Minggu,31 Juli 2011 

 

Sudah sejak awal keterlibatan Eropa di Libya bukanlah sebuah kesengajaan atau rencana yang matang. Eropa menggempur Libya karena saat itu Amerika memberikan dukungan. Washington menggebu-gebu untuk segera menjatuhkan rezim Moammar Khadafy. Namun, setelah tahu tidaklah mudah dan mahal untuk melengserkan Khadafy, pemerintahan Barack Obama mundur teratur.

Sebaliknya Eropa justru telanjur bersemangat dengan ribuan personel militer yang kini dikerahkan ke dekat Libya. Perancis segera mengakui kelompok oposisi Libya sebagai perwakilan sah bangsa Libya. Presiden Nicolas Sarkozy sengaja bertemu dengan Mahmoud Jibril pertengahan Mei lalu. Amerika juga menerima pimpinan pemberontak Libya, tetapi tidak sampai secara resmi mengakui mereka. Inggris baru saja menyatakan menerima Dewan Transisi Libya.

Tidak cukup untuk menekan Libya, Inggris dan Perancis mengerahkan helikopter agar serangan lebih akurat. Serangan dari jarak dekat oleh helikopter Apache Inggris, misalnya, bisa mengisi kekosongan yang disebabkan serangan jet tempur negara anggota NATO. Semuanya dilakukan atas nama zona larangan terbang yang diberlakukan karena Resolusi DK PBB Maret lalu.

Tekanan militer ini dirasa masih kurang menggigit, maka aspek hukum digunakan. Bulan Mei Moammar Khadafy dikenai dakwaan kejahatan melawan kemanusiaan oleh Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Jaksa Luis Moreno- Ocampo telah meminta surat penangkapan bagi Moammar Khadafy.

Instrumen militer ditambah diplomasi dan ekonomi sejauh ini sudah beberapa belum membuahkan hasil. Bahkan, Inggris setelah mengusir Dubes Libya Omar Jelban awal Mei, Rabu (27/7), mengusir staf diplomat Libya yang dipandang sebagai bentuk putus asa menggulingkan Khadafy. Inggris menyediakan diri menjadi tuan rumah bagi Dewan Transisi Libya. Mengapa Eropa gagal menyingkirkan Khadafy sejak Februari 2011, padahal di atas kertas dia disebut lemah dan Timur Tengah dilanda revolusi rakyat?

Salah kalkulasi?

Salah satu aspek yang bisa dikatakan kegagalan Eropa sejauh ini mengusir Libya dari Tripoli adalah perhitungan yang tidak tepat. Konflik internal di Libya bukanlah semata revolusi rakyat prodemokrasi melawan rezim yang menindas. Sejak awal, pertarungan di Libya adalah perebutan kekuasaan antarsuku.

Benghazi di bagian timur yang merupakan basis monarki di Libya sudah lama memang tidak menyukai Khadafy. Di sinilah terdapat basis Dinasti Sanusi di kawasan Cyrenaica. Saat awal pemberontakan Februari, Benghazi sudah mengambil posisi menentang Tripoli dan langsung jatuh ke tangan pendukung monarki Libya yang pernah dijatuhkan Khadafy tahun 1969.

Sementara pendukung Khadafy berada di kawasan barat di Tripolitania di mana suku Qadhaththa serta sebagian suku Badui dan Berber menjadi basis dukungan. Bahkan, Khadafy berhasil membujuk suku Tuareg di kawasan yang Fezzan menjadi salah satu penjaganya. Namun, di atas segalanya, suku Qadhaththa yang mengendalikan berbagai pasukan bentukan Khadafy.

Suku-suku pendukung Khadafy ini dilengkapi dengan tentara asing yang sudah lama dimanjakan Khadafy sebagai pengawal Pan-Afrika. Diperkirakan pasukan asing asal Chad dan Niger ini jumlahnya 500.000 personel, kekuatan yang harus diperhitungkan di tengah sekitar 6,5 juta penduduk Libya.

Jika kekuatan ini belum dipatahkan karena loyalitas didasarkan pada aturan tentara bayaran, sulit terjadi peralihan kekuasaan kecuali Khadafy bisa disingkirkan. Pada bulan Ramadhan akan semakin sulit perubahan terjadi karena saat berpuasa kegiatan tempur mungkin juga berkurang. Inilah beban Eropa dan NATO yang tidak bisa diabaikan sehingga perjalanan konflik Libya bisa sampai akhir tahun ini.

Krisis Eropa

Faktor lainnya mengapa Eropa gagal menggulingkan Khadafy meski sudah bermiliar dollar mesin perang dikerahkan dan bom serta roket dimuntahkan dari pesawat tempur canggih negara-negara Eropa adalah tidak totalitasnya pengerahan kekuatan tersebut.

Perkiraan terakhir yang muncul di Inggris, biaya perang di Libya dari negeri ini saja bisa mencapai 1 miliar poundsterling atau sekitar Rp 13 triliun. Ironisnya, dana ini dikeluarkan, padahal di sana-sini sedang terjadi pemotongan anggaran. Ribuan tentara bahkan terancam akan diberhentikan karena tidak kuat lagi membiayai mereka.

Demikian juga Perancis dan Jerman. Kedua negara yang ikut menjadi pilar NATO lebih memerhatikan kondisi dalam negerinya. Jadi, kalau revolusi di Libya mengandalkan Eropa kemungkinan besar kemajuannya tidak bisa dicapai dengan cepat.

Eropa sedang menghadapi musuh di depan mata, yakni krisis ekonomi yang disebabkan oleh salah urus di Yunani, kemudian merembet ke Irlandia, Portugal, dan bahkan mengancam Italia dan Spanyol.

Bagi sebagian politisi, serangan ke Libya merupakan kemewahan ketika warganya membutuhkan lapangan kerja. Pengerahan mesin perang ke Libya dianggap terlalu jauh dengan realitas di Eropa. Benua ini sedang dilanda krisis berat yang apabila ditunda terus bisa meruntuhkan ekonomi puluhan negara Eropa.

Saat ini musuh nyata adalah tingginya tingkat pengangguran dan lemahnya pertumbuhan. Jutaan orang menganggur atau dikenai PHK sehingga menimbulkan masalah ekonomi dan sosial baru bagi sebagian besar pemerintahan. Jika lokomotif Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Jerman, lemah, praktis Eropa seperti sakit semua. Kalaupun petualangan di Libya ini dipaksakan, hasilnya baru akan terasa mungkin satu tahun ke depan. Eropa seperti dikejar waktu untuk cepat ”membunuh” rezim Moammar Khadafy, tetapi kemampuannya tidak maksimal karena Washington sudah mundur teratur.

(Asep Setiawan, Kontributor KOMPAS di London, Inggris)