Manuver Amerika di Asia Tenggara tampaknya semakin agresif. Kita lihat misalnya bagaimana Amerika mengadakan latihan militer gabungan dengan Filipina meski terkesan rutin. Kemudian perkembangan terakhir, Presiden Barack Obama dalam kunjungan ke Australia mengukuhkan penempatan 2500 Marinir di Darwin.

Kini dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton ke Myanmar maka Washington seolah ingin memberikan pesan kepada kawasan bahwa target AS hadir di Asia Tenggara tidak main-main. Kunjungan Hillary ini pertama kali setelah sekitar 50 tahun terakhir. Menlu AS yang pernah berkunjung ke negeri yang dikuasai militer ini adalah tahun 1955.

Begitu Hillary datang, Amerika langsung memberikan pesan kepada Myanmar agar menjauhkan diri dari Korea Utara. Alasannya, Korut adalah musuh Amerika dan terlibat dalam perluasan senjata nuklir di semenanjung Korea.

Menlu Hillary Clinton mengatakan kira-kira kalau mau bersahabat dengan Amerika maka jauhi Korut. Pesan ini secara tersirat mengkritik dekatnya Myanmar dengan China, sekutu Korea Utara.

Pendekatan keamanan

Amerika Serikat jelas memanfaatkan perkembangan di Maynmar dengan menganggapnya sudah jauh lebih baik. Selama ini Washington paling getol untuk mendesak agar Myanmar dihukum karena masalah demokrasinya yang tidak beres. Pengekangan terhadap Aung San Suu Kyi yang menjadi ikon gerakan pro demokrasi Myanmar dijadikan alasan bagi Amerika untuk menjauhi Myanmar dan mengajak sekutunya mencegah terlalu dekat ke Myanmar.

Kini dengan ruang yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi lebih luas lagi maka Washington bergerak cepat melakukan pendekatan. Kunjungan Hillary merupakan isyarat adanya perubahan besar sikap Amerika terhadap Myanmar. Dari pendekatan sanksi ke pendekatan persuasif.

Di samping itu, pendekatan dengan isu hak asasi manusia dan demokrasi kini seolah digantikan dengan pendekatan keamanan. Amerika lebih mengutamakan keamanan di Asia Tenggara dengan menjalin persahabatan sekaligus membangun kekuatan militer. Beratnya masalah demokrasi dan HAM di Myanmar tidak menyurutkan Hillary untuk segera bertandang ke Myanmar.

Pendekatan keamanan Amerika ini dalam kerangka yang lebih luas di Asia Tenggara dan khususnya keamanan Laut China Selatan. Kestabilan kawasan Asia Tenggara yang kini menikmati booming pertumbuhan ekonomi merupakan pasar yang empuk bagi Amerika.

Pembelian 230 unit pesawat Boeing dari Amerika oleh Lyon menunjukkan prospek stabilitas Indonesia dan Asia Tenggara di tengah krisis Eropa dan Amerika. Total pembelian ini mencapai 21,7 miliar dollar atau sekitar Rp 195 triliun. Betapa pentingnya ekspansi bisnis ini bahkan penandatanganannya disaksikan Presiden Barack Obama. Kini Hillary juga bergerak cepat dengan pertemuan dengan tokoh politik Myanmar termasuk Aun San Suu Kyi. Dengan pasar Myanmar sejumlah 60 juta, Amerika yang tengah dilanda krisis keuangan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Perlahan tapi pasti Washington akan mendorong pengusahanya masuk ke pasar yang dikuasai China ini.

Kehadiran militer

Tekad Amerika untuk mengamankan Asia Tenggara khususnya Laut China Selatan dan juga Freeport di Papua dikukuhkan dengan pengiriman 2500 Marinir untuk ditempatkan di Australia. Meskipun dibantah adanya kaitan dengan peningkatan kehadiran militer AS di Asia dengan ancaman di Laut China Selatan namun reaksi Beijing menunjukkan sebaliknya. Penguatan personil militer ini tetap dipandang China merupakan politik intimidasi Amerika terhadap negeri panda ini.

Kehadiran Amerika di Asia sebenarnya sudah diakui dan tidak dipandang ancaman bagi China. Sebelumnya Amerika hadir dengan 29.086 personil di Korea Selatan dan 35.688 personil di Jepang. Amerika juga mengkonsentrasikan pasukannya sampai 17.000 personil di Pulau Okinawa.

Amerika juga memiliki Commander Logistic Group Western Pacific  di Singapura didukung 85 personil. Demikian juga Amerika sudah lama memilikipangkalan laut dan udara di Guam.

Dengan semakin dekatnya pasukan AS ke Asia Tenggara maka pesan yang hendak disampaikan Washington ke negara Asia termasuk China adalah bahwa Paman Sam ingin wilayah regional ini tidak dibayangi Beijing saja.  Washington ingin memberikan jaminan kepada sekutunya bahwa Amerika masih mampu mengambil sikap tegas dalam tempo singkat. Kehadiran Marinir Amerika dalam jumlah lebih dari dua ribu ini menjadi semacam peringatan dini bagi Cina untuk tidak bermain-main lagi di kawasan Laut China Selatan.

Namun sebagian negara-negara anggota ASEAN, peningkatan kehadiran AS secara militer ini lebih memberikan dampak kurang menguntungkan. Hadirnya kekuatan besar Pasifik seperti Amerika bagaikan pengalihan kekuatan dari Timur Tengah dan Atlantik ke ceruk yang lagi makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada saat negara-negara Asia Tenggara menikmati stabilitas ekonomi ini, Eropa dan Amerika berada pada titik yang meresahkan.

Dan tampaknya Washington secara sengaja ingin menunjukkan diri bahwa ada juga sekutu yang memintanya hadir lebih jelas di Asia seperti Australia. Belum kalau dihitung anggota ASEAN sendiri seperti Filipina sangat menginginkan masuknya Amerika karena khawatir dominasi China di Asia Tenggara akan lebih menakutkan karena Manila memiliki masalah teritorial dengan Beijing di Laut China Selatan.

Persaingan dua kekuatan besar China dan Amerika Serikat tampaknya akan semakin kentara sejalan dengan kebutuhan Amerika terhadap sekutunya di Asia. China yang selama ini nyaman karena memiliki postur kuat menghadapi negara kawasan dalam konflik teritorial kini tidak dapat lagi bebas begitu saja. Paman Sam tampaknya akan mengawal sekutunya di Asia Tenggara yang tentu tidak menyenangkan Beijing. ***

Sumber: asepsetiawan.com