disaksikan dengan jelas. Tak jauh dari restoran itu ada restoran Kebab Australia dan restoran Lotteria yang konon investornya dari Korea Selatan. Di seputar Lapangan Tiananmen ini terletak monumen sejarah Cina seperti Gedung Kongres Rakyat Nasional, Monumen Pahlawan dan Kota Terlarang, saksi sejarah masa lalu Cina.

Kaum muda Beijing tak asing lagi dengan restoran asal AS itu.    Setiap hari orang berjejal untuk membeli menu yang bisa disantap dengan cepat. Apalagi musim semi yang baru dimulai di Cina awal Maret lalu menambah ramainya suasana di seputar restoran.    Bukan itu saja. Di sejumlah pusat-pusat perbelanjaan modern seperti Blue Sea Shopping Center atau di pasar-pasar tradisional, masyarakat hilir mudik.

Bahkan kalangan menengah atas Beijing kini punya kebiasaan baru, menghiasi rumahnya dengan bunga dan akuarium. Muncullah pasar bunga di bagian selatan Beijing. Omset bunga pun meningkat. “Bunga kini digemari masyarakat Beijing,” komentar Li Cuixia, manajer taman bunga Hua Xiang. Selain bunga, fenomena lainnya, tahun lalu jumlah kendaraan roda empat di Beijing bertambah 10 juta buah!

Itulah perkembangan di Beijing sesudah negeri itu menikmati GNP perkapita 655 dollar AS, ekspor dalam 12 bulan terakhir 183 milyar dollar dan cadangan devisa 141 milyar dollar.
***

APAKAH inti Teori Deng Xiaoping yang mengubah Cina dalam dua dekade terakhir dari negara berkembang biasa menjadi berpotensi negara maju di abad mendatang? Jawabannya, membangun sosialisme dengan karakteristik Cina.

Berbekal doktrin-doktrin negara sebelumnya di antaranya dari Mao Zedong, Deng menafsirkan ideologi negara dalam pandangan baru. Ia melihat, ideologi yang dipegang Cina menjadi statis, tidak lagi memiliki kekuatan pendorong. Deng berpendapat, Cina bisa maju jika hidup damai berdampingan dan menyerap seluruh kemajuan yang dicapai negara lain. Ia lalu merasa perlu menciptakan sebuah sistem ekonomi pasar sosialis yang dianggapnya tak melanggar doktrin lama.

Tahun 1979 ia pernah mengatakan, “Adalah tidak benar menilai ekonomi pasar sesuatu milik masyarakat kapitalis. Mengapa ekonomi pasar tak bisa dipraktekkan di bawah sosialisme? Ekonomi pasar pernah muncul dalam masyarakat feodal. Karena itu bisa dilakukan di bawah sosialisme.

“Saat ditanya apa hubungan sosialisme dan ekonomi pasar? Ketika bertemu pengusaha AS tahun 1985 ia menegaskan, “Hal yang penting dilakukan adalah mempercepat pertumbuhan produktivitas sosial.

“Wu Jie dalam Deng Xiaoping Thought (1996) menyimpulkan, ekonomi terencana pusat bukanlah hal yang bersifat sosialis karena perencanaan juga hadir dalam kapitalisme. Pendeknya, baik terencana atau karena pasar adalah alat-alat ekonomi. Keduanya bisa dilakukan di negara sosialis atau kapitalis.
***

KEHADIRAN investasi asing jadi salah satu bagian dari Teori Deng. Menurut Wu Jie, teori ini memformulasikan, RRC dapat maju jika membuka diri terhadap dunia luar, terbuka terhadap teknologi dan investasi. Secara prinsip, teori ini bertentangan dengan anggapan, RRC bisa berdiri sendiri dalam menghadapi kekuatan kaum kapitalisme.

Sejak dipraktekkan tahun 1978, Cina mengalami kemajuan pesat. Dengan kata lain Teori Deng telah terbukti benar sampai saat ini, bisa mengangkat taraf hidup masyarakat dan sekaligus mengimbangi kekuatan kapitalis dari Barat. Karena itu, pendukung-pendukung dan praktisi teori ini seperti Presiden Jiang Zemin (71) dan PM Zhu Rongji (69) yang mempraktekan teori itu di Shanghai.

