Persaingan partai baru di Mesir

Pemilu Mesir putaran pertama telah menghasilkan konfigurasi politik baru dimana partai yang lahir setelah Husni Mubarak jatuh memenangkan perolehan suara di parlemen. Dari 168 kursi yang diperebutkan, partai-partai Islam meraih 112 kursi atau setara dengan 66,6 persen. Dari 112 kursi ini, partai baru Partai Kebebasan dan Keadilan yang dibentuk Ikhwanul Muslimin menduduki 78 kursi sedangkan Koalisi Islam Salafi yang didukung kaum salafi yang merupakan saingan Ikhwan merebut 34 kursi.

Masih ada dua putaran dalam pemilu di Mesir. Putaran kedua dan ketiga akan berlangsung di kawasan yang secara tradisional dikuasai kubu Islam. Oleh karena itu kursi di parlemen baru Mesir masih akan bertambah untuk kelompok Islamis ini.

Dua partai Islami inilah yang akan banyak mewarnai politik Mesir nanti. Pertanyaan yang muncul apakah dua kelompok bersaing ini bisa bersatu melawan militer dan partai-partai sekuler. Atau malah sebaliknya keduanya akan saling bersaing dan saling mengalahkan.

Di atas kertas kekuatan IM lumayan besar di Mesir. Dengan tradisi kegiatan sosial dan keagamaan IM yang menyokong Partai Kebebasan dan Keadilan memiliki pengaruh luar biasa. Selain itu sikap moderat terhadap politik dan agama menyebabkan partai ini memiliki basis kuat di dalam masyarakat.

Namun kebangkitan Salafi sejak 1977 yang muncul sebagai reaksi atas dominasi IM semakin meluas kekuatan dan pengaruhnya. Kalau IM bersikap moderat, salafi mengambil jalan keras dan ekstrem. Salafi berkembang cepat di Mesir dan belakangan menimbulkan masalah dalam interaksi sosial dan hubungan antar umat beragama.

Pemilu yang berlangsung sejak November 2011 akan memilih 508 anggota majelis rendah. Selain itu para pemilih juga akan menentukan 27 anggota Majelis Syura atau Majelis Tinggi sampai Maret 2012. Dan pada pertengahan tahun 2012, rakyat Mesir akan memilih presiden secara langsung.

Referensi
Tantangan Salafi di Mesir Pasca Mub arak, Koran Tempo, 17 Januari 2012
Egypt holds second round of parliamentary election, bbc.co.uk

Posted in Arsip, Timur Tengah | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Asia di Tahun Naga Air

Tahun ini dalam sistem penaggalan China disebut Tahun Naga Air sebuah isyarat menuju transisi, ketidakpastian dan perubahan.

Demikian juga ekonomi Asia. Menurut Rajiv Biswas dalam BBC News, ekonomi Asia Pasifik menghadapi tahun ketidakpastian.

Tahun 2012 in juga dipenuhi ketidakpastian politik dengan pemilihan presiden Amerika dan Perancis serta perubahan kepemimpinan di China.

Kongres Partai Komunis China akan berlangsung menjelang akhir tahun ini akan memilih Komite Sentral dan anggota Komite Tetap Politbiro. Dengan Kongres ini Presiden Hu Jintao dan PM Wen Jiabao akan mengundurkan diri dari Komtie Tetap. Ini akan muncul generasi baru pemimpin China yang akan ditetapkan Maret 2013.

Perubahan di bidang politik seperti di China dan AS ini tidak diikuti ketidakpastian ekonomi. Menurut perkiraan, pertumbuhan ekonomi Asia Pasifik masih akan tetap tercepat di dunia tahun ini. Bahkan pertumbuhan tahun ini akan lebih tinggi dengan perkiraan 5,3% padahal tahun 2011 diramalkan hanya mencapai 4,5%.

Situasi di Asia ini akan kondusif karena pemulihan ekonomi Amerika akan berlanjut tahun 2012. Bahkan China juga akan tetap tumbuh dalam kisaran 7,8% sehingga menepiskan kekhawatiran akan kondisi ekonomi Asia.

Jepang juga diperkirakan akan menggeliat kembali karena normalisasi produksi industri dan stimulus fiskal pasca bencana gempa dan tsunami. Industri Jepang diperkirakan tumbuh 9,5% setelah tahun 2011 merosot sampai 2,8%.

