Tag

, , ,

Pekan lalu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton menjelaskan Palestina dan Israel sepakat untuk memulai lagi perundingan langsung pertama kalinya dalam 20 bulan ini.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Otorita Palestina Mahmoud Abbas telah diundang ke Washington pada 2 September untuk memulai perundingan.

Sikap Amerika ini diambil setelah diplomasi bulak-balik utusan khusus AS untuk Timur Tengah George Mitchell.

Targetnya cukup ambisius menyelesaikan masalah-masalah pelik antara Palestina dan Israel.

Empat masalah yang akan menghadang perundingan ini.

Pertama, masalah perbatasan akhir Yerusalem Timur. Israel sudah mengambil alih Al Quds dan masalah tidak pernah selesai. Konsep dua negara masih menjadi impian jauh bagi Palestina meski sudah ada di atas kertas sejak perundingan 1993 dan seharusnya terwujud tahun 2000.

Kedua, masalah pemulangan pengungsi. Kalau diijinkan pulang semua pengungsi di Libanon atau Yerusalem maka jumlah penduduk akan sangat luar biasa.

Ketiga, soal pemukiman mungkin takkan pernah tuntas karena Israel terus membangun pemukiman di Tepi Barat.

Keempat, air? Inilah pembagian kebutuhan yang senantiasa mengalami kebuntuan. Masing-masing berkepentingan untuk mendapatkan aliran Sungai Yordan.