Setelah mantan Presiden Irak Saddam Hussein dihukum mati, bagaimana masa depan Irak?. Sejumlah skenario mengenai Irak telah dibuat sejauh ini. Tampaknya skenario masa depan Irak sesudah Saddam Hussein ini tidak memberikan gambaran yang cerah. Tanda-tanda rumitnya Irak di masa datang sudah terlihat sejak sekarang.

Invasi ilegal Amerika dan sekutunya ke Irak tahun 2003 membuat Timur Tengah semakin bergolak. Tanpa payung PBB sebenarnya invasi Irak ini adalah tidak sah. Invasi ini menunjukkan power politics yang dipakai negara-negara besar diberlakukan lagi. Hukum rimba siapa kuat siapa menang seperti kembali ke jaman Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Beberapa skenario bisa dicatat disini untuk masa depan Irak.

Pertama, Irak akan terbagi menjadi tiga negara bagian yang tidak akan pernah kuat. Negara federal yang merupakan gabungan dari suku Kurdi di Irak utara, penganut Sunni di Irak tengah dan Syiah di Irak selatan hampir sulit dipersatukan. Saddam ketika berkuasa menggunakan tangan besi untuk menekan dua kelompok masyarakat Irak ini sehingga setelah dia tidak berkuasa karena digulingkan Amerika dan sekutunya, maka Kurdi dan Syiah memiliki kesempatan untuk membalas.

Kedua, karena fragmentasi yang kuat ini dipelihara sejak Saddam berkuasa lebih dari dua puluh tahun, maka dua kelompok yang tertindas ini akan mencari kesempatan untuk berkuasa. Kalau mengkaji komposisi dimana 60 persen adalah Syiah maka kelompok partai politik berbasis Syiah akan menguasai pemerintahan. Situasi ini akan membuat Irak lebih dekat ke Iran daripada ke negara-negara Arab. Sebaliknya kekuatan Sunni sebagian besar akan tetap membangkang terhadap penguasa Syiah.

Ketiga, sejauh tidak ada penguasa yang kuat, penguasa yang memiliki kekuatan politik mayoritas maka benturan politik antara Kurdi, Sunni dan Syiah, juga benturan kelompok moderat dan radikal diantara tiga kekuatan itu akan tetap berlanjut. Amerika Serikat mau tidak mau akan meninggalkan Irak. Demikian juga sekutunya seperti Inggris, Australia dan Kanada. Hukum rimba siapa kuat akan menang mungkin akan muncul meskipun polesan demokrasi seperti disebutkan Amerika Serikat.

Keempat, negara tetangga Irak seperti Iran, Suriah, negara-negara Arab Teluk tidak akan membiarkan negara Irak menjadi negara yang kuat dan juga tidak mau membiarkan menjadi negara yang hancur lebur. Irak mungkin akan bertahan seperti sekarang dalam jangka lama tetapi tidak seperti sebuah negara yang utuh.

Kelima, kelompok perlawanan tampaknya masih akan beraksi melakukan penyerangan terhadap sekutu Amerika apakah berbentuk orang Irak yang memerintah dan perwakilan negara lain yang dianggap menduduki negaranya. Aksi mereka akan berbuntut kekerasan yang tiada hentinya.

Banyak catatan bisa ditambahkan mengenai berbagai perkembangan Irak ini meskipun Amerika dan sekutunya mengklaim bahwa pemerintah sekarang adalah hasil dari demorkasi. Namun kekuatan demokrasi itu juga yang diklaim Barat telah menjadikan perang di Irak menyebabkan ratusan ribu orang menjadi korban dan dipastikan jutaan orang menderita.