Dengan situasi seperti ini Tahun Naga Air mungkin akan lebih menarik karena gairah ekonomi Asia masih tinggi dibandingkan dengan Eropa. Namun demikian tetap harus diwaspadai dampak melemahnya Eropa yang akan menyebabkan arus ekspor ke Asia terutama dari China yang akan meningkatkan kompetisi di kawasan. *** (Asep Setiawan)

Posted in Arsip, Asia Tenggara, Asia Timur | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Manuver AS di Asia Tenggara

Manuver Amerika di Asia Tenggara tampaknya semakin agresif. Kita lihat misalnya bagaimana Amerika mengadakan latihan militer gabungan dengan Filipina meski terkesan rutin. Kemudian perkembangan terakhir, Presiden Barack Obama dalam kunjungan ke Australia mengukuhkan penempatan 2500 Marinir di Darwin.

Kini dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton ke Myanmar maka Washington seolah ingin memberikan pesan kepada kawasan bahwa target AS hadir di Asia Tenggara tidak main-main. Kunjungan Hillary ini pertama kali setelah sekitar 50 tahun terakhir. Menlu AS yang pernah berkunjung ke negeri yang dikuasai militer ini adalah tahun 1955.

Begitu Hillary datang, Amerika langsung memberikan pesan kepada Myanmar agar menjauhkan diri dari Korea Utara. Alasannya, Korut adalah musuh Amerika dan terlibat dalam perluasan senjata nuklir di semenanjung Korea.

Menlu Hillary Clinton mengatakan kira-kira kalau mau bersahabat dengan Amerika maka jauhi Korut. Pesan ini secara tersirat mengkritik dekatnya Myanmar dengan China, sekutu Korea Utara.

Pendekatan keamanan

Amerika Serikat jelas memanfaatkan perkembangan di Maynmar dengan menganggapnya sudah jauh lebih baik. Selama ini Washington paling getol untuk mendesak agar Myanmar dihukum karena masalah demokrasinya yang tidak beres. Pengekangan terhadap Aung San Suu Kyi yang menjadi ikon gerakan pro demokrasi Myanmar dijadikan alasan bagi Amerika untuk menjauhi Myanmar dan mengajak sekutunya mencegah terlalu dekat ke Myanmar.

Kini dengan ruang yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi lebih luas lagi maka Washington bergerak cepat melakukan pendekatan. Kunjungan Hillary merupakan isyarat adanya perubahan besar sikap Amerika terhadap Myanmar. Dari pendekatan sanksi ke pendekatan persuasif.

Di samping itu, pendekatan dengan isu hak asasi manusia dan demokrasi kini seolah digantikan dengan pendekatan keamanan. Amerika lebih mengutamakan keamanan di Asia Tenggara dengan menjalin persahabatan sekaligus membangun kekuatan militer. Beratnya masalah demokrasi dan HAM di Myanmar tidak menyurutkan Hillary untuk segera bertandang ke Myanmar.

Pendekatan keamanan Amerika ini dalam kerangka yang lebih luas di Asia Tenggara dan khususnya keamanan Laut China Selatan. Kestabilan kawasan Asia Tenggara yang kini menikmati booming pertumbuhan ekonomi merupakan pasar yang empuk bagi Amerika.

Pembelian 230 unit pesawat Boeing dari Amerika oleh Lyon menunjukkan prospek stabilitas Indonesia dan Asia Tenggara di tengah krisis Eropa dan Amerika. Total pembelian ini mencapai 21,7 miliar dollar atau sekitar Rp 195 triliun. Betapa pentingnya ekspansi bisnis ini bahkan penandatanganannya disaksikan Presiden Barack Obama. Kini Hillary juga bergerak cepat dengan pertemuan dengan tokoh politik Myanmar termasuk Aun San Suu Kyi. Dengan pasar Myanmar yang berpenduduk sekitar 60 juta Amerika yang tengah dilanda krisis keuangan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Perlahan tapi pasti Washington akan mendorong pengusahanya masuk ke pasar yang dikuasai China ini.

Kehadiran militer
Tekad Amerika untuk mengamankan Asia Tenggara khususnya Laut China Selatan dan juga Freeport di Papua dikukuhkan dengan pengiriman 2500 Marinir untuk ditempatkan di Australia. Meskipun dibantah adanya kaitan dengan peningkatan kehadiran militer AS di Asia dengan ancaman di Laut China Selatan namun reaksi Beijing menunjukkan sebaliknya. Penguatan personil militer ini tetap dipandang China merupakan politik intimidasi Amerika terhadap negeri panda ini.

