Tag

, , , ,

Oleh Asep Setiawan

 
Pendahuluan

Negara Islam di Irak dan Sham yang disebut ISIS merupakan kelompok militan Islam yang saat ini menguasai sebagian dari Irak dan Suriah. Kota-kota penting yang dikuasai ISIS ini antara lain kota kedua terbesar di Irak, Mosul kemudian juga kota lainnya yang merupakan basis pendukung Saddam Hussein, Tikrit dan sebagian dari Anbar. Bahkan baru-baru ini, ISIS telah menguasai Ramadi yang jaraknya sekitar 100 kilometer dari Baghdad, ibu kota Irak. Selain memiliki kekuasaan di Irak, ISIS juga memiliki wilayah di Suriah terutama di wilayah timur negeri ini.

Bulan Juni 2014 ISIS mengatakan dirinya sebagai Kekhalifahan Islam dan menyerukan umat Islam dunia untuk menyatakan kesetiaannya kepada mereka. Dengan deklarasi seperti ini ISIS melakukan kampanye besar-besaran terutama melalui media sosial dan internet. Kampanye inilah yang membuat dunia gempar termasuk Indonesia. Dengan kampanye agresif ini mereka melakukan perekrutan terbuka kepada calon-calon pendukungnya dari seluruh dunia termasuk dari Barat.

Tulisan ini akan membahas, pertama, bagaimana akar ideologi ISIS ini dengan melacak asal-usul ajaran yang didengungkannya. Kedua, kehadiran ideologi ISIS ini memberikan dampak kepada Indonesia terbukti dengan adanya masyarakat yang pindah ke wilayah yang dikuasai ISIS untuk membela mereka.

Akar ideologi ISIS

ISIS sendiri terbentuk tahun 2003 dengan akar yang bisa dilacak ke kelompok Al Qaeda di Irak (AQI).  Pecahan Al Qaeda ini mengincar tidak hanya kelompok Syiah di Irak tetapi juga suku-suku Suni yang bertentangan dengan mereka.

Namun munculnya ISIS ke permukaan ini sendiri berakar dari kekacauan yang terjadi di Suriah dan Irak. Di Irak, pemerintahan PM Nouri Al Maliki yang pro Syiah menyebabkan kaum Sunni menjadi terkucil. Persoalan internal yang disebabkan sikap Nouri Al Maliki inilah yang menyebabkan suku-suku yang menganut Sunni menjadi terdesak, termasuk di dalamnya para perwira militer loyalis Saddam.

Dengan latar belakang kekacauan politik yang berkelanjutan di Suriah dan Irak inilah, ISIS seperti alternatif perlindungan bagi warga yang terjepit antara tekanan Al Maliki dengan tekanan kelompok militan.

Secara singkat dapat dikatakan, ideologi dari ISIS adalah Salafi Jihadi (Crethi Plethi,2015). Ideologi ini sama dengan Al Qaeda dan Taliban. Bedanya dalam pendekatanya mengenai penegakan Khalifah Islam. Kelompok Jabhat Al Nusra, kelompok Al Qaeda di dalam perang sipil Suriah, yakin bahwa rencana jangka panjangnya menegakkan Kekhalifahan. Namun mereka berpendapat waktunya belum tepat.

Proses lahirnya ISIS sampai mendeklarasikan sebagai Kekhalifahan tidak lepas dari pemikiran yang berkembang di Timur Tengah yang berakar dari pemikiran Wahabi. Paham  Wahabi  dibangun  oleh  Muhammad  bin  Abdul  Wahab  1115-1206 H atau 1703-1792M,  seorang ulama asal  Uyainah, Najd, di belahan timur Jazirah  Arab.  Ayahnya,  ‘Abdul  Wahab  adalah  hakim  (qadi)  pengikut  madzhab Ahmad  ibn  Hanbal.  Karena  itu  istilah  Salafisme  atau  paham  Salafi  sering  diartikan secara bertukar ganti dengan “wahabi” (Fahrur Razi)

Selain mengikuti Muhammad bin Abdul Wahhab, mereka juga mengikuti Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ketujuh hijriyah. Ulama yang lebih dahulu dari Abd Wahhab dalam mendakwahkan puritanisme. Karena itu para pegiat dakwah Salafi  pada  umumnya  menaruh hormat  yang  tinggi  kepada  Ibnu  Taimiyyah.

