Tag

Oleh Asep Setiawan

Pendahuluan

Salah satu unit analisa studi hubungan internasional adalah negara-bangsa (nation-state). Data tentang negara ini berlimpah sehingga memudahkan analisa hubungan internasional baik tingkat global maupun regional. Lemahnya lembaga supranasional dalam mengatur interaksi aktor negara ini menyebabkan fokus lebih ditekankan pada tingkat negara.

Dengan penekanan pada analisa tingkat negara ini maka banyak studi tentang perilaku negara, interaksi dan perbandingannya. Misalnya studi tentang pengambilan keputusan, motif kebijakan negara dan persepsi elit negara terhadap dunia internasional. Tidak kurang pula analisa tentang kepentingan nasional suatu negara.

Pendekatan tingkat analisa negara ini membawa pada tingkat analisa sistem negara atau sistem politik. Bahkan dengan menggunakan pendekatan sistem maka muncul istilah sistem internasional.

Dalam tataran sistem internasional, Morton Kaplan telah mengajukan enam tipe sistem yakni “balance of power”, loose bipolar, tight bipolar, universal, hierarchical dan unit veto. Sedangkan Stanley Hoffmann membuat pendekatan berdasarkan metode induktif yang menghasilkan “riset historis sistematik” atau sosiologi perbandingan historis.

Pakar hubungan internasional lainnya memfokuskan diri pada sistem internsional kontemporer. Ciri-ciri dasar dari sistem kontemporer ini seperti disebutkan antara lain Herz adalah sebagai berikut.

Pertama, universalitas. Ekspansi geografis dalam tingkat global yang disebabkan lahirnya negara-negara baru di Asia dan Afrika. Aktor negara telah bertambah dua kali lipat dalam kurun waktu 50 tahun semenjak Perang Dunia II berakhir.

Kedua, tiadanya hukum dan ketertiban dalam sistem dan fragmentasi kekuatan. Hal ini berbeda sekali dengan pola kekuasaan yang berada dalam unit sistem yang disebut negara dimana monopoli kekuasaan dipegang negara atau lebih fokus pemerintah.

Ketiga, keunikan piramida kekuasaan yang bisa berbentuk bipolaritas dimana dua negara besar berinteraksi sebagai pusat pengambil keputusan, organisasi militer, koordinasi ekonomi dan kerja sama diplomatik.

Keempat, kehadiran aktor-aktor baru di sistem internasional. Negara memang masih jadi aktor dominan tetapi juga ada aktor universal (PBB) dan sejumlah organisasi regional antara lain ASEAN.

Kelima, menurunnya peran Eropa. Kemudian terjadilah peralihan kekuasaan dari pusat (Eropa) ke wilayah pinggiran yakni Uni Soviet dan ke seberang lautan yakni Amerika Serikat. Peralihan ini antara lain disebabkan berakhirnya kekuasaan negara Eropa, perpecahan kekuasaan dan ideologi dan mungkin pula disebabkan revolusi teknologi.

Keenam, perubahan teknologi besar-besaran terutama adanya pengembangan senjata nuklir dan rudal yang cenderung mengurangi pertahanan secara fisik dan perembesan kepada negara. Kekuasaan negara besar atas senjata nuklir ini memberikan perubahan mendasar pada sistem internasional. Kemungkina perang nuklir sangat terbuka sehingga setiap langkah yang sifatnya strategis akan menyebabkan perang global.

Ketujuh, karakteristik sistem kontemporer adalah bangkitkan kekuatan ideologi yang bahkan melahirkan Perang Dingin selama setengah abad. Dalam sistem yang berpusat di Eropa pada abad ke-19, konflik antar negara hanya untuk kekuasaan terbatas, prestise dan keuntungan tertentu. Kebangkitan ideologi yang saling bertentangan dari komunisme dan liberalisme yang disertai penemuan senjata nuklir telah melahirkan sistem yang didasarkan pada konsep presaingan global.

Kedelapan, ada jurang yang makin lebar antara tingkat kemajuan alat-alat penghancur massa (senjata nuklir) dengan tingkat kemajuan menuju tatanan internasional.

Meskipun sistem internasional secara umum memiliki ciri seperti itu namun perlu pula diperhatikan adanya sistem regional atau disebut pula sistem negara subordinat.Menurut Michael Brecher (1969),  berdasarkan analisa tersebut diatas maka sedikitnya ada tiga proposisi. Pertama, ada dua tingkat analisa yang besar yakni tingkat negara bangsa dan tingkat sistem.. Tingkat sistem ini melahirkan pembagian sistm subordinat, sistem dominan dan sistem politik global.

Kedua, dengan kerangka seperti itu maka sedikitnya ada lima sistem subordinat yakni Timur Tengah, Amerika, Asia Selatan, Eropa Barat dan Afrika Barat. Namun dapat ditambahkan pula dalam sistem kontemporer saat ini sistem Asia Selatan terbagi lagi menjadi sub sistem Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Ketiga, Sistem Dunia/Global yang merupakan rangkuman dari interaksi sistem dominan dengan sistem subordinat.

Untuk kajian hubungan internasional di Asia Tenggara dapat dikemukakan dua  pendekatan konseptual yakni pertama, pendekatan teksture dari Asia Tenggara dan struktur Asia Tenggara. Teksture berarti karakteristik luas lingkungan dimana terjadi interaksi berupa ekologi, sosial, budaya politik, ideologi dan elit politik. Sedangkan struktur merujuk pada ciri dasar pola hubungan diantara unit sistem yang disebut negara.