Seorang pejabat tinggi Cina yang tak mau disebut namanya menyatakan, jika Mikhail Gorbachev datang membawa reformasi yang berakhir dengan hancurnya sosialisme dan bubarnya Uni Soviet yang komunis, maka Teori Deng ini malah memajukan RRC.

Untuk memodernisasi Cina, Deng menyodorkan tiga tahap strategi pembangunan. Pertama, melipatgandakan GNP tahun 1980 dan memenuhi kebutuhan dasar pangan dan sandang rakyat pada akhir 1980-an. Kedua, melipatgandakan lagi GNP tahun 1980 dan menjamin kehidupan yang nyaman bagi rakyat sampai tahun 2000. Ketiga, mencapai tingkat rata-rata negara maju pada pertengahan abad mendatang.

Bagaimana bukti teori itu? Sejauh ini tahap pertama sudah tercapai tahun 1990 di mana GNP negeri itu mencapai 1,74 trilyun yuan atau 2,36 kali dari tahun 1980. Pada tahun 2000 diramalkan Cina makin kuat, menduduki ranking keenam kekuatan ekonomi dengan GNP 1,140 trilyun dollar AS atau 5,02 kali tahun 1980.

Apakah Cina berambisi menjadi negara adidaya? “Cina yang modern dan kuat, tidak mengancam tetangganya. Mereka yang meniupkan teori ancaman Cina tidak menghendaki Asia hidup damai berdampingan,” ujar Asisten Menlu RRC Chen Jian kepada Kompas dan dua wartawan Indonesia awal Maret lalu di Gedung Deplu yang megah di Beijing.
***

BAGAIMANA keajaiban inflasi hampir nol persen bisa terjadi tetapi pertumbuhan tetap terpelihara? Semua itu bisa berlangsung karena berbekal Teori Deng dan Tsar Ekonomi Zhu Rongji yang karena jasanya itu diangkat sebagai PM Cina yang baru. Tahun 1992 inflasi mencapai 22 persen, harga-harga melangit sebagai akibat memanasnya ekonomi setelah reformasi ekonomi dilaksanakan sejak 1978.

Zhu ketika menjadi Gubernur Bank Sentral dengan jurusnya yang piawai memilih untuk menghentikan aliran kredit dari bank-bank pemerintah. Keran kredit dibatasi kecuali untuk proyek sangat penting dan strategis. Semuanya dilaksanakan melalui mesin pemerintahan yang efektif. Perbankan juga mendapat “pembersihan” besar-besaran sehingga tidak sembarang kredit dikeluarkan. Investasi di bidang properti sangat dibatasi.

Badan usaha milik negara tidak ketinggalan dari penanganan Zhu. Kebijakan super ketat yang dilakukan Zhu terutama setelah jadi Deputi PM menjadikan dirinya tidak populer di mata pimpinan BUMN. Namun di mata ekonom, ia diacungi jempol.

Sesudah berhasil tahun ini dengan inflasi mendekati nol persen dan pertumbuhan bisa dipertahankan dengan angka delapan persen, ia merasakan betapa pengangguran yang bisa mencapai 11 juta tahun ini menyebabkan masalahbaru. Karena itu, ia tak segan-segan bertemu dengan karyawan BUMN yang pangkatnya turun atau jabatannya diganti.

Dalam krisis moneter Asia sekarang semua mata mengarah kepada Zhu. Apakah Cina akan mendevaluasi Renminbi Yuan? Itulah pertanyaan yang dijawab tegas Zhu: “Tidak!” Persoalannya, jika yuan tidak didevaluasi, produk Cina menjadi mahal di pasaran Asia. Itu berarti kalah dengan produk negara lain. Jika ekspor berkurang maka pertumbuhan pun bisa terpengaruh.

Asia menunggu jurus baru dari Teori Deng yang dilaksanakan Presiden Jiang dan PM Zhu setelah kemakmuran terlihat di beberapa tempat terutama di kawasan pantai timurnya. Kemakmuran yang mulai dirasakan di sebagian wilayah Cina ini akan memiliki ekses lain. Inilah tantangan baru Cina, memperpanjang kemakmuran tanpa ditimpa kemalangan seperti beberapa negara Asia. (Asep Setiawan, Kompas 22/3/1998)