Kehadiran Amerika di Asia sebenarnya sudah diakui dan tidak dipandang ancaman bagi China. Sebelumnya Amerika hadir dengan 29.086 personil di Korea Selatan dan 35.688 personil di Jepang. Amerika juga mengkonsentrasikan pasukannya sampai 17.000 personil di Pulau Okinawa.
Amerika juga memiliki Commander Logistic Group Western Pacific di Singapura didukung 85 personil. Demikian juga Amerika sudah lama memilikipangkalan laut dan udara di Guam.
Dengan semakin dekatnya pasukan AS ke Asia Tenggara maka pesan yang hendak disampaikan Washington ke negara Asia termasuk China adalah bahwa Paman Sam ingin wilayah regional ini tidak dibayangi Beijing saja. Washington ingin memberikan jaminan kepada sekutunya bahwa Amerika masih mampu mengambil sikap tegas dalam tempo singkat. Kehadiran Marinir Amerika dalam jumlah lebih dari dua ribu ini menjadi semacam peringatan dini bagi Cina untuk tidak bermain-main lagi di kawasan Laut China Selatan.
Namun sebagian negara-negara anggota ASEAN, peningkatan kehadiran AS secara militer ini lebih memberikan dampak kurang menguntungkan. Hadirnya kekuatan besar Pasifik seperti Amerika bagaikan pengalihan kekuatan dari Timur Tengah dan Atlantik ke ceruk yang lagi makmur dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pada saat negara-negara Asia Tenggara menikmati stabilitas ekonomi ini, Eropa dan Amerika berada pada titik yang meresahkan.
Dan tampaknya Washington secara sengaja ingin menunjukkan diri bahwa ada juga sekutu yang memintanya hadir lebih jelas di Asia seperti Australia. Belum kalau dihitung anggota ASEAN sendiri seperti Filipina sangat menginginkan masuknya Amerika karena khawatir dominasi China di Asia Tenggara akan lebih menakutkan karena Manila memiliki masalah teritorial dengan Beijing di Laut China Selatan.
Persaingan dua kekuatan besar China dan Amerika Serikat tampaknya akan semakin kentara sejalan dengan kebutuhan Amerika terhadap sekutunya di Asia. China yang selama ini nyaman karena memiliki postur kuat menghadapi negara kawasan dalam konflik teritorial kini tidak dapat lagi bebas begitu saja. Paman Sam tampaknya akan mengawal sekutunya di Asia Tenggara yang tentu tidak menyenangkan Beijing. *** (Asep Setiawan)

Posted in Arsip, Asia Tenggara | Tagged , , , , | Tinggalkan komentar

Kehadiran militer AS pantau Laut China Selatan

Sebelum bertolak ke Indonesia, Presiden AS Barack Obama hari Kamis (17/11) di Canberra, Australia, mengatakan, militer AS ingin memperluas peran di Asia Pasifik. Fokus kegiatan militer akan dialihkan dari Irak dan Afganistan ke Asia, dan lebih khusus ke Asia Tenggara. (Kompas 18/11).

”Saat kita mengakhiri perang, saya telah mengarahkan tim keamanan nasional agar keberadaan dan misi militer di Asia Pasifik dijadikan sebagai prioritas,” kata Obama saat menjabarkan visi AS bagi kawasan Asia Pasifik di depan parlemen Australia.

Kemudian Obama menjelaskan, ”Meski ada pemotongan anggaran pertahanan, AS tidak akan, saya ulangi, tidak akan mengorbankan Asia Pasifik,” kata Obama.

Dalam bagian lain untuk menepis kekhawatiran Beijing Obama mengatakan,”Kami akan mencari peluang untuk bekerja sama dengan Beijing, termasuk komunikasi yang lebih baik di antara militer untuk mempromosikan pemahaman dan menghindari salah perhitungan.”

Komitmen Obama ini kemudian diwujudkan dengan penempatan 2.500 Marinirnya di Darwin, Australia mulai 2012. Kehadiran personil militer ini akan didukung oleh kaal-kapal perang dan berbagai pesawat tempur. Australia tentu saja sebagai sekutu Amerika akan mempersilahkan Washington menjadikan negaranya pijakan ke Asia Tenggara.

Karena Laut China Selatan

Kehadiran Amerika ini bersamaan dengan meningkatknya perhatian terhadap konflik teritorial yang sudah menahun. Konflik paling tajam belakangan ini terjadi di Laut China Selatan dimana negara-negara yang terlibat sengketa beberapa kali terseret dalam bentrokan bersenjata atau saling ancam.

Negara-negara Asia Tenggara yang terlibat batas laut di Laut China Selatan ini adalah Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina dan Thailand. Dan yang paling tajam adalah pertikaian antara Filipina dengan China dan Vietnam dengan China.

Amerika Serikat menilai setelah kemakmuran di Asia mulai meluas kini seperti terdapat kecenderungan untuk mencari dan mempertahankan sumber daya alam yang dimiliki masing-masing. China jelas haus akan energi karena pertumbuhannya setiap tahun menyebabkan ekonominya kepanasan. Pertumbuhan ini membutuhkan dukungan sumber daya alam seperti minyak dan gas. Laut China Selatan ternyata merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam itu.