Sekalipun  beberapa  ulama  Mesir  pada  abad  ke-19  yaitu  Muhammad  Abduh, Jamaluddin  al-Afghani,  dan  Rasyid Ridha  dikenal  sebagai  pegiat  puritanisme, tetapi  sebagian  kaum  Salafi  menolak  pemikiran  mereka,  karena  mereka menerima, bahkan menganjurkan umat Islam melakukan rasionalisasi pemikiran dan menerima “modernism”.

Menurut Fahrur Razi, Wahabi berganti baju menjadi Salafi atau terkadang  Ahl al-Sunnah  yang seringnya tanpa diikuti dengan kata wa al-Jama’ah karena mareka risih disebut Wahabi. Selain itu, mereka juga mengalami banyak kegagalan dalam dakwahnya karena penisbatan tersebut.

Roel Meijer dalam Global Salafism: Islam’s New Religious Movement dikutip Fahrur Razi menyebutkan ada empat doktrin Salafi. Pertama,  program  Wahabisme  untuk  kembali  kepada  sumber-sumber  pokok Islam (al-Qur’an dan Hadis), sedang secara faktual mengikuti  madzhab Hanbali.

Kedua,  regulasi  hubungan  antara  orang  mukmin  dan  bukan  mukmin. Kontribusi  Wahabisme  terhadap  Salafisme  adalah  perlakuan  keras  terhadap orang asing dan  sekte-sekte yang non-Wahabi. Di sinilah muncul konsep ajaran al-Wala’ wa al-Bara’  (kesetiaan dan penolakan) atau antara orang mukmin dan bukan  mukmin.  Wilayah  non  Wahabi  disebut  sebagai  negara  orang-orang musyrik  (bilad al-musyrikin). Hal ini dapat digunakan untuk memahami perang dengan kerajaan Ottoman dan invasi ikhwan (pasukan khusus Wahabi) ke Iraq.

Ketiga,  tema  Wahabi  yang  mempengaruhi  Salafisme  dan  telah menjadikannya  radikal  adalah  penolakannya  terhadap  syi’ism  sebagai  bid’ah dengan dua alasan:

(1)  orang-orang Syi’ah  mengkultuskan imam dan,

(2) orang-orang  Syi’ah  menolak  tiga  Khulafa’  Rashidun  (632-661)  dan  karenanya  orang-orang syi’ah menolak sahabat Nabi dan otentisitas Hadis yang merupakan dasar doktrin Wahabi.

Keempat,  ambiguitas  Wahabisme  yang  diwariskan  kepada  Salafisme modern adalah pada praktik hisab,  yakni  al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an almunkar.  Meskipun  praktik  ini  berlangsung  lama  dan  telah  eksis  sejak  masa dinasti  Abbasiyah  (750-1258M)  dan  dinyatakan  oleh  Ibnu  Taimiyyah  sebagai bentuk  puncak  jihad,  hal  tersebut  dipertahankan  oleh  Wahabisme  untuk menegaskan sikap moral kerasnya terhadap masyarakat dan meluruskan deviasi seperti  merokok,  memuja  tempat  keramat,  dan  bentuk-bentuk  lain  yang tergolong perbuatan syirik.

Menurut Crethi Plethi (2015) gerakan Salafi ini memfokuskan kepada studi keagamaan dan berdakwah sebagai cara untuk menciptakan masyarakat dan negara Islam. Namun dalam gerakan Salafi ini muncul faksi ekstrem yang disebut Salafiyya Jihadiyya (Jihad Salafi). Pandangan ideologis yang mempengaruhi perkembangan Salafi muncul dari Sayyid Qutb (1906-1966) yang menginspirasi perlawanan dengan jalan keras.

Puncak dari karakter ideologi ISIS ini mengumumkan terbentuknya Khilafah Islam 25 Juni 2014 sebagai perlawanan terhadap dunia yang tidak mendasarkan kehidupannya pada ajaran Islam. Ideologi ISIS ini juga berangkat dari paham Sunni yang mendasarkan kepada kehidupan kaum Salafi. Oleh karena itulah kebangkitan ISIS menimbulkan persoalan baru relasi mereka dengan kelompok Syiah. Dari sikap-sikap ISIS terlihat mereka sangat kejam dalam memperlakukan kaum Syiah dan kelompok Sunni yang tidak sejalan. Selain itu pendukung ISIS melakukan aksi merusak peninggalan peradaban lama yang dianggap musyrik sebagai refleksi paham yang berakar dari Wahabisme.

