Setelah gencatan senjata dipaksakan Dewan Keamanan PBB dengan kebandelan Israel sampai menunggu sebulan menumpahkan amunisinya,bagaimana masa depan perdamaian di Libanon.

Dengan belum terselesaikanya konflik teritorial serta standar ganda Barat terutama Amerika terhadap negara Arab, sulit sekali tercipta perdamaian yang bertahan di Timur Tengah.

1. Israel masih menahan puluhan bahkan ratusan orang Hizbullah yang minta ditukar dengan dua tentara Israel. Langkah untuk menukar tentara ini pernah dilakukan untuk pengembalian jenazah. Jumlah persis orang Hizbullah di penjara Israel tidak jelas namun jumlahnya memang sedikit. Inilah pokok persoalan yang dituntut Hizbullah. Kedua masalah belum selesai.

2. Israel karena mendapat angin dari Amerika merasa bahwa Libanon adalah republic banana. Tidak ada apa-apanya sehingga bisa diduduki, diserang dan dibunuhi kapan saja. Sikap inilah yang disebut oleh Uskup di Libanon selatan sebagai sikap sulit mempercayai orang Israel. Orang Libanon menyaksikan bagaimana proses perdamaian yang disepakati oleh Palestina dan Israel hampir tidak ada hanya dilaksanakan.

3. Suriah masih diduduki Israel khususnya Dataran Tinggi Golan. Jadi bagaimana bisa berdamai kalau Israel masih menduduki secara de facto wilayah Suriah. Oleh sebab itu kondisi Israel dan Suriah secara teoritis masih dalam keadaan perang.

4. Faktor Iran yang ingin menekan Israel karena simbol dukungan Amerika Serikat. Inilah poin penting mengapa konflik Libanon disebut juga prestise antara Amerika melalui Israel lawan Hizbullah dengan backing Iran.