Kata Pengantar 

Menulis tentang Cina bukanlah hal mudah. Banyak buku sudah dihasilkan tentang Cina modern. Namun penulisan yang hanya mendandalkan pengataman dari jauh atau studi literatur, tentu berbeda dengan penulisan yang melihat langsung obyeknya. Di sinilah penulis mungkin bisa menambahkan nuansa dalam menulis tentang Cina modern, khususnya pasca kejayaan Deng Xiaoping dan menguatkan pengaruh Deng Xiaoping.Dua kali mengunjungi Cina dan dua kali melihat dari dekat Hongkong, termasuk penyerahan kedaulatan ke Inggris Juni 1997, tentu bukan pengalaman yang cukup, bahkan jauh dari cukup untuk memberanikan menulis tentang Cina yang diramalkan jadi negara adidaya abad ke-21.    

Wawancara yang dilakukan dengan para pejabat dan masyarakat Cina daratan dan Hongkong mungkin menambah nuansa tentang sikap, orientasi, budaya dan harapan masyarakat dan pejabat Cina tentang Cina di dunia.     Sebagai wartawan gaya penulisan mungkin lebih condong bentuk populer dibandingkan bentuk akademis atau analisis dari pengajar dan peneliti. Meskipun demikian diharapkan para pembaca tidak kehilangan bobot data dan kontruksi tulisan yang disajikan penulis. Pengalaman ikut mengajar di beberapa perguruan tinggi, mungkin bisa mengimbangi kelemahan dalam menyajikan analisa.     

Tulisan ini akan berusaha menangkap unsur-unsur penting dalam perjalanan Cina berdasarkan pada even-even penting dan lembaga-lembaga penting di Cina. Dengan demikian temanya lebih beraneka ragam dan sedikit menonjolkan aspek daya tarik terhadap salah satu sudut pandang. Tema-tema itu diambil  terutama dari ketika penulis menguraikan perkembangan sebuah peristiwa di Cina. Penulisan yang dilakukan bersamaan dengan rekan lain di Kompas, ditulis ulang dengan sudut pandang sepenuhnya dari penulis.     Sentuhan penulis dengan peristiwa di Cina dimulai dengan tragedi Tiananmen. Saat itu penulis baru saja bergabung dengan Kompas sehingga masih disebut sebagai pengamat amatiran dalam mengikuti sebuah peristiwa besar, Tragedi Tiananmen 4 Juni 1989. Salah satu aspek yang ditulis adalah siapakah Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) yang berhadapan dengan para mahasiswa pro demokrasi. Setelah melihat Tiananmen, termasuk di dalamnya aspek perkembangan TPR, penulis kemudian menoleh kepada aspek kepemimpinan Cina. Siapa pemimpin Cina yang melakukan langkah tegas itu.Di sini kepemimpinan Deng Xiaoping akan disorot, beserta pemikirannya. Kemudian barulah akan menengok Jiang Zemin, pemimpin baru Cina dalam memasuki abad ke-21.    

Para pemimpin besar itulah yang membawa Cina kedalam ekonomi yang berkembang di penghujung abad ke-20. Ekonomi akan jadi sorotan dalam bab selanjutnya. Pengamatan langsung di lapangan mungkin bisa menambah suasana tentang bagaimana ekonomi itu berjalan baik teori maupun praktek. Di sini akan disajikan fokus pertumbuhan Cina di Shanghai termasuk kawasan Pudong yang terkenal itu.    

Ekonomi Cina bertambah meyakinkan setelah Hongkong, si anak hilang, kembali ke pangkuan ibunya Juni 1997. Bagaikan bebek bertelur emas, Hongkong telah menjadi pintu gerbang Cina ke luar dan sebaliknya ketika negeri itu masih membangun ekonominya yang bercorak pasar.    

Tidak lupa diplomasi dan perilaku Cina di kawasan Asia , termasuk dalam soal Laut Cina selatan, yang melibatkan enam negara yang  bersengketa. Amerika Serikat kemudian melakukan kemitraan strategis setelah menyaksikan pertumbuhan ekonomi spektakuler selama satu dekade.     Sebagai penutup, penulis ingin memberikan sejumlah ulasan tentang bagaimana Cina dalam waktu dekat, baik yang pro dan kontra. Di atas segalanya, memang tidak bisa dilupakan begitu saja kehadiran 1,2 milyar jiwa yang ada di Asia dan Dunia.     

