Tulisan menarik dari Smith Alhadar

Konflik Sektarian di Irak

Smith Alhadar

Belakangan ini konflik sektarian kelompok Sunni dan Syiah di Irak kian berbahaya.

Setiap hari sekitar 100 orang tewas. Pada 24 September lalu, kelompok Sunni yang menamakan diri Jamaat Jund al-Sahaba menewaskan 38 warga Syiah. Peledakan bom itu dikatakan sebagai balasan atas serangan kelompok militan Syiah Mahdi al-Sadr, sehari sebelumnya, yang menewaskan empat warga Sunni.

Dalam laporannya mengenai kondisi hak asasi manusia di Irak kepada Sekjen PBB, wakil misi PBB untuk Irak menyebutkan, lebih dari 3.600 warga sipil tewas selama bulan Juli dan 3.000 lainnya selama Agustus. Meningkatnya kekerasan Sunni-Syiah dimulai sejak kelompok Sunni melakukan pengeboman di Samara, di Masjid al-Asykariah, salah satu masjid paling suci Syiah pada Februari silam.

Pada 19 September, Sekjen PBB Kofi Annan menyatakan Irak di ujung perang sipil. Jika tentara Irak tak meningkatkan kinerjanya mengatasi kondisi keamanan, kemungkinan besar perang terbuka antara dua kelompok itu tak dapat dielakkan.

Sunni-Syiah

Sunni dan Syiah adalah dua kelompok pemikiran Islam yang berbeda. Masalah imamah (kepemimpinan) merupakan perbedaan paling fundamental. Berbeda dengan Sunni yang menganggap masalah kehidupan umat Islam setelah kematian Nabi Muhammad diserahkan kepada umat Islam sendiri, Syiah menganggap suksesi kepemimpinan setelah Nabi telah ditetapkan Allah untuk Ali bin Abi Thalib dan sebelas keturunannya. Karena itu, Syiah yang dianut lebih dari 60 persen rakyat Irak disebut Syiah Itsna ’Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam).

Apabila masalah-masalah agama, yang tidak dipisahkan dari masalah duniawi, ditafsirkan dan disampaikan oleh manusia biasa, seperti Khalifah Abubakar As-Siddiq, Ummar bin Khathab, atau Usman bin Affan, terbuka kemungkinan umat Islam akan tersesat oleh kepemimpinan yang dapat berbuat salah. Setelah Imam Ke-12 (Imam Mahdi) menghilang (ghaib al-qubra) di abad ke-10 masehi, kepemimpinan umat diambil alih para ulama fuqaha yang membawa konsekuensi pada pembentukan negara Islam model Iran, yang juga menganut Syiah Itsna ’Asyariyah, di mana ulama memegang kekuasaan tertinggi.

Kendati tidak prinsipiil, kedua aliran pemikiran ini juga menurunkan banyak perbedaan, mulai dari soal shalat sampai pada ritual-ritual keagamaan lainnya. Ini membawa pemisahan sosial lebih jauh pada dua kelompok yang terus bertikai sejak awal kematian Nabi.

Masalah politik

Bagaimanapun, konflik sektarian yang terjadi di Irak saat ini bukan dipicu perbedaan mazhab, melainkan masalah politik. Kelompok Syiah—yang kini mendominasi pemerintahan karena populasi mereka yang mayoritas dibandingkan dengan Arab Sunni yang hanya sekitar 15 persen—dianggap berkolaborasi dengan tentara pendudukan pimpinan AS. Sebenarnya, golongan Syiah juga tidak menghendaki adanya tentara asing di negeri mereka.

Sebagaimana golongan Sunni, mereka juga menginginkan AS hengkang dari Irak secepat mungkin. Namun, perang yang dilakukan kelompok militan Syiah Mahdi al-Sadr itu tidak berkelanjutan karena tidak didukung ulama senior, seperti Ayatullah Ali Husain al-Sistani, yang menganggap tidak realistis mengusir tentara AS dari Irak. Kepergian AS pada saat ini justru bisa mendorong Irak ke dalam jurang perang sipil.

Sementara itu, banyak hal rumit masih dihadapi Irak. Misalnya, masalah negara federal, pembagian minyak, dan masih lemahnya pasukan keamanan dalam menghadapi kelompok-kelompok perlawanan Irak.

Sekarang semakin banyak anggota Al Qaeda maupun kelompok militan lain dari negara-negara Arab menyusup ke Irak untuk membalas dendam terhadap AS yang terus mendukung Israel. Serangan mereka terhadap Syiah bertujuan menciptakan perang sipil untuk menggagalkan agenda AS. Untuk mengendalikan keadaan, seharusnya negara tetangga Irak yang terkait dengan etnik dan mazhab di Irak, seperti Iran, Turki, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Suriah, dilibatkan dalam mencari solusi.

Tak heran Arab Saudi, yang memiliki enam persen penduduk Syiah di Provinsi al-Ahsa, tempat ladang minyak utama Saudi, mulai membangun pagar di perbatasan Irak-Saudi sepanjang ratusan kilometer untuk mencegah dampak perang sipil dan menghalangi masuk-keluarnya para militan Saudi ke Irak.

Smith Alhadar
Penasihat pada The Indonesian Society for Middle East Studies