Minggu,
31 Juli 2011

Skandal penyadapan yang diduga menimpa 4.000 selebriti, politisi, korban penculikan, keluarga tentara, sampai warga biasa bukanlah peristiwa media massa saja. Skandal ini telah mengguncang pemerintahan Inggris karena orang-orang yang terlibat ternyata memiliki hubungan dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Skandal itu berpusat pada tabloid mingguan News of the World. Tabloid yang berusia 168 tahun itu akan terbit terakhir kalinya pada Minggu, 10 Juli, ini.

Tabloid dengan tiras hampir 2,7 juta eksemplar yang terbit setiap hari Minggu itu memang banyak memuat skandal. Kali ini, skandalnya justru menyangkut tabloid itu sendiri. Paling tidak, menurut catatan polisi, penyadapan dan peretasan terhadap telepon rumah dan telepon genggam sudah terjadi sejak 2002.

”Spin doctor”

Skandal ini menyeret Perdana Menteri (PM) David Cameron karena pernah mempekerjakan mantan editor tabloid ini, Andy Coulson (43), sebagai direktur komunikasi kantor PM sebelum mundur Januari 2011.

Di titik singgung inilah diduga kasus penyadapan ini akan meledak jadi isu politik.

Di Inggris, seorang direktur komunikasi disebut juga sebagai spin doctor. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas citra perdana menteri di mata publik karena perpolitikan Inggris sangat tergantung pencitraan media.

Sebagai orang yang merekayasa citra perdana menteri, direktur komunikasi memiliki akses dan kekuasaan besar atas kabinet serta berperan menjinakkan media yang beroposisi. Dengan kata lain, ”spin doctor” adalah aktor yang berperan mempertahankan popularitas, yang merupakan andalan pemerintahan sekarang.

Coulson sendiri diperiksa polisi, Jumat (8/7), dengan tuduhan baru, yakni korupsi. Dia dituduh membayar polisi untuk mendapatkan informasi sensitif serta hasil sadapan telepon genggam. Coulson diduga tahu— bahkan terlibat—dalam penyadapan narasumber atau sumber berita yang diangkat sebagai berita utama. Dia juga disebut mengesahkan pembayaran kepada polisi yang jumlah totalnya mencapai 100.000 poundsterling, atau Rp 1,3 miliar.

Semua ini berlangsung antara tahun 2003-2007 saat Coulson menjadi editor tabloid itu. Terungkapnya sebagian skandal penyadapan membuat Coulson mundur pada 2007.

Cameron ”terpaksa” mengakui bahwa dialah yang bertanggung jawab atas perekrutan Coulson. Dalam bahasa diplomatis, Cameron mengatakan, ”Andy Coulson yang bekerja sebagai direktur komunikasi saya selama empat tahun mengundurkan diri dari News of the World karena hal-hal yang terjadi di sekelilingnya.”

”Saya memutuskan untuk memberi kesempatan kedua kepadanya. Tak seorang pun pernah menyatakan kekhawatiran bagaimana dia melaksanakan tugasnya selama bekerja di bawah saya. Tetapi, kesempatan kedua itu tidak berhasil dan dia mengundurkan diri,” ujar Cameron, menunjukkan kedekatannya dengan Coulson.

Tidak hanya itu, Cameron juga diduga dekat dengan orang yang diduga terlibat penyadapan, yakni Rebekah Brooks. Brooks adalah bos News International, perusahaan induk yang membawahi News of the World.

Membendung ancaman

Dengan ancaman mendadak dari skandal tabloid ini, Cameron berusaha mencegah jangan sampai menjadi krisis kepercayaan terhadap dirinya. Dengan kedudukannya yang rentan karena berkoalisi dengan Liberal Demokrat pimpinan Nick Clegg, Pemerintah Inggris memang rapuh. Jika Clegg mencari aman, bisa saja dia mengalihkan koalisinya kepada Partai Buruh.

Tidak mengherankan jika pemimpin Partai Buruh Ed Miliband mendesak Cameron meminta maaf kepada rakyat karena salah perhitungan merekrut Coulson. Kecaman juga muncul karena kedekatan Cameron dengan Coulson dan taipan media Rupert Murdoch. Kehadiran Coulson sebagai kepercayaan Cameron bisa dianggap sebagai kelemahannya dalam pengambilan keputusan.

Miliband melangkah lebih jauh dengan mengatakan, tutupnya News of the World belum cukup. Mereka yang bersalah juga harus diajukan ke pengadilan. Dua orang yang sudah diperiksa adalah Coulson dan wartawan lainnya, Clive Goodman.

Untuk mengantisipasi tekanan itu, langkah yang sudah diambil adalah membentuk komisi penyelidik dipimpin seorang hakim untuk mengusut pembayaran kepada Kepolisian Metro London dan penyadapan telepon. Namun, kubu oposisi meragukan komisi itu, yang mereka sebut lemah dan hanya mengikuti pemerintah yang berkuasa.

Masih ditunggu apakah

skandal penyadapan ini akan benar-benar menjadi krisis Pemerintah Inggris atau hanya terbatas dengan mengorbankan sejumlah orang.

Semuanya tergantung keahlian Cameron yang tidak memiliki lagi ”spin doctor”, orang yang merekayasa citranya agar terpandang baik.

(Asep Setiawan, Kontributor Kompas di London)