BAB I

Tragedi Tiananmen        

Tragedi Tiananmen telah melahirkan luka yang dalam  perjalanan Cina modern. Tidak hanya masyarakat Cina yang merasa insiden itu merupakan lembaran hitam yang memakan korban para mahasiwa, masyarakat dan politisi pro demokrasi, tetapi juga mendapat reaksi keras dari dunia internasional. Setelah kejadian itu, Cina seperti diisolasi dunia.    

Rencana pembangunan ekonominya yang menganut pasar mengalami batu sandungan. Sejak 1978, Cina sudah melancarkan apa yang disebut sebagai empat modernisasi. 

     Salah satu pemicu peristiwa itu adalah saat keterbukaan ekonomi Dikembangkan sehingga melahirkan sentuhan modal, informasi dan teknologi dengan Barat, format politiknya tidak mengalami penyesuaian.Akibatnya, kelas terdidik seperti para mahasiswa dan dosennya terobsesi dengan kebebasan di luar negeri dengan bukti-bukti kemajuan ekonominya.Singkat kata, kemajuan peradaban Barat lahir karena kebebasan politik yang dilaksanakannya.    

Paham ini makin merebak di kalangan mahasiswa dan intelektual karena terjadi diskusi intensif diantara mereka. Gelombang informasi dari luar yang menyerbu masuk ke Cina akhirnya mengubah obsesi kebebasan itu menjadi sebuah gerakan pro demokrasi.    

Puncak aksi demokrasi itu berlangsung di Lapangan Tiananmen, Beijing, yang jadi simbol kebesaran Cina saat ini. Di seputar tempat inilah terdapat gedung-gedung penting pilar kenegaraan Cina.Setelah beberapa hari pidato, aksi unjuk rasa dan perhatian para wartawan asing ke Tiananmen, pihak penguasa Cina mengambil keputusan yang tak dapat diduga sebelumnya: Hancurkan gerakan pro demokrasi mahasiswa.    

Sejak kebijakan itu dikeluarkan, maka periode kelam gerakan prodemokrasi sudah diambang pintu. Bermula dari pembubaran secara kekerasan aksi pro demokrasi di Tiananmen yang memakan korban jiwa sangat besar, maka pemerintah terus mengadakan perburuan terhadap kaum intelektual yang mbalelo terhadap ajaran komunis. Muncullah tokoh-tokoh pembangkan yang dicari dan kemudian melarikan diri ke Barat. Marak pula gerakan pro demokrasi bawah tanah yang melahirkan kepahlawanan besar di kalangan intelektual. 

Melihat Tiananmen dari dekat 

Tahun 1995 ketika penulis mengunjungi Beijing 18 Mei,Pengawasan dan penjagaan Lapangan Tiananmen di pusat Beijing semakin meningkat  dua  pekan  menjelang peringatan  pecahnya  demonstrasi  pro-demokrasi  3-4  Juni  1989. Jumlah personel militer  Cina  tampak  lebih banyak  daripada biasanya hilir mudik di seputar Tiananmen (Pintu  Surga Perdamaian).   

Menurut  sebuah sumber, peningkatan kegiatan patroli  mulai  berlaku awal Mei ini. Mereka berkeliling Beijing naik mobil khusus.  Peningkatan penjagaan  keamanan  ini biasa berlangsung menjelang  awal  Juni  ketika pecah  bentrokan  antara mahasiswa dengan tentara. Sedikitnya  1.000  orang  tewas dalam insiden  yang  dimulai  dengan seruan mahasiswa untuk melaksanakan reformasi politik di samping ekonomi.Mahasiswa  dan  massa ini berdemonstrasi di  Lapangan  Tiananmen  bahkan mereka  membuat patung Dewi Demokrasi sebagai simbol gerakan  demokrasi. Gerakan  ini kemudian menyebar ke berbagai kota besar. Namun  pemerintah kemudian menumpas gerakan ini dengan mengerahkan militer yang dilengkapi puluhan tank.   

