Krisis ekonomi di Eropa sebenarnya sangat parah, tetapi karena tidak terjadi krisis politik, maka tidak begitu terlihat dari permukaan. Jika dilihat dari dekat segi angka-angka dasar ekonomi negara-negara besar di Eropa akan terungkap betapa besar lubang yang harus ditutupi melalui dana talangan. Inti dari krisis zona euro ini tak lain adalah ketidakmampuan negara membayar utang-utangnya.

 

Guncangan pertama prahara ekonomi terbongkar ketika pemerintahan baru Yunani tahun 2009 mengetahui bahwa defisit anggarannya bukan 3,7% seperti diketahui, tetapi menyentuh angka 14% terhadap produk domestik bruto (PDB). Dengan kata lain, sistem perbankannya hampir gulung tikar. Nah, dari sinilah diketahui bahwa utang pemerintah sudah menggunung sehingga negara seperti Yunani sudah di ambang kebangkrutan.

 

Kemudian obat baru disuntikkan berupa dana talangan dari IMF dan Eropa sebesar 110 miliar euro pada Mei 2010. Dana untuk membuat Yunani segar kembali sekaligus menghindari Eropa dari krisis parah ini luar biasa besarnya. Namun, setahun setelah itu Yunani tampaknya benar-benar terjerembab, sulit bangun lagi. Gelombang kedua dana talangan disuntikkan lagi, bahkan melibatkan swasta untuk ikut menanggung beban krisis. Demikian juga Irlandia dan Portugal mendapatkan dana talangan untuk membantu agar pulih lagi.

 

Negara-negara krisis ekonomi Eropa ini disingkat PIGS—Portugal, Irlandia, Greek (Yunani) dan Spanyol. Jika Italia kemudian akhirnya dimasukkan ke negara krisis, singkatannya menjadi PIIGS. Mungkin terasa lucu singkatan ini karena akar katanya adalah pig atau babi.

 

Lalu apakah sudah ada hasilnya langkah IMF dan Eropa selama ini? Sulit dikatakan berhasil saat ini karena indikator ekonomi negara yang mengalami krisis jauh dari penyembuhan. Bahkan gejolak zona mata uang Eropa ini sudah terasa di berbagai bursa dunia, sampai ke Asia.

 

Krisis utang

Kita mulai melihat kondisi makro ekonomi PIGS ini dari Yunani, negara yang sudah dua kali mendapat dana talangan dari IMF dan Eropa. Terakhir, dia menerima bantuan diputuskan pada 21-22 Juli dengan nilai 109 miliar euro atau sekitar Rp 1.314 triliun.

 

Situasi negara ini lumayan parah karena muncul perlawanan dari rakyat yang tidak mau menanggung kesalahan para bankir dan eksekutif pemerintahan. Saat ini, rasio utang Yunani terhadap PDB mencapai 143%. Utangnya menumpuk sampai 328 miliar euro. Defisit pada tahun 2010 bahkan mencapai 10,5%.

 

Kondisi ini memprihatinkan. Jika pertumbuhan rata-rata pada tahun 1995-2008 mencapai 3,6 persen, dari tahun 2009 sampai 2015 diramalkan -3%. Angka ini menunjukkan jauhnya penyembuhan Yunani dalam waktu dekat.

Semuanya disebabkan oleh kebijakan pengambilan utang untuk membiayai proyek pemerintah, manipulasi akunting, serta sistem pengawasan pajak yang lemah juga bisa dikatakan akar dari persoalan di Yunani. Selain itu, kekuatan ekonomi Yunani yang tidak kompetitif sangat tergantung dari proyek pemerintah. Dan inilah yang sekarang sedang dirombak oleh pemerintahan George Papandreou. Namun, bukanlah yang ringan karena tekanan waktu ditambah reaksi negatif rakyat menyebabkan kesulitan bagi Pemerintah Yunani sekarang.

 

Selanjutnya Portugal juga menjadi masalah di zona mata uang euro ini. Negeri ini juga tergolong sakit secara ekonomi. Rasio utang terhadap PDB pada 2010 mencapai 93% dengan utang menggunung sampai 195 miliar euro. Defisit anggarannya mencapai -9,1% terhadap PDB.

 

Demikian juga pertumbuhannya jika dipakai standar tahun 1995-2008 rata-rata 2,2 persen, maka 2009-2015 akan mengalami -1,5%. Portugal tidak mengalami beban peminjaman publik dalam sektor properti, tetapi belanja pemerintah yang jor-joran menyebabkan terperosok ke krisis ditambah produktivitas sektor swasta yang rendah.