Sebelum membahas dua pendekatan itu maka terlebih dahulu perlu diketahui definisi tentang Asia Tenggara dimana ASEAN berada. Secara fisik Asia Tenggara dibagi dua yakni Asia Tenggara daratan dan kepulauan. Negara yang berada di daratan Asia antara lain Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar. Sedangkan yang berada di kepulauan adalah Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, Filipina dan Brunei.

Core members atau anggota inti dari sistem Asia Tenggara ini adalah Indonesia , Vietnam, Thailand dan Malaysia. Artinya negara inilah yang banyak menentukan corak kawasan Asia Tenggara.

 

Teksture Kawasan

Pertama, bermula dari intensitas rendah dalam komunikasi dan transportasi menjadi semakin tinggi. Topografi Asia Tenggara menyulitkan terjadinya hubungan yang intensif diantara negara-negara di kawasan ini. Selain itu komunikasi diantara unit-unit politik Asia Tenggara dapat dikatakan masih minimal. Namun dengan kemajuan teknologi informasi maka interaksi itu makin lama makin tampak. Adanya pertemuan informal diantara para pemimpin negara menunjukkan semakin tinggi intensitas dalam komunikasi. Sementara itu alat transportasi juga makin berkembang. Antara Singapura dan Malaysia yang dipisahkan lautan sudah terjalin hubungan darat melalui kereta api dan mobil. Sedangkan Indonesia masih sulit berhubungan dengan negara tetangga lainnya misalnya Filipina. Hanya dengan melalui udara, kontak itu bisa terjalin.

Kedua, adanya konflik dan kesamaan dalam ideologi dan nilai. Sebagian negara mengikuti jalan komunis sebagian lagi mengikuti jalan liberal. Pernah terjadi bentrokan yang keras antara penganut komunis dan liberal ketika Perang Dingin. Namun konflik itu surut ketika Uni Soviet bubar dan Perang Dingin berakhir. Perbedaan ideologi tidak menjadi lagi sumber konflik di Asia Tenggara.

Ketiga, keanekaragaman sistem politik. Kalau dikaji negara-negara Asia Tenggara memiliki berbagai sistem politik yang unik. Thailand dan Malaysia masih memiliki sistem kerajaan yang sejajar atau beriringan dengan sistem politik modern. Singapura menerapkan sistem politik ala Barat tetapi masih memelihara tradisi Kong Hu Cu. Filipina sama sekali menganut sistem politik yang liberal persis seperti Amerika Serikat. Sebaliknya Brunei masih dipimpin seorang Sultan, mengingatkan pada sistem kesultanan masa lalu yang sekarang juga di Indonesia masih ada. Sementara itu negara-negara Indocina bertahan dengan sistem sosialis yang sentralistis.

Keempat, instabilitas internal dalam setiap unit sistem. Di setiap negara Asia Tenggara senantiasa terdapat akar-akar dan potensi konflik. Aceh dan Irian Jaya telah menjadi sumber konflik di Indonesia. Sebelumnya Timor Timur juga senantiasa bergolak. Namun setelah lepas tahun 1999, Timtim tidak lagi menjadi perhatian internasional. Di Filipina Selatan, sebagian bangsa Moro tidak puas terhadap perdamaian yang sudah ditandatangani Front Pembebasan Nasional Moro pimpinan Nur Misuari. Konflik etnik juga terjadi di Myanmar dan Thailand.

 

Ciri-ciri Struktural

Pertama, konfigurasi (distribusi dan tingkat) kekuasaan. Tidak ada anggota unit (negara) yang dominan di kawasan ini. Bila diperhatian dari dekat tidak ada satu negara yang dominan di Asia Tenggara. Negara paling besar wilayah dan penduduknya, Indonesia, tidak memainkan big brother bagi tetanggnya. Di sini dapat disebut bahwa tidak ada kekuatan hegemoni dari negara kawasan untuk mendominasi percaturan politik regional.

Kedua, integrasi organisasional mulai dari SEATO sampai ASEAN. Tingkat integrasi ini tergantung daripada karakter dan frekuensi interaksi diantar anggota unit subsitem Asia Tenggara. ASEAN telah menjadi faktor pendorong terjadinya integrasi dan harmoni di kawasan Asia Tenggara. Akhir tahun 1990-an sebanyak sepuluh negara Asia Tenggara resmi bergabung kedalam ASEAN.

Ketiga, hubungan antara sistem subordinat dengan dominan. Ciri struktural ini mengkaji bagaimana penetrasi sistem dominan seperti negara besar terhadap Asia Tenggara. Misalnya Amerika Serikat, Uni Soviet, Jepang  dan Cina. Dalam sistem kontemporer sekarang muncul pula aktor baru seperti Australia.

Untuk sementara dapat disimpulkan bahwa anggota sistem Asia Tenggara yang sekarang bergabung dalam ASEAN terdiri dari 10 unit sistem. Anggota sistem ini memiliki teksture yang berbeda-beda baik dari sistem ideologi maupun pemerintahan. Hal ini akan berpengaruh dalam interaksi kawasan dan respons terhadap sistem yang dominan.

Sedangkan ciri struktural kawasan Asia Tenggara  telah menunjukkan peningkatan interaksi dan komunikasi seperti diperlihatkan dalam ASEAN. Bahkan dalam tingkat tertentu ASEAN menjadi forum   untuk berinterraksi dengan sistem  dominan seperti AS, Jepang dan Cina.