Gema  gerakan  pro-demokrasi ini masih terasa  saat  ini.  Menjelang peringatan  pecahnya  demonstrasi ini, pemerintah  menyiagakan  berbagai perangkat keamanan untuk mencegah munculnya demonstrasi sekecil  apa pun. Situasi  tampak seperti biasa saja, tetapi jika diamati  dengan  saksama memang terasa sekali penjagaannya diperketat. Namun demikian  masyarakat seolah-olah  tidak merasakan hal ini. Mereka tetap  tentang  mengunjungi Forbidden  City (Kota Terlarang) atau antre untuk melihat mouseleum  Mao Zedong.    Seperti  tahun sebelumnya, kestabilan dan keamanan Tiananmen  sering dijadikan  ukuran mengenai kemantapan politik Cina.  Tampaknya  lapangan yang  luasnya  40  hektar  di sebelah  selatan  Forbidden  City  menjadi perhatian  masyarakat internasional mengenai misteri yang terjadi  dalam persaingan politik Cina.   

Pengamatan penulis  di  Tiananmen  menunjukkan  walaupun  pengawasan ditingkatkan  baik  oleh  petugas berseragam  maupun  yang  berpura-pura sebagai  tukang sapu, tidak ada tanda-tanda akan muncul  demonstrasi  di atas  lapangan  yang  dibuat dari campuran  batu  berbentuk  segi  empat berukuran sekitar 40 cm.    Letak  Tiananmen memang strategis sekali. Di bagian  timur  terletak Istana  Kebudayaan  Rakyat  Pekerja,  Museum  Sejarah  Cina  dan  Museum Revolusi Cina. Di bagian barat terletak Balai Agung Rakyat (Great Hall of the  People)  yang  dibangun 1959 sebagai tempat  Kongres  Rakyat.    

Sumber: KOMPAS, 19-05-1995.

PEMBANGKANG DITANGKAP   

Pemerintah Cina menangkap tiga pembangkang menjelang peringatan enam   tahun  tragedi  berdarah  Lapangan   Tiananmen.   Penangkapan dilakukan untuk mencegah muncul kerusuhan lagi bulan depannya    

Menurut sejumlah sumber di Beijing seperti dikutip South  China Morning Post Mei 1995  di antara  yang  ditahan adalah salah seorang dari  45  penandatangan petisi  yang  berani ke Presiden Jiang Zemin.  Petisi  itu  menuntut pembebasan   semua   tahanan  politik  yang   terlibat   demonstrasi prodemorkasi di Tiananmen Juni 1989.    

Huang  Xiang (45) dan istrinya Zhang Ling diciduk polisi  Kamis pukul  04.30 dinihari dari rumahnya di sebelah timur  laut  Beijing. Setelah pencidukan itu, mereka tak tampak lagi di muka umum.  Huang, penyair   dan   veteran   gerakan   Tembok   Demokrasi   1979   ikut menandatangani petisi.     Petisi ini merupakan yang pertama kali sejak pecahnya kerusuhan tahun 1989. Di antara penandatangannya terdapat ilmuwan Wang Ganchang (88), Ketua Kehormatan Institut Riset Nuklir Cina.    

Setiap  tahun, menjelang peringatan insiden  Tiananmen,  polisi meningkatkan  penjagaann  di   Beijing.  Mereka  memperbaiki   kamera pengawas  di  Tiananmen. Tentara dan polisi  juga  dikerahkan  untuk menjaga  Tiananmen siang malam, yang selalu ramai terutama di  musim semi dan panas.    

Huang  sendiri  sudah pernah ditahan lima kali  sejak  puisinya yang  prodemokrasi  dibacakan dalam pawai gerakan  Tembok  Demokrasi tahun  1979. Namun gerakan itu ditumpas atas perintah Deng  Xiaoping (91) yang kini keadaannya sangat dirahasiakan.     

Menurut  sebuah sumber di Beijing, bahkan  para  pejabat  Cina sendiri  tidak semuanya mengetahui di mana Deng berada. Diduga  hanya pejabat  tingggi  setingkat  presiden dan  menteri  yang  mengetahui betul-betul bagaimana keadaan pemimpin senior itu.    