Selanjutnya Irlandia. Inilah negara kedua yang dilaporkan jatuh ke jurang krisis ekonomi dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 96,2%. Utangnya juga besar, mencapai 148 miliar euro dengan defisit anggaran -32,4% terhadap PDB.

Sampai 2008, Irlandia menikmati pertumbuhan cukup tinggi untuk skala Eropa, yakni 6,5%. Proyeksi setelah itu adalah 0,5%. Salah satu penyebabnya adalah peminjaman secara membabi buta untuk sektor properti yang tak terjamin pertumbuhannya. Dengan belanja besar, pemerintah sekarang semakin terpuruk karena harus membantu perbankan yang terlilit utang.

 

Selain Yunani, Portugal, dan Irlandia, Spanyol juga parah kondisinya. Negara matador ini juga mengalami prahara ekonomi dengan rasio utangnya terhadap PDB pada 2010 sebesar 60,1%. Jumlah total utang Spanyol mencapai 638 miliar euro dengan angka defisit -9,2 %.

 

Pertumbuhan tahun 2009- 2015 diperkirakan tidak mencapai angka minus, tetapi rendah sekali, yakni 0,8%, padahal sebelumnya antara 1995 dan 2008 rata-rata mencapai 3,5%. Akar persoalan di Spanyol mirip dengan Irlandia di mana sektor perumahan yang menggelembung ditambah sektor konstruksi yang buruk menyeret negeri ini ke jurang krisis. Tingkat pengangguran 20% memperparah situasi di Spanyol.

 

Satu lagi yang menjadi sorotan adalah Italia. Saat ini, rasio utang terhadap PDB adalah 119% dengan utang mencapai hampir 1,9 triliun euro ditambah defisit mencapai -4,6% terhadap PDB. Italia sudah dikhawatirkan akan gagal bayar utang juga karena dilanda krisis politik disertai ketidakmampuan pemerintah melakukan reformasi. Jika Yunani yang skalanya kecil bisa diberi talangan, sulit sekali di atas kertas mau membantu Italia dengan dana talangan mengingat utangnya menggunung.

 

Dari kinerja ekonomi seperti itu, beban di Eropa sangat besar harus ditanggung Jerman, Perancis, dan Inggris. Tiga negara ini takkan membiarkan krisis berkelanjutan, tetapi pada saat yang sama mereka juga mengalami tekanan ekonomi dalam negeri yang besar. Inggris, misalnya, sudah jelas terkena dampak krisis Eropa dengan perampingan anggaran dan PHK besar-besaran di sektor publik dan swasta.

 

Dampak krisis

Zona mata uang euro dibentuk tahun 1999 dengan anggota sekarang mencapai 16 negara, yakni Jerman, Perancis, Spanyol, Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, Belgia, Belanda, Lusemburg, Slovenia, Austria, Malta, Finlandia, Siprus, dan Slowakia.

 

Namun, Inggris sejak awal lebih memilih tidak ikut dan tetap dengan mata uang poundsterling, tetapi tetap harus menanggung krisis ini.

 

Negara-negara yang tergabung ke dalam PIIGS ini merupakan 40% dari PDB zona euro. Jika diproyeksikan kepada jumlah penduduk PIIGS ini bisa dikatakan hampir separuh penduduk zona mata uang Eropa. Dari skala yang hampir setengah dari kekuatan zona euro ini, gejolaknya akan dirasakan seluruh Eropa, bahkan sampai ke Asia.

Bursa saham global juga terkena sentimen negatif karena khawatir akan krisis di Eropa, terutama jika Italia dinyatakan gagal bayar utang.

 

Di Eropa sendiri, khususnya di Inggris, emas menjadi sandaran para investor. Mata uang sudah tidak bisa diandalkan lagi. Kini, harga emas harganya lebih dari 1.000 poundsterling atau Rp 13 juta per ounce untuk pertama kalinya.

Gema krisis ini juga sampai ke Asia dan Indonesia. Mungkin, bagi Indonesia tak akan begitu terasa dampak krisis Eropa ini karena, antara lain, hanya satu persen nilai ekspor nasional ke benua ini. Transaksi keuangan juga berkisar pada angka 10% dari PDB nasional. Lalu pemodal Eropa di Indonesia juga angkanya di bawah 2%.

 

Walaupun imbas secara langsung kecil, negara kawasan, apalagi seperti Jepang dan China, akan merasakan krisis di Eropa. Bisa saja mereka juga akan mencari pasar baru di Asia Tenggara yang akan meningkatkan kompetisi di dalam negeri juga dan derasnya impor produk manufaktur. (Asep Setiawan Kontributor Kompas di London)

Kompas, 7/8/2011