Implikasi bagi Indonesia

Kehadiran ISIS ini telah memberikan dampak kepada Indonesia berupa dukungan sejumlah kalangan untuk membela dan mempertahankan wilayah yang dikuasai ISIS. Bentuk pembelaan ini muncul dari keberangkatan sejumlah anggota masyarakat Indonesia yang merasa bahwa ideology ISIS sesuai dengan Aqidah Islam dan perjuangan Islam. Formulasi ideology ISIS ini telah membawa sejumlah orang untuk mempercayainya dan bahkan menyebarkannya di Indonesia.

Adanya para pendukung di Indonesia ini antara lain karena gerakan-gerakan Islam transnasional sudah berada di Indonesia sejak lama. Fahrur Razi mencoba melukiskan gerakan ini termasuk yuang terkait dengan gerakan Salafi Jihadi seperti gambar berikut.

TRANSNASIONAL GLOBAL

 

Gambaran ini menunjukkan bahwa penyebaran ideology yang berbasis Wahabi sudah berwujud dalam bentuk pesantren dan ormas Islam baik yang tampak atau tidak tampak.  Dengan adanya persemaian ideology ini jelas Indonesia mendapat tantangan tidak ringan. Islam moderat yang dominan di Indonesia dengan kehadiran Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah mendapatkan tantangan dari gerakan ISIS ini.

ISIS

Dalam gambar yang dikutip oleh gatestoneinstitute.org tampak bahwa sebelum ada larangan keras dari pemerintah Indonesia untuk menyebarkan paham ISIS, kelompok ini telah melakukan kampanye secara terbuka. Gambar yang terekam di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat menunjukkan bahwa dukungan sudah muncul di Indonesia terhadap kehadiran ISIS di Timur Tengah. Kampanye terbuka ini juga menunjukkan bahwa ideology ISIS menjadi daya tarik sebagian anggota masyarakat di Indonesia. Pernyataan yang diajukan dalam spanduk berbicara banyak mengenai dukungan terhadap ISIS.

Setelah ajakan ISIS semakin marak bahkan dalam video yang dipasangi You Tube, barulaha pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono bersikap keras dengan melarang kehadiran ISIS dan para pendukungnya. Sejak sikap yang tegas inilah, seluruh elemen pemerintahan dan badan keamanan Indonesia melakukan tindakan untuk menutup dan menahan sejumlah orang yang diduga membawa atribut ISIS dan menyebarkan paham ini.

Laporan dari gatestoneinstitute.org (22 Juni 2015) menyebutkan  ISIS telah merekrut setidaknya 500 orang Indonesia sampai akhir tahun 2014.

Namun menurut laporan USAID berjudul INDONESIAN AND MALAYSIAN SUPPORT FOR THE ISLAMIC STATE (2015). Jumlah persis orang Indonesia yang bergabung kepada ISIS tidak diketahui. Disebutkan orang Indonesia dan Malaysia berkisar dalam jumlah 300 sampai 450 orang datang ke Irak dan Suriah. Diduga separuh dari jumlah itu bergabung dengan ISIS.

USAID menyebutkan, data yang paling bisa dipercaya berasal dari Detasemen 88 yang bulan Juni 2015 menyebutkan telah merangkum adanya 202 kasus orang Indonesia di Timur Tengah. The Institute of Policy and Conflict (IPAC) di Jakarta yakin bahwa terdapat 250 sampai 300 jihadis yang bertempur dengan ISIS.

Dengan berkembangnya ISIS ke seluruh dunia, Indonesia tidak terhindarkan akan pengaruh global ISIS. Pengaruh itu mulai dari mengikuti ideologinya sampai dengan prakteknya secara sistematis maupun sporadis. Ada upaya dari ISIS di Timur Tengah untuk menarik para pendukungnya di Indonesia dan melakukan agenda yang mereka inginkan. Disinilah tampak bahwa pemerintah Indonesia tidak bisa menganggap ringan ancaman ideologi ISIS. Selain pengikuti ideologi ini ada di Indonesia tetapi juga tersebar di Asia Tenggara seperti dalam kasus penculikan warga Indonesia oleh Abu Sayyaf di Filipina menunjukkan taring ISIS sampai ke kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia.***

 

Referensi

Bunzel, Cole. 2015.From Paper State to Caliphate: The Ideologi of the Islamic State

Friedland, Elliot.2015.The Islamic State. 2015. Clarion Project.

Razi, Fahrur. Global Salafi Jihadi Tantangan Masa Depan Islam Indonesia

Plethi, Crethi.2015. ISIS’s Ideologi and Vision, and their Implementation.

Philips, George, ISIS in Indonesia: 500 Recurits and Counting, dalam http://www.gatestoneinstitute.org/6002/isis-indonesia diakses 25 November 2015, pukul 17.15 WIB.