Pembangkang  lain yang lenyap adalah Wang Xizhe,  pendiri  grup kecil  Cina yang ikut dalam demonstrasi 1979. Dia pun diciduk  polisi Beijing hari Selasa lalu (16/5). Wang yang pernah ditahan di penjara Guangdong setelah menjalani 12 dari 14 tahun penjara. Ia  dikabarkan tidak kembali ke hotelnya Jumat malam.    

Sedangkan Liu Xiaobo yang dihukum karena aksi demonstrasi tahun 1989  juga diangkut polisi hari Rabu. Polisi  dikabarkan  mengatakan akan  membawa mereka untuk diinterogasi namun kemudian tidak  muncul sampai hari Sabtu. Liu  ikut  menandatangani  dua petisi  pada  bulan  Maret  yang ditujukan ke Kongres Rakyat Nasional.  

Sumber: KOMPAS,22-05-1995

 LAHIRKAN KELAS MENENGAH YANG KRITIS    

BEBERAPA pekan menjelang peringatan ke-6 pembantaian berdarah Lapangan Tiananmen tanggal 4 Juni 1989, tempat yang sehari-hari digunakan untuk berbagai upacara penting serta arena bermain keluarga dan remaja ini tampak sepertitegang. Sekilas memang kelihatan penduduk setempat tidakmempersoalkan apa yang terjadi enam tahun silam di tempat ini.    

Namun kehadiran tentara yang semakin banyak serta patroli seputar Beijing sejak awal Mei, menandakan antisipasi terhadap sesuatu yang tidak bisa diramalkan.    

Hampir setiap 10 meter ada tentara dengan seragam hijau dan peci bergaris merah berjalan-jalan memperhatikan pengunjung Lapangan Tiananmen. Bila ada yang mencurigakan mereka tampak mendekati dan bertanya. Bahkan tidak jarang memeriksa isi kantong orang yang dicurigai tersebut. Orang asing yang hilir mudik apalagi membawa kamera tidak luput dari pengamatan tentara.     “Jangan dikira pengawasan Tiananmen itu sebatas petugas berseragam. Jika Anda jeli mengawasi, petugas penyapu sampah pun diam-diam membawa radio penghubung. Bahkan orang tua yang duduk-duduk santai pun kadang-kadang membawa HT (handy-talkie),” ujar seorang staf perwakilan asing di Beijing.    

Suasana tegang memang mewarnai hari-hari menjelang peringatan ini. Mungkin saja terkesan terjadi perang urat saraf antara pendukung gerakan Tiananmen dengan pihak berwajib. Ketegangan ini tampak semakin memuncak menjelang tanggal 4 Juni.     

Petugas keamanan juga semakin banyak berkeliaran di seputar Lapangan Tiananmen. Tidak jarang pula di seluruh Beijing, di kampus-kampus Beijing, dan bahkan menyebar sampai ke berbagai kota pedalaman yang dianggap potensial mengundang aksi baru.    

Sejumlah tokoh yang dianggap menentang penguasa juga mendapat pengawasan ketat. Pengintaian tak hanya terjadi pada tokoh mahasiswa di rumahnya tetapi juga di setiap kegiatan yang diikutinya.    

Mantan Sekjen Partai Komunis Cina (PKC) Zhao Zhiyang yang dicopot seminggu setelah pembantaian di Lapangan Tiananmen,mendapat pengawalan sangat ketat. Demikian juga sejumlah tokoh saingan Presiden RRC yang juga menjabat sebagai Sekjen PKC Jiang Zemin yang dianggap pro-mahasiswa.                            

BAGI pendukung gerakan prodemokrasi, peringatan ini peluang menyampaikan pesan anti-kemapanan, anti-regim sekarang yang menguasai 1,1 milyar penduduk. Mereka juga  menggugat lagi keputusan pemerintah menahan aktivis politik yang terlibat pembantaian di Lapangan Tiananmen oleh Tentara Pembebasan Rakyat.    

Kehadiran pers asing dan perhatian dunia internasional pada momentum 4 Juni sangat ditunggu-tunggu pendukung gerakan prodemokrasi. Mereka berusaha menggunakan pers asing untuk menyampaikan misinya, sesuatu hal yang tidak mungkin jika disalurkan lewat media massa Cina.     

