Tag

, ,

Mahmoud Abbas memiliki dua hasil penting dengan upaya sekarang mencari kemerdekaan dan pengakuan dari PBB. Dia mengatakan sudah cukup berbagai perundingan bersama Amerika, Eropa, Rusia dan PBB yang tidak menghasilkan sesuatu kecuali tumpukan dokumen. Perjanjian demi perjanjian sejak tahun 1980-an akhirnya dilanggar Israel tanpa ada konsekuensi apapun. Amerika yang seolah membantu Palestina hanya memberikan peluang bagi Israel mengulur-ulur waktu.

Dalam forum PBB Presiden Abbas hari Sabtu (24/9) mengatakan sudah saatnya negara merdeka Palestina menjadi anggota tetap PBB.
Di gedung PBB Abbas mengatakan sudah waktunya PBB mengakui Palestina merdeka berdasarkan perbatasan tahun 1967. Salah satu kerangka penting perbatasan sebelum 1967 adalah masuknya kompleks Masjidil Aqsa di Jerusalem Timur dalam negara Palestina. Jerusalem Barat saat itu milik Israel dan ketika pecah perang Jerusalem Timur jatuh ke tangan Israel dari Jordania dan bahkan dijadikan ibu kota Israel.

Abbas berjanji akan meminta empat pihak dalam pertemuan berikutnya untuk mengambil langkah menghentikan agresi dan pendudukan Israel. Empat pihak adalah kuartet Timur Tengah yakni Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa dan PBB.

Hasil pertama

Gebrakan Abbas ini mengakhiri berbagai jalur perundingan yang menjadi kosmetik Barat dan Israel dalam meredakan keinginan Palestina merdeka.

Perundingan pertama Israel dan Palestina terjadi secara resmi ketika konferensi perdamaian di Madrid tahun 1991. Saat itu hampir semua negara Arab yang bersengketa melakukan perundingan dengan Israel. Mereka adalah Suriah, Palestina dan Jordania. Namun sampai sekarang hasilnya hampir dikatakan nihil. Dataran Tinggi Golan masih digenggam Israel. Jerusalem Timur milik Jordania malah dijadikan ibu kota Israel. Wilayah Palestina malah semakin kecil dan menyempit.

Langkah Abbas ini jelas akan keluar dari perundingan yang selama ini hanya membuat pusing kepala para juru runding. Isu-isu penting seperti perbatasan akhir Israel-Palestina, pemulangan pengungsi, pengaturan air dan persoalan ekonomi lainnya.

Jika Majelis Umum memberikan status peninjau negara kepada Palestina maka ini merupakan sebuah kemajuan dari segi diplomasi. Selama ini Palestina bukan dianggap sebagai peninjau negara tetapi sebagai PLO atau Organisasi Pembebasan Palestina.

Pengukuhan

Langkah Abbas ini merupakan pengukuhan peran dirinya dan faksinya Fatah untuk mendapatkan kembali simpati dan dukungan dari jutaan warga Palestina di Jalur Gaza-Tepi Barat serta pengungsi di berbagai negara.

Palestina saat ini terbelah dua. Fatah di Ramallah dan Hamas di Jalur Gaza. Terpecahnya kekuatan ini sangat melemahkan Palestina. Namun belakangan terjadi pendekatan antara kedua faksi.

Langkah Abbas meminta PBB mengakui Palestina sebagai sebuah negara merdeka kemungkinan mempersatukan rakyat di dalam negeri.

Tidak hanya itu, Abbas akan bersinar lagi setelah sekian lama terlihat hanya sebagai pengikut apa maunya Amerika Serikat.

Pengukuhan terhadap Abbas akan mengangkat lagi Fatah yang selama ini dikalahkan dalam pemilu karena sejumlah oknumnya bertindak korupsi.

Soal apakah permohonan menjadi anggota PBB ini berhasil atau tidak ini persoalan lain. Tekanan Amerika dan sekutunya tentu akan menghalangi langkah Abbas.

Kini babak baru diplomasi Abbas dan Palestina sudah dimulai.

Musim semi perubahan di Timur Tengah akan memberi angin kepada Palestina karena misalnya selama ini Mesir hanya membebek Amerika. Kini peran rakyat dan oposisi akan semakin besar untuk menekan pemerintah agar bersikap tegas. ***