Tag

, , ,

RAJA Arab Saudi mengeluarkan keputusan yang mengejutkan jagat dunia Arab, yaitu melarang eksistensi organisasi Ikhwanul Muslimin dan memasukkannya sebagai organisasi teroris bersama Al Qaeda.

Sikap yang diambil Raja Arab Saudi sebenarnya dalam rangka merespons permintaan Pemerintah Mesir yang terlebih dahulu memutuskan Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai organisasi tero-
ris. Mesir meminta negara-negara Arab lain memutus mata rantai gerakan teroris internasional sebagai komitmen menjaga keamanan dan stabilitas politik regional. Mesir menganggap IM bertanggung jawab atas gagalnya peta jalan revolusi setelah tumbangnya Mubarak.

Arab Saudi bekerja cepat dengan membentuk tim khusus lintas kementerian untuk melakukan kajian mendalam eksistensi gerakan-gerakan keagamaan yang dapat mengancam stabilitas politik. Pada 7 Maret, Raja Arab Saudi resmi menetapkan IM sebagai organisasi teroris. Keputusan ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, Arab Saudi dianggap mengambil sikap tegas dalam rangka membuktikan kepada dunia bahwa negara kaya minyak itu sama sekali tak melindungi teroris yang menggunakan jubah agama, termasuk jaringan Al Qaeda yang selama ini selalu diidentikkan dengan negara itu. IM dan Al Qaeda dianggap musuh serius yang dapat mengganggu stabilitas politik di dalam negeri Arab Saudi.

Di sisi lain, keputusan itu dianggap aneh karena Arab Saudi mengeluarkan kebijakan keras kepada kelompok yang selama ini ditengarai mempunyai hubungan baik dan kedekatan ideologis. Semestinya dalam situasi IM yang semakin terpojok, Arab Saudi dapat menunjukkan simpati.

Sebaliknya, Arab Saudi justru memilih tak bersahabat dengan IM. Setidaknya ada dua alasan yang jadi pertimbangan di balik keputusan keras terhadap IM. Pertama, alasan politis. Selama berkuasa, IM memilih membangun kemitraan dengan Qatar. Imbalannya, Qatar membela mati-matian rezim IM dengan menggelontorkan bantuan dan pinjaman finansial cukup besar.

Kontestasi antara Arab Saudi dan IM yang didukung penuh oleh Qatar dapat dilihat dari dua media terkemuka di Timur Tengah, yaitu stasiun televisi Al Jazeera (Qatar) dan stasiun televisi al-Arabiya (Arab Saudi). Kedua media ini menampilkan dua wajah yang berbeda dalam menyikapi kebijakan politik Muhammad Mursi. Al Jazeera membela IM, sedangkan al-Arabiya mengkritisi kebijakan IM.

Kedua, alasan nonpolitis. Arab Saudi gencar melakukan ”moderasi” dalam paham keagamaan. Melalui kebijakan yang keras terhadap IM, Arab Saudi sebenarnya hendak mengabarkan kepada dunia bahwa organisasi yang selama ini jadi produsen terorisme adalah IM. Bahkan, Al Qaeda yang selama ini selalu dikaitkan dengan Arab Saudi hakikatnya merupakan metamorfosis dari IM. Di harian al-Sharq al-Awsath disebutkan, mendiang Osama bin Laden tercatat pernah menjadi aktivis IM cabang Arab Saudi.

Pasang surut

Meski demikian, sebenarnya Arab Saudi dan IM tak bisa memupus hubungan baik di antara keduanya. Pendiri IM ditengarai mengambil inspirasi dari salafisme dan Raja Abdul Aziz bin Saud. Bahkan, Ahmad Saati, ayah Hasan al-Banna, salah satu tokoh salafi yang sangat populer pada masanya. Hasan al-Banna mempelajari Salafisme dari Muhibbuddin Khatib dan Rasyid Ridha. Sejak 1928, Hasan al-Banna membangun kemitraan dengan beberapa tokoh penting di Arab Saudi, hingga akhirnya tahun 1936 ia melaksanakan ibadah haji. Inilah awal perjumpaan al-Banna dengan Raja Abdul Aziz. Tidak ada sesuatu yang istimewa dalam pertemuan pertama karena Raja Abdul Aziz secara diplomatis menolak permintaan al-Banna untuk membuka cabang IM di Arab Saudi.