Berbagai petisi dan ungkapan bernada protes bermunculan pada bulan Mei. Salah satu yang menonjol adalah keterlibatan perintis bom atom di Cina, Wang Ganchang (88).    

Dalam petisi yang ditandatangani sejumlah tokoh intelektual terhormat, mereka meminta pemerintah mengkaji ulang penahanan aktivis Tiananmen. Mereka juga menuntut pembebasan mereka. Kalangan intelektual ini menganggap orang tak harus ditahan karena pemikirannya yang bertentangan dengan penguasa.    

Rangkaian  protes  di  dalam  negeri  yang  dialamatkan  kepada Presiden  Jiang  Zemin dan Kongres Rakyat Nasional  (parlemen  Cina) mencerminkan betapa ingatan terhadap tragedi Tiananmen, khususnya di kalangan mahasiswa dan intelektual, tak pernah padam.     

Peringatan Tiananmen ke-6 ini mendapat perhatian serius karena bersamaan dengan masa transisi kekuasaan. Jiang Zemin meskipun sudah dinobatkan sebagai pengganti Deng Xiaoping (91) yang saat ini tak diketahui keberadaannya, posisinya di mata para pengamat Cina masih belum mapan. Kalangan militer ataupun tokoh tua PKC serta mereka yang masih loyal kepada Deng, menganggap transisi ini belum selesai.

SECARA sadar Cina melangkah ke arah pembaruan ekonomi yang tidak terbayangkan 10 tahun lalu. Kemakmuran di mana-mana.Kemiskinan juga masih tetap merajalela. Namun karena jumlah penduduknya yang terbesar di dunia, kenaikan kelas menengah versi Cina akan banyak mempengaruhi pola perilaku politik. Kemapanan ekonomi lambat laun akan mengubah pola pikir mereka baik terhadap perkembangan ekonomi maupun politik.    

PM Singapura Goh Chok Tong dalam seminar tentang Cina di Beijing Mei 1995, melukiskan adanya kelas menengah Cina yang semakin besar porsinya. Mengutip studi yang dilakukan biro konsultan manajemen McKinsey di Hongkong, Goh menjelaskan di Cina saat ini ada100 juta orang yang berpenghasilan lebih dari 1.000 dollar AS per tahun. Pada tahun 2000 nanti jumlah itu akan mencapai 270 juta orang, lebih besar dari penduduk AS saat ini.    

Bila diterjemahkan ke dalam proses demokratisasi yang diinginkan pendukung gerakan Tiananmen, semakin besar porsi penduduk yang mapan secara ekonomi akan semakin menghargai kebebasan berpendapat serta kebebasan mengajukan kritik terutama ke penguasa.    

Ini berarti, dalam waktu dekat akan terjadi proses perubahan yang lebih mendukung aspirasi demokratisasi di Cina, apalagi ditambah pintu informasi yang semakin terbuka lebar.     Tahun 1995 terdapat kesan keran ekonomi dibuka lebar. Investasi asing mengalir deras. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 11 persen, bahkan di sejumlah zona bebas angka itu lebih tinggi lagi.    

Posisi Cina dalam perdagangan internasional juga semakin naik di mana tahun 1994 sudah menduduki peringkat ke-11 dunia. Pada tahun 2000 nanti akan menjadi nomor enam dunia.     Namun di sisi lain keran politik ditutup rapat-rapat, yang sangat bertentangan dengan laju ekonomi. Inilah tampaknya yang akan menjadi pemicu krisis politik berkepanjangan.    

Tak mengherankan bila ada pendapat seperti diungkapkan Wakil PM Thailand, Supachai Panitchpakdi, jika laju ekonomi yang tinggi tak diimbangi perbaikan sosial politik, akan terjadilah konflik.     

Asumsinya, semakin tebal lapisan kelas menengah Cina,  aspirasi politiknya  kian  banyak menuntut perhatian.  Ini  berarti  penguasa politik  mendatang di Cina, tak hanya bisa semata-mata  mengandalkan mesin propaganda untuk melanggengkan kekuasaannya. 

Sumber: KOMPAS, 04-06-1995.