Selama ini negeri yang konflik dengan China berusaha tidak membuka front terbuka. Mereka malah seperti yang diusulkan Filipina dalam KTT ASEAN mengajak untuk mendukung kehadiran Amerika di Asia Tenggara. Ajakan Filipina ini tidak lain untuk menyelamatkan teritorialnya di Kepulauan Spratly yang sering diklaim China. Dengan kata lain Manila mengundang Big Brother untuk mengimbangi China yang sudah menunjukkan ototnya dengan pemilikan berbagai persenjataan canggih termasuk kapal induk.

Sikap Filipina ini memang yang dekat ke Amerika memberikan nuansa sendiri terhadap percaturan kekuatan di Laut China Selatan. Hikmahanto Juwana dari Universitas Indonesia dalam artikelnya Ketegangan di Laut China Selatan (Kompas, 18/11) menyebutkan bahwa Menlu AS Hillary Clinton telah menunjukkan dukungan kepada posisi Manila. Kedua negara telah menandatangani deklarasi “pendekatan berdasarkan aturan untuk penyelesaian klaim tumpang tindih di wilayah laut.

Kesepakatan ini secara jelas menunjukkan agar konflik teritorial diselesaikan tanpa melalui jalur kekerasan alias jalur diplomasi, sesuatu yang mustahil terselesaikan. Kekuatan militer biasanya akan menjadi penentu dari pemilikan wilayah karena China memiliki postur lebih besar daripada negara tetangganya. Oleh sebab itulah Beijing merasa lebih leluasa mendikte negara tetangganya yang kecil sehingga kehadiran Amerika akan mengganggu interaksinya dengan negara yang terlibat konflik wilayah laut.

Reaksi China

Juru bicara Departemen Luar Negeri China, Liu Weimin dilansir Kompas (18/11), mengatakan ”Sebaiknya AS mempertimbangkan kekuatan-kekuatan regional lain jika mengembangkan hubungan di Asia. Kepentingan negara-negara lain dan kawasan, perdamaian dan stabilitas kawasan harus menjadi pertimbangan AS saat ingin mengembangkan hubungan antarnegara.”

Jika selama ini kehadiran militer Amerika di Okinawa, Jepang serta Pulau Guam tidak menjadi persoalan bagi Beijing, namun kehadiran Marinir tak jauh dari Laut China Selatan dan juga wilayah China menjadi sesuatu yang mengganggu. Setelah perseteruan dengan Taiwan mereda dengan kehadiran pemerintahan pro Beijing dan rejim yang pro rekonsiliasi di Taipei kini Laut China Selatan menjadi titik penting bagi China.

Mayor Jenderal Angkatan Udara AS Michael Keltz seperti dikutip stasiun berita CNN, 16 November 2011 dan dimuat Antara (18/11) mengatakan Presiden Obama tidak hanya menempatkan pasukan Marinir AS di Australia Utara, tetapi juga telah menyiagakan armada pesawat tempur tercanggih F-22 Raptor dan pesawat transport C-17, untuk mengantisipasi gangguan keamanan bagi kepentingan AS di Asia Pasifik.

Menurut The Sydney Morning Herald, Obama dan Gillard bersepakat menggunakan Robertson Barracks, pangkalan Australia yang telah lama ada di Darwin. Pangkalan itu selama ini menampung sekitar 4.500 tentara Australia. Pangkalan tersebut kemungkinan akan diperluas guna menampung para marinir AS, demikian Antara.

Sejauh ini China tidak memiliki sekutu yang bisa ditempatkan pasukannya di Asia Tenggara. Oleh sebab itu kehadiran Amerika Serikat di Darwin akan meningkatkan kehadiran militer China di Laut China Selatan. Dalam beberapa waktu ke depan setelah Marinir Amerika masuk Australia tampaknya Beijing akan mengambil langkah-langkah militer untuk menunjukkan klaim wilayah laut di Laut China Selatan.

Kini sikap Amerika di Asia Timur dan Tenggara bukan sekedar retorika lagi. Selama ini karena disibukkan dengan Perang di Irak dan Afghanistan, Amerika sebagai negara Pasifik tidak begitu tertarik masuk ke konflik kawasan. Namun dengan nilai penting jalur maritim Laut China Selatan serta kandungan minyak dan gas di dalamnya, Washington mulai menunjukkan taringnya dan kepentingannya termasuk untuk sekutunya. (Asep Setiawan)***

Sumber: http://globalpolitics.asepsetiawan.com/

Posted in Arsip, Asia Tenggara | Tagged , , , | Tinggalkan komentar

Debat tiga paradigma HI

Posted in Arsip, Teori Hub Internasional | Tinggalkan komentar