Namun, upaya IM membangun kemitraan dan mengambil hati Arab Saudi tak pernah pupus. Tahun 1945, saat Raja Abdul Aziz melakukan kunjungan ke Mesir, terlihat para aktivis IM menyambutnya dengan gegap gempita. IM menggunakan isu Palestina sebagai pintu masuk membangun aliansi dengan Arab Saudi. Hubungan baik antara IM dan Arab Saudi mulai terbangun pasca Hasan al-Banna. Pada era kepemimpinan Hasan Hudhaibi, Arab Saudi menjadi mediator ketegangan antara IM dan Gamal Abdul Nasser. Bahkan, pada tahun 1966, Raja Arab Saudi dan para ulama Arab Saudi mengirimkan surat kepada Nasser agar mengurungkan niat untuk menghukum mati Sayyed Qutb.

Hudhaibi berhasil membuka cabang IM di Arab Saudi dan beberapa negara Teluk lain. Hubungan baik antara IM dan Arab Saudi ditengarai karena keduanya menentang ideologi dan kebijakan politik Nasser. Bahkan, saat rezim Nasser tidak bersahabat dengan IM, banyak di antara aktivisnya yang eksodus ke Arab Saudi.

Hubungan mulai memburuk sejak 1990-an, bersamaan dengan menguatnya ”revivalisme Islam” melalui gerakan-gerakan politik keagamaan. Mereka menabuh genderang perlawanan terhadap rezim yang berkuasa di Timur Tengah. Di Arab Saudi, IM dan Hizbut Tahrir mendeklarasikan ”gerakan reformasi”. Bersamaan dengan itu, muncul gerakan teroris internasional yang menebarkan bom bunuh diri di berbagai belahan dunia Islam, termasuk di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pada 1995.

Maka dari itu, sikap keras Arab Saudi terhadap IM mempunyai momentumnya. Di saat IM mulai tumbuh subur di negara-negara Teluk, Arab Saudi mengambil inisiatif untuk meredam proliferasi IM. Harapannya sikap Arab Saudi juga diikuti beberapa negara Teluk lain. Arab Saudi tak mau menerima dampak lebih buruk di masa mendatang, khususnya bagi stabilitas rezim yang berkuasa saat ini. Apalagi, IM mulai menyusup ke dalam birokrasi, mempunyai keahlian dalam pergerakan bawah tanah, di samping sumber dana besar.

Saat ini, di negara-negara Teluk hanya tersisa Qatar sebagai tempat nyaman bagi IM. Di negara-negara Teluk lain, IM mulai dipantau dengan saksama. Tak tertutup kemungkinan mereka akan mengambil sikap seperti Mesir dan Arab Saudi. Jika itu yang terjadi, hal tersebut akan menjadi mimpi buruk bagi masa depan IM.

Maka dari itu, sebelum terlambat, IM harus melakukan reformasi internal. Mereka sejatinya menegaskan kembali komitmennya untuk meninggalkan kekerasan, memperbarui ideologi, dan mengukuhkan diri sebagai gerakan sosial-keagamaan yang bergerak di bidang kedermawanan dan pelayanan publik. Mereka juga bisa memilih menjadi partai politik yang tunduk pada aturan main di setiap negara. Langkah-langkah ini penting disegerakan karena momentum saat ini tidak berpihak kepada IM.         

Zuhairi Misrawi
Analis Pemikiran dan Politik Timur Tengah The Middle East Institute
Kompas, 5 Mei