MANILA, KAMIS – Pemerintah Filipina kembali mengirim satu kapal ke perairan tempat insiden di wilayah sengketa di Kepulauan Spratly. Kapal yang dikirim, Kamis (12/4), adalah kapal penjaga pantai kategori keperluan SAR dengan panjang 56 meter.

Kapal SAR itu menggantikan kapal perang Angkatan Laut Filipina, yang akan ditarik setelah dikerahkan di perairan Beting Scarborough, Selasa. Wilayah ini berada sekitar 124 mil laut dari Pulau Luzon, Filipina.

China di sisi lain justru menambah satu kapal lagi untuk dikerahkan ke lokasi serupa, melengkapi dua kapal pemantau yang sudah tiba pada hari Selasa dengan alasan melindungi kapal-kapal nelayan China.

Kapal perang terbesar Filipina, yang sudah ditarik itu, dikerahkan setelah muncul laporan penyusupan wilayah oleh kapal-kapal nelayan China. Tak lama setelah kapal perang Filipina itu tiba, China mengirim dua kapal pemantau.

Mengibarkan bendera

Kedua pemerintahan juga saling memanggil duta besar di masing-masing negara untuk diserahkan nota protes diplomatik terkait insiden itu. Menurut Menteri Luar Negeri Filipina Albert Del Rosario, Kamis (12/4), di Manila, pergantian kapal perang menjadi kapal penjaga pantai itu tidak berarti melemahkan posisi Filipina.

”Kapal (penjaga pantai) itu juga bertugas menjaga kedaulatan wilayah dan juga mengibarkan bendera Filipina di sana,” tegas Rosario.

Kawasan beting tersebut berada di perairan sengketa Laut China Selatan, yang diyakini kaya dengan kandungan sumber daya alam seperti minyak dan gas bumi.

Pada hari yang sama, para diplomat kedua negara berkumpul dan menggelar pertemuan membahas upaya menurunkan ketegangan yang telah telanjur terjadi. Kedua delegasi bertemu di Manila, Filipina, untuk mencari jalan keluar.

Menurut anggota delegasi Filipina, yang meminta namanya dirahasiakan, pihaknya mengajukan sebuah proposal ke China. Pemerintah Filipina enggan merinci isi proposal tersebut. Hanya disebutkan proposal itu bersifat sangat pragmatis untuk mengatasi kebuntuan yang terjadi di Beting Scarborough itu. Kebuntuan terjadi akibat sikap bertahan. (AFP/AP/DWA)

Kompas 13 April 2012