KERUGIAN MATERIIL AKIBAT KERUSUHAN DI SELURUH INGGRIS DIPERKIRAKAN LEBIH DARI 320 JUTA DOLLAR AS. DI TOTTENHAM SAJA KERUGIAN DIPERKIRAKAN LEBIH DARI 16 JUTA DOLLAR AS. BELUM DIHITUNG KERUGIAN DI MANCHESTER DAN BIRMINGHAM.

Namun, kerugian paling besar adalah tatanan sosial yang selama ini dijaganya. Inggris dikenal sebagai bangsa yang ramah terhadap para pendatang. Inggris juga menerima kehadiran kaum minoritas dengan kebijakan multikulturalismenya. Namun, dengan kerusuhan empat hari, semua citra Inggris sebagai masyarakat harmonis seolah terhapus.

Pasca-kerusuhan ini, sejumlah kebijakan telah diambil, mulai dari pengawasan London menyertakan 16.000 personelnya, ancaman pengerahan meriam air dalam kerusuhan, pengadilan cepat lebih dari 1.700 perusuh dan penjarah, hingga kebijakan ganti rugi dan biaya merangsang ekonomi yang ditimpa penjarahan.

Namun, Inggris juga menghadapi tantangan untuk mencari faktor-faktor yang menyebabkan penjarahan menjalar dari London sampai ke kota kecil Wolverhampton di Inggris tengah. Lalu muncul pula di kota besar, seperti Birmingham, Manchester, bahkan kota kultural Eropa, Liverpool.

Isu rasialisme. Itulah yang muncul spontan ketika massa, yang tidak puas atas sikap polisi setempat, mengamuk di Tottenham. Pembakaran mobil polisi, bus kota, dan toko di sana menjalar ke berbagai daerah London, terutama kantong-kantong minoritas kulit hitam dan pendatang lain, termasuk Hackney Brixton yang rusuh tahun 1981 akibat penangkapan orang berkulit hitam.

Ketidakpuasan orang kulit hitam atas sikap polisi yang dianggapnya arogan ini meletus menjadi kerusuhan skala besar di Inggris. Isu rasialisme menjadi terpinggirkan karena kemudian muncul penyakit sosial lain yang sudah lama menahun di Inggris. Adalah PM David Cameron sendiri yang membantah bahwa akar kerusuhan terkait rasialisme. Dia lebih menekankan bahwa tindakan penjarahan dan pembakaran adalah kriminalitas murni.

Oleh karena itu, kemudian muncul penjelasan lain bahwa akar kerusuhan Inggris bukan rasialisme, melainkan protes karena kemiskinan dan protes dari orang-orang terpinggirkan. Mantan Wali Kota London Ken Livingstone menyebut kebijakan pengetatan ikat pinggang pemerintahan Konservatif bisa jadi pemicunya.

”Jika kita membuat pemotongan anggaran seperti ini, ada potensi revolusi melawannya,” kata Livingstone. Dan memang sejak awal tahun, berbagai protes muncul akibat pengurangan pegawai negeri, pensiun, dan kenaikan biaya kuliah. Sejak krisis 2008, sebesar 7,7 persen dari sekitar 62 juta penduduk menganggur.

Ratusan ribu orang terlibat demonstrasi menentang kebijakan pemotongan anggaran ini. Bahkan, unjuk rasa mahasiswa menjadi insiden kekerasan ketika markas Partai Konservatif diserbu mereka.

Namun, pandangan bahwa pemotongan anggaran adalah penyebab kerusuhan dibantah Profesor Marian FitzGerald, kriminolog dari Universitas Kent. Dia mengatakan terlalu dini menyebut pemotongan anggaran ini karena kebijakan ini baru bisa dirasakan sepenuhnya tahun depan.

Apabila melihat mayoritas para pelaku penjarahan ini, yaitu remaja dari kalangan miskin dan kaya, perlu ada keterangan tambahan selain rasialisme dan kemiskinan. Harian Guardian menyebutkan bahwa dari data statistik yang sudah diproses di pengadilan, 80 persen pelaku berusia antara 18 dan 24 tahun. Meski mayoritas pelaku berkulit hitam, ada juga tersangka berkulit putih, bahkan dari etnik Asia.

Profesor David Wilson, kriminolog dari Universitas Birmingham, mencoba menafsirkan perilaku penjarahan dan tindak kekerasan terkait dengan teori oportunisme.

”Oportunisme dicampur dengan perasaan bangga ada dalam sebuah geng besar yang menjadikan banyak orang terdorong melakukan sesuatu yang tidak biasanya,” paparnya.

Bisa jadi penafsiran ini benar karena seperti dalam kasus Duta Olimpiade London Chelsea Ives. Dia terbukti melalui kamera pengintai menghantam mobil polisi dan memimpin penyerbuan ke gerai telepon seluler Phones4U dengan melemparkan bata ke arah jendela toko. Hakim dalam pengadilan menyebut dia pernah sesumbar kepada teman-temannya bahwa dia mengalami ”the best day ever”, hari yang amat menyenangkan. Belum lagi ada anak jutawan yang mengangkut barang jarahan di mobil dan model kulit hitam yang juga ikut turun ke jalan.

Namun, faktor lain yang juga dianggap bisa menjadi ”bensin” begitu cepatnya penyebaran kerusuhan dalam empat hari di kota-kota Inggris tak lain adalah adanya orang-orang terpinggirkan. Camila Batmanghelidjh, pendiri lembaga amal Kids Company, menyebutkan bahwa mereka merasa dipermalukan di tengah-tengah golongan masyarakat kaya serba ada. FitzGerald menyebutkan, terpinggirkan secara sosial memang bisa jadi salah satu faktor, tetapi bukan satu-satunya faktor utama.

(Asep Setiawan, Kontributor Kompas di London, Inggris)

Kompas, 21